Sudah tiga tahun Juna tak pernah membuka lagi buku pelajarannya. Bukan karena tak memiliki niat, namun konsentrasinya terfokus kepada tujuan untuk menyatakan cinta kepada salah seorang perempuan tersohor di sekolahnya. Dialah Klara, yang menurut rencana sistematisnya, akan mengetahui rasa cintanya di hari ini juga.
Juna telah menyiapkan kertas HVS bertuliskan sepuluh baris kalimat penyusun ungkapan cintanya kepada Klara. Kalimat itu disusun menggunakan tulisan tegak bersambung yang super rapi, dengan jarak antar katanya mencapai satu centimeter. Sebegitu perfeksionis Juna, selaras dengan optimismenya kalau rasa cintanya bakal berbalas.
Sekalipun persiapan suratnya sudah, namun rasanya kurang afdol bila Juna tidak menanyakan saran terakhir kepada sahabatnya, Bong yang turut berperan sebagai sutradara dan penulis naskah surat cinta itu.
" Bong, kalau aku kasih suratnya sekarang, oke nggak menurutmu ? " tanya Juna dengan senyum lebar, berharap kalau Bong akan mengiyakan.
" Kayaknya enggak. " Raut wajah Juna seketika berubah, terheran heran dengan ucapan Bong itu. " Malah seharusnya, kau pakai chat aja. Surat-suratan udah nggak jaman lagi. Kuno ! "
" Tapi, kan kau yang menyarankan begini, Bong. Kok sekarang beda, sih ? " Juna mengerutkan kening, mulai bingung karena sahabatnya yang tidak konsisten.
" Ya, zaman sekarang kan mudah berubah ubah. Hari ini gitu, besok lain lagi. Adaptasi dong, Bro, " ucap Bong dengan gaya metal sok gaul dan trendi.
" Iya, iya.. " Juna mengangguk malas. " Ya udah, sekarang kau punya nomor WA si Klara, nggak ? "
" Nggak ada. " Melihat gelengan kepala Bong, wajah Juna terlihat semakin masam. Ia sebal sekaligus kesal karena sahabatnya itu tak bisa diandalkan untuk situasi super penting seperti ini.
" Eh, tapi jangan bete dulu. Mendingan, kau DM dia aja lewat Instagram. Semua orang pasti punya Instagram, nggak mungkin orang sekece dia nggak punya. " Lampu bohlam mendadak muncul di atas kepala Juna, memberikan pencerahan kepadanya di tengah rasa putus asa. Juna pun buru buru mengambil handphonenya, mendownload Instagram, menunggu sejenak hingga aplikasi itu muncul di layarnya, lalu membukanya.
Tapi saat aplikasi itu dibuka, Juna baru sadar kalau ia tak punya akun Instagram. Ia pun harus membuat akun Instagram lebih dulu dengan bantuan Bong, barulah ia bisa mengetikkan nama lengkap sang pujaan hati, Klara Anindita Sari Wangi di kolom pencarian akun.
Boom !
Muncul seratus lebih akun bernama Klara Anindita Sari Wangi. Juna yang begitu katrok, ditambah Bong yang berlagak sok tahu, membuat keduanya terjebak dalam situasi gagal paham akan Instagram. Juna pun mengirimkan pesan kepada setiap akun hingga muncul pemberitahuan bahwa kuota internetnya habis. Sialnya lagi, bel masuk pun berbunyi.
~~~
Kehabisan kuota internet, membuat Juna harus membeli voucher internet di counter handphone yang berada di samping sekolahnya. Sebenarnya, ia tak suka membeli barang apapun di counter itu karena harganya yang mahal dan semaunya. Tapi karena sudah kepepet, ia pun terpaksa untuk melawan ketidaksukaannya itu.
" Bang, voucher Four satu giga, satu minggu, " ucap Juna sambil menunjuk salah satu voucher yang terpajang di etalase counter. Pegawai yang melayaninya terkekeh saat memberikan voucher itu kepada Juna. " Mau untuk apa satu giga satu minggu, Dek ? Main game aja, sejam abis tuh satu giga. "
Juna tersenyum kecut. Ia tak suka disindir apalagi kalau sesuai dengan kenyataan. Namun bila sudah takdir, bagaimana ia bisa melawannya ?
" Bang, beli pulsa lima puluh ribu, ya. " Tiba tiba, terdengar suara yang begitu merdu didekatnya. Juna pun dengan gerakan patah patah, melirik ke sebelah kirinya yang ternyata adalah sang pemikat hatinya, Klara.
" Kla.. kla.. ra ? "
" Juna ? Ada apa ? " Klara menatapnya dengan heran plus setengah khawatir karena keadaannya saat ini tak seperti orang pada umumnya.
" Hei, Dek. Bayar dulu voucher satu giganya. " Juna terbelalak, panik, sekaligus malu mendengar suara sang pemilik counter. Ketidaksukaannya terhadap counter itu langsung meningkat dua ratus persen hingga perasaan ingin membakar counter itu sekarang juga amat bergejolak di dalam hatinya.
Namun karena membakar counter itu termasuk tindakan kriminal, maka lebih baik Juna membalasnya dengan cara yang lebih elegan. Cara terhormat sekaligus menunjukkan bahwa dia bukan orang yang seperti dipikirkan sang pemilik counter. " Klara, aku bayarin juga pulsa kamu, ya. "
Klara mengerutkan keningnya, seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya. " Kamu serius ? Mau bayarin pulsaku ? "
" Iya. " Suara bariton yang dikeluarkan oleh Juna terdengar menggoda. " Tapi, izinkan aku yang menuliskan nomor kamu. " Tatapannya kepada Klara begitu memesona, menaikkan level ketampanannya menjadi seratus persen.
" Ouh, boleh. Nomor aku 089999999999. " Juna segera menuliskan nomor itu di buku nomor pulsa, lalu mengetikannya juga di handphonenya. Setelah itu, ia pun mengeluarkan enam lembar sepuluh ribu dan meletakkannya dengan gaya di atas etalase counter tersebut. " Ambil aja kembaliannya. "
" Heh, emang duitnya pas, kok, " ucap sang penjaga counter sambil berseru kepada Juna dan Klara yang kini sudah berjalan berduaan saja.
" Ehm, Klara. " Klara mengangkat kepalanya, menatap Juna sambil mengibaskan rambutnya yang tergerai oleh angin. Juna yang melihat itu pun langsung gugup, dan akhirnya hanya bisa tergagap-gagap melihat kecantikan Klara yang meluluhkan hatinya.
" Kamu mau ngomong apa, Jun ? " tanya Klara dengan suara yang begitu lembut, membuat Juna yang mendengarnya cepat cepat menggelengkan kepalanya karena tak tahu harus berkata apa. " Aku tadi chat kamu. Coba dilihat, deh. "
Klara mengalihkan pandangannya dari Juna kepada layar handphonenya yang kini membuka aplikasi WhatsApp. Ia memilih kontak paling atas tanpa nama, hanya nomor telepon saja yang diyakininya sebagai kontak milik Juna. " Ini nomor kamu kan, Jun, " katanya sambil menunjukkan isi layar handphonenya kepada Juna.
" Iya.. " jawab Juna dengan terbata-bata seperti anak paud yang masih belajar membaca.
Klara pun membaca isi chat itu, mulai tersenyum senyum hingga membuat Juna penasaran dengan tanggapannya. Setelah menunggu beberapa lama, Juna pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Klara, " Jadi gimana ? Kamu mau, kan ? "
" Ehm, oke, deh, " jawab Klara dengan nada santai, sementara Juna melongo mendengarnya. " Kamu serius kan, Klara ? "
" Serius, Jun. " Klara memegangi kedua bahu Juna hingga membuat roh Juna serasa melayang ke angkasa lepas. Juna benar benar bahagia mendengarnya, sementara bila anda mendengar suara hati Klara, maka anda akan mendengar, " Lumayan, internet sama pulsa gratis nih. "
~~~