Orang tuaku sudah menikah sekitar 35 tahunan. Mereka hasil perjodohan dari kakek nenek kami. Tapi, mereka berhasil membina rumah tangga hingga akhir hayat.
Satu hari Bapak ku sakit ringan. Demam. Menyebabkan Beliau tak selera makan. Berhubung Beliau juga ada sakit gula kering, akhirnya berpengaruh ke tubuhnya yang melemah karena kurangnya asupan gula ke dalam darahnya.
Bapak ku hanya 3 hari sakit. Di rawat 2 hari di rumah lalu 1 hari di rumah sakit. Waktu itu bulan Ramadhan.
Pagi waktu sahur, bapak bisa duduk dan minta makan sama mamak yang baru usai sahur. Lalu bercerita kalau bapak mimpi di rumah kami rame banyak orang dan banyak makanan.
pagi sekitar jam 8 lewat bapak berpesan sama mamak kami, "nanti kalau aku gak ada sering-sering baca ayat kursi sama Al-Fatihah ya. Itu biar hatimu tenang"
Mamak kami yang gak ada firasat apa-apa cuma bilang iya. Dan tak lama setelahnya bapak kehilangan kesadaran. Bapak koma sebentar hanya 10 - 15 menit gitu.
Tak lama adik laki-laki ku menelpon kalau bapak udah gak ada. Antara percaya tak percaya. Tapi, aku harus terima kenyataan kalau Allah udah minta bapak untuk kembali ke sisiNya.
Setelah sekitar 2 mingguan bapak meninggal, mamak pergi berbelanja ke pasar. Begitu pulang, mamak curhat sama aku.
"Nur. Tadi waktu mamak ke pasar, jalan mamak kok pincang ya? Kayak jalan di jalanan yang berlobang gitu"
Aku hanya bisa terdiam dan mendengar kan cerita mamak sambil menahan tangis.
'Gimana gak merasa pincang mak? 35 tahun lebih mamak mendampingi bapak. Dan bapak orang yang baik. Setiap kalian berselisih, bapak selalu mengalah pergi beberapa menit untuk menenangkan hati, lalu kembali ke rumah dan kalian bercerita lagi. Bercanda lagi seolah-olah tak terjadi apa-apa', Jawabku dalam hati.
Aku melihat airmata menetes jatuh di wajah mamak. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali memeluknya erat.
Setelah bapak kami meninggal, Mamak merasa hidupnya pincang sebelah. Hatinya terbawa separuh bersama bapak ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Bolak balik mamak di jodohkan keluarganya, mamak tak pernah mau dan menolak. Karena bagi mamak, bapak adalah separuh jiwanya.