Dulu aku ketemu sama seorang lelaki yang saat itu baik di mataku. Kami menjalin pertemanan yang menjadi sahabat. Masa itu aku tengah kuliah Diploma 1 komputer dan bingung dengan mata pelajarannya.
Aku mencari teman ku itu yang juga mengurus lab Komputer dan menjadi tekhnisi disana. aku belajar mata kuliah yang tidak aku pahami sama dia.
seiring kedekatan kami dan seiring berjalannya waktu, ntah kenapa timbul rasa-rasa manis yang indah.
Satu hari, temanku ini menyampaikan pesan ke tentorku untuk menemuinya ke ruangannya.
Kok aku deg degan ya? Kenapa ini? Setelah mata kuliah, aku berjalan ke ruangan nya di lantai 3.
Sepanjang naik tangga, hatiku dag dig dug serr gak karuan. Ada apa sich dengan hatiku?
Sampai depan pintu ruangannya, aku ketuk pelan dan mengucap salam.
"Masuk" Ujar temanku ini dari dalam.
"Eh, iya bang" kok agak grogi ih jawabanku.
"Udah kelar Kuliahnya?" Kepalanya pun nongol dari balik pintu sebelum aku masuk.
"Eee iya bang udah. Kata kak J abang nyuruh aku ke ruangan abang? Maaf. Ada apa ya bang?" Tanyaku agak ragu.
"Oh iya. ada yang mau abang omongin sama adek"
" Eeeh. Mau ngomong apa bang? Kok kayaknya penting?" ujarku setengah heran.
"Iya. Penting banget malah. Tapi, masuk dulu lah.
masak ngomong depan pintu sich?" Temanku menarik tangan ku masuk ke dalam ruangannya yang penuh buku dan beberapa lemari kecil tempat perkakas lab nya.
Aku pun masuk dan bingung menuruti ajakan temanku ini.
"Ada apa sich bang? Kan biasanya kita ngobrol di lab. Kok tiba- tiba abang ngajak di ruangan abang berdua gini? Emang mau ngomong apa sich?" Cecarku
"Emm. Gimana ya mau mulainya?" Dengan suara sedikit lirih dan wajah yang memerah temanku itu berusaha memilih kata.
"Iiih... Ada apa sich? Jangan buat orang penasara...."
"Mau nggak adek jadi pacar abang? Dari awal jumpa, sebenarnya abang udah ada rasa sama adek. Tapi, adek slalu cerita suka sama orang lain yang jadi teman abang di lab. Sekarang abang ada keberanian ngungkapin isi hati abang sebelum adek di tembak orang lain. Sekarang abang nembak adek duluan" ujar temanku cepat, sebelum aku sempat menyelesaikan ucapanku.
Dalam keadaan terdiam, berusaha mencerna perkataan temanku tadi, aku menatap tak percaya. Teman belajar, teman tempat bertanya, teman main game, teman curhat malah ada rasa sama aku???
Apa ini mimpi?
"Maaf. Aku takut kamu di tembak sama yang lain dan aku sudah tak bisa menahan rasa suka ku sama mu. Tapi, kalau kamu tolak kita masih bisa temenan kan?" Belum selesai kagetku, temanku ini menyambung lagi perkataannya.
"Emmm bang! Boleh kasih aku waktu 1 minggu untuk berpikir? Aku masih belum bisa jawab sekarang. Please!" Pintaku segera.
Temanku pun terdiam sejenak sebelum mengiyakan.
"Jangan 1 minggu ya! 3 hari. Abang kasih kamu berpikir 3 hari. Abang gak bisa tidur lama mikir jawaban kamu ntar".
"Abang mau nembak kamu udah mikir 1 bulanan ini. Kurang tidur."
"Soalnya adek slalu curhat tentang lelaki yang adek sukai. Abang kira, perasaan abang ini hanya sekedar temen. Tapi, beberapa waktu kita dekat, hati abang merasa nyaman saat sama adek. Terus merasa rindu. Tiap malam sengaja abang gak pulang walau jam kerja abang dah kelar. Karena abang pengen ketemu adek."
Aku hanya terdiam mendengar isi hati TTM ku ini.
"Abang kasih adik waktu 3 hari. Tolong terima perasaan abang"
"3 hari dari sekarang, abang tunggu lagi adek di ruangan abang"
Beh! Jadi bingung nih. Tapi, emang kebersamaan kami aneh! Aku merasa nyaman saat curhat sama temenku ini. Merasa di lindungi. Merasa hangat. Tapi... Saat itu, aku sering curhat kalau aku suka sama temannya.
"Oya, abang udah cerita sama bang In kalau kamu ada hati sama dia. Tapi, kata bang In dia gak ada rasa sama kamu. Jadi, bang In bilang, 'kalau mau kamu tembak ya silahkan! apalagi kamu ada hati sama si Sir. Aku gak marah kok Doy. Dia cantik. Tapi, bukan seperti dia tipeku.' gitu katanya. Jadi, aku berani tembak kamu sekarang dengan banyak pertimbangan perasaan ku" Temanku menjelaskan detail kenapa akhirnya dia berani menembak ku sementara aku suka sama temannya.
Aku terdiam dan malu membayangkan curhatanku selama ini di bocorkan sama orang yang aku suka, ntar gimana aku mau berekspresi kalau ketemu bang In itu?
Aakh! Bingung.
"Dek. Maaf. Abang lancang ceritain perasaan kamu sama orang yang kamu suka. Tapi..."
"Abang buat malu aku. Ntar gimana aku kalau ketemu sama bang In?" Potongku dengan wajah cemberut dan mulut maju seperti Suneo.
Temanku tersenyum gemas melihat ekspresiku dan mencubit ujung hidungku seperti biasa ketika kami bercanda di lab.
Entah kenapa hatiku pun mulai berdesir dengan kelakuannya itu.
"Emmm, ya udah ah. Aku pulang. Udah malam. Ntar aku gak dapat angkot" Seru ku dengan suara aneh karena suasana yang tiba-tiba romantis.
Mungkin wajahku memerah.
"Eeh, abang antar aja ya." Pintanya
Aku pun terdiam dan menatap wajah TTM ku itu.
"Tapi, jalan kita pulang kan gak se arah bang. Ntar abang kemaleman gara-gara ngantar aku balik. Ntar di cariin sama mamak abang gimana? Rumah kita kan jaraknya jauh." Gak pengen nolak tawarannya, tapi memikirkan kondisinya pulang kejauhan setelah mengantar ku pulang.
"Abang laki-laki dek. Lagian kan abang pake sepede motor. jalanan malam kan gak rame kayak siang. Bisa lah ngebut pulangnya." TTM ku memberiku alasan agar bisa mengantarku pulang.
Tanpa basa basi, dia pun menarik tanganku turun ke bawah mau mengantarku pulang. Ternyata di lantai 2 masih ada beberapa orang yang belum pulang dan melihat tanganku di tarik TTM ku. Serentak mereka tersenyum dan menggoda kami.
"Cieee. Bang Doy! Sir! Udah jadian ya!!! PJ dong. PJ" Seruan mereka membuatku tersipu malu. Terus aku tarik tanganku cepat-cepat. Dan menuruni tangga dengan langkah yang lebar. Aku lupa pake rok dan hampir terjatuh. Untung TTM ku ini sigap menangkap kembali tanganku, sehingga tubuhku kembali seimbang.
"Hati-hati dek!" Wajah khawatirnya terlihat.
"Aduuuh. Romantisnya si Doy" Seru salah seorang yang duduk di lantai 2.
TTM ku hanya tersenyum manis. Sementara aku tertunduk malu dengan godaan staf-staf kampusku.
"Doakan ya woi. Mudah-mudahan Sir terima aku. Besok aku tembak lagi dia. Tadi belum di jawabnya. Masih gantung statusku" Ujar TTM ku dengan senyum mautnya sambil menatap ke arahku lembut.
"Apa!!! Aamiin." serentak mereka terkejut dan mengaamiinkan ucapan bang Doy.
"Ah. Kirain dah jadian kalian. Batal lah PJ nya" ucap salah satu staf di disitu.
"Ntar pura-pura kalian Doy, biar gak di minta PJ" Ucap staf yang lain lagi.
Aku pun tersenyum dan pamit pergi pulang sebelum makin di cecar berbagai pertanyaan sama staf-staf dan beberapa temanku yang masih duduk santai di lantai 2.
.
.
.
3 Hari berlalu...
"Dek Sir. Ntar keluar kelas di panggil bang Doy ke ruangannya" Ujar kakak Waliku yang mengurus kelas malam kami.
"Ooowh. Iya kak. Dimana bang Doy?" Tanyaku
"Sana di ruangannya lantai 3" Sambil menunjuk ke atas lantai 3.
"Iya kak. Makasih"
'Aduuuh. Kenapa lagi ini di panggil sama bang Doy. udah berapa hari ini aku menghindar dari dia sich emang. Apa dia marah ya sama aku?' Tanya ku dalam hati.
Aku pun berlalu dan naik ke lantai 3 menemui TTM ku. Aku lupa kalau hari itu adalah hari aku harus menjawab 'tembak' an temanku itu.
Begitu aku naik ke atas, di pertengahan tangga aku bertemu dengan TTM ku itu. Aku pun merasa malu dan ingin kembali turun ke bawah. Tapi, begitu aku berbalik hendak turun, temanku itu menarik tanganku segera.
"Mau kemana dek?" Sambil menahan tanganku.
"Eee, Abang! Aku... Aku... "
"Mau menghindar terus dari abang? Ayo naik!" Perintahnya sambil menarik tanganku untuk mengikutinya.
Aku pun hanya bisa ikut pasrah di belakangnya. Karena pegangan tangannya sangat kuat.
"Kenapa adek menghindar dari abang beberapa hari ini?" Tanya nya setelah kami di ruangannya yang kecil.
"Eee... Mana ada. Aku banyak tugas. Jadi mungkin aku agak sibuk. Jadi kesannya kayak menghindar" Jawabanku konyol. Temanku kan staff di kampus, dan yang cek tugas-tugas kami kan dia.
"Haduuuh. Kalau kasih alasan yang bener lah dek. Abang kan yang buat jadwal di setiap kelas" Temanku itu pun tepok jidat.
"Eeeh..." Lha jadi gugup aku melihat wajah temanku yang menatap tajam dan mengunciku duduk di kursi.
"Ada apa sich dek? Abang ada salah? Biasa adek curhat sama abang. Kok belakàngan adek menghindar setelah abang tembak tempo hari?
"Ngomong dong dek. Biar abang tau apa salah abang sama adek." Tanpa jeda temanku memberondong pertanyaan padaku.
Aku menunduk malu dengan wajah memerah. Dan lama aku agak terdiam. Lalu dengan suara lirih aku cuma berhasil bilang,
"Eeem... Em..."
"Kenapa sich dek? Dari tadi am em melulu."
"Aku malu bang" Semakin dalam wajahku tertunduk dengan rona wajah memerah.
Temanku hanya terdiam dan paham keadaanku. Lalu dia tarik nafas panjang dan mulai bertanya lagi padaku.
"Jadi... Ini sudah hari ke 3. Gimana jawabanmu dek setelah abang tembak tempo hari. Udah bisa kasih jawaban kan?"
"Aku... Aku... Aku..."
Pelan daguku di pegangnya dan di angkatnya ke atas. Mata kami bersirobok. Dan TTM ku ini menatap ke dalam bola mataku dengan lembut seperti mencari jawaban 'Iya aku mau jadi pacar abang' gitu. Tapi, aku malah semakin malu dan membuang wajahku ke sebelah kanan.
"Dek. Abang gak tipe untuk jadi pacarmu ya?" Tanya nya dengan suara berubah agak serak. Seperti menahan kecewa.
"Nggak. Bukan gitu. Aku... eeem... Aku... Aduh gimana ya mau ngomongnya. Aku gugup tau bang." seru ku salah tingkah.
"Jadi...? Jawabanmu" Selidiknya lagi.
Aku terdiam lagi sejenak.
"Dek. Mau gak jadi pacarku?" Tanya TTM ku ini lagi mengulangi pertanyaan 3 hari lalu.
Aku menunduk pelan tapi pasti aku mengangguk kan kepala, sambil berucap lirih,
"Iya. Mau."
Doi pun terdiam dan meminta ulang padaku untuk bicara lagi kepastian pendengarannya tak salah mendengar jawabanku.
"Iya. Aku mau jadi pacar abang", Ulangku lirih.
"Adek mau jadi pacar abang?" Tanya lagi
"Iya" Sambil aku mencuri menatap wajahnya.
"Benerkan mau?"
Aku mengangguk pelan sambil tersenyum.
Dengan reflek Doi yang jadi pacarku menggenggam tanganku sambil terus tersenyum menatapku.
Akhirnya hubungan teman mesra menjadi pacar.
Kami berpacaran selama beberapa tahun. Tapi, kami tidak di pertemukan di pelaminan. Sekarang mantan sudah bertemu dengan yang lain. Begitu pun saya.