Pengeran membawa sepatu kaca untuk menemukan pemilik aslinya. Karena dari saat malam mereka melakukan dansa, pangeran sudah merasa jatuh hati dengan sosok cinderella yang baik, dan anaknya menyenangkan sehingga obrolan mereka nyambung.
Malam itu, karena akhirnya cinderella sadar akan pesan ibu peri sehingga ia terburu-buru lari meninggalkan pangeran seorang diri. Tentu Cinderela takut bahwa sihirnya tiba-tiba hilang dan dia kembali berpenambilan buluk seperti yang ibu peri katakan.
Cinderella lari dengan sangat terburu-buru, sehingga tanpa sadar ia meninggalkan sepatu kaca yang ia pakai. Sang Pangeran pun melihat sepatu kaca itu dan mengambilnya. Ia esok hari akan mencari siapa pemilik sepatu kaca itu dan akan menjadikan wanita itu sebagai pendamping hidupnya.
Ketika tiba di rumah Cinderela kedua sodara tiri Cinderella diizinkan untuk mencoba lebih dulu sepatu itu, dan kini gantian dirinya yang mencoba memakai sepatu itu. Seperti sebuah keajaiban...
Seppp....
Sepatu itu pas di kaki Cinderella, dan saat itu juga pangeran melamar Cinderella, sebagai calon pendamping hidupnya. Namun, sang ibu tiri tidak diam sajah, dia yang iri mengusir pangeran dan merebut sepatu kaca.
Cinderella pun kali ini tidak diam sajah, ia kembali merebut sepatu kaca miliknya dan menghancurkanya. Lalu ia menyelinap kedalam istana untuk menemui pangeran dan ia akan menerima lamaran pangeran. Karena yang berhak menentukan hidupnya adalah dirinya bukan ibu tirinya.
Tentu pangeran bahagia, dan keesokanya pernikahan mereka diumumkan bahwa akan dilangsungkan lusa. Kebahagiaan dirasakan oleh semua warga dan penghuni istana kecuali ibu tiri dan sodara tirinya yang masih tidak terima bahwa Cinderella yang selalau ia hina mendapatkan kebahagiaan.
Hari bahagia itu pun tiba pangeran dan Cinderella tampil sangat serasi. Tampan dan anggun sepasang suami istri yang sangat serasi. Kebahagiaan kini menyelimuti mereka terutama Cinderella, kesebaranya akhirnya membuahkan hasil.