Aku cantik, juga menarik.
Banyak yang terpikat dan jatuh hati.
Aku selalu dikelilingi orang-orang yang menatapku dengan takjub.
Tapi... kenapa hanya dia yang tak menatapku?
Dia selalu acuh dan sikapnya juga begitu dingin.
Dia tak begitu tertarik pada perempuan, tapi kabarnya dia sangat perhatian pada adik perempuannya.
Aku juga ingin diperhatikan begitu olehnya, karena... aku menyukainya.
Tapi, sepertinya itu nggak akan mungkin deh.
"Hm... Lagi-lagi Mia menatap Arya, ya...? Kamu benar-benar suka padanya?" goda salah satu teman Mia.
"Nggak kok. M-mana mungkin aku suka padanya." ucap Mia mengelak, tapi wajahnya merah merona.
"Iya, iya... " sahut teman-temannya terkekeh melihat wajah Mia yang memerah.
"Eh, eh, lihat. Itu Pak Jaka!" teriak teman-temannya Mia takjub melihat dosen ganteng mereka.
Mia diseret oleh teman-temannya untuk bisa melihat Pak Jaka dengan lebih dekat lagi di halaman kampus. Tapi, Mia terlihat biasa-biasa saja menanggapinya.
"Tapi, kenapa Pak Jaka terlihat aneh, ya?" tanya Mia heran melihat tingkah Pak Jaka yang tak biasanya.
"Yang penting ganteng." celetuk teman-temannya senang.
Dosen yang terkenal ramah dan murah senyum itu sekarang memperlihatkan ekspresi wajah yang begitu serius dan tak bersahabat. Pak Jaka terlihat mengangkat dan merentangkan tangannya perlahan-lahan.
"Oh, tidak!? Kenapa ini? Kumohon jangan sekarang!" batin Mia kaget dan panik, memegangi perutnya.
"Kumohon jangan seka... "
DUUUT...!!!
Orang-orang kampus termasuk teman-temannya Mia yang tadinya heboh dan ribut memperhatikan Pak Jaka, seketika terdiam dan berbalik terbengong-bengong menatap Mia yang sudah mematung malu.
"Ih, Mia kentut." ucap teman-teman Mia menjauh sambil menutup hidung dan mengibas-ngibaskan tangan mereka. Begitu pula yang lainnya, bahkan sampai ada yang tertawa mengejek dan bahkan jijik melihat Mia.
"Cantik-cantik tapi kentutnya nyaring banget. Huahahaha.... "
"Iuh, ya ampun... bau banget."
"Ada asap hijaunya lagi waktu dia kentut. Hiii..."
"Hiks, habis sudah..." batin Mia pasrah, wajahnya tertunduk dan badannya gemetaran saking malunya.
Lalu semenjak kejadian itu, hidupku seketika langsung berubah drastis.
Yang dulunya aku banyak teman dan banyak yang memujiku, sekarang mereka malah menjauh, mengejek dan tak henti-hentinya menggunjingkan diriku.
Hiks, memang apa salahnya kalau kentut? Walaupun salah karena tak mengenal tempat, tapi bukankah hal itu wajar. Karena manusia tak boleh menahan gas terlalu lama didalam tubuhnya, kalau ditahan yang ada hanya akan menimbulkan masalah atau bahkan penyakit kan.
Tapi anehnya, kentutku ini berbeda dari kentut pada umumnya.
Aku tak tahu bagaimana cara menjelaskannya, yang pasti bukan seperti kentut pada biasanya.
Nyaring, bau dan sedikit mengeluarkan asap hijau (sebagai penambah nilai minus dan jijiknya lagi, hiks).
Mungkinkah kentutku ini beracun? Tapi, selama ini tak ada kasus orang yang keracunan oleh kentutku, paling hanya mengeluh karena bau.
Dan hal itu sudah menjadi aib bagiku yang selama ini selalu kusimpan rapat-rapat sejak dulu.
Tapi, ternyata kejadian memalukan ini terjadi lagi.
Dan parahnya lagi, Arya, orang yang kusukai juga malah melihat kejadian itu. Hiks, dia pasti juga jijik melihatku seperti yang lainnya.
"Tidak...!!! Aku mau tenggelam ke laut aja saking malunya...!!!" teriak Mia histeris memukul-mukul bantal gulingnya.
Tring!
Ada pesan masuk ke handphone Mia.
[Mia, ini aku Arya. Ada yang mau aku omongin sama kamu. Bisa kita ketemuan hari ini di xx?]
"Hah? Kyaaa.... pesan dari Arya! Tapi, tunggu, gimana dia bisa tahu nomorku? Terus, mau apa dia ngajak aku ketemuan, ya?" kaget Mia tak percaya sekaligus senang.
"Tau ah, yang penting aku bisa ketemuan dengannya. Kyaaa...!!!" teriak Mia kegirangan dan langsung mengacak-acak lemari bajunya dan berdandan secantik mungkin karena akan bertemu dengan sang pujaan hatinya.
Miapun sudah sampai ke tempat yang dijanjikan, saat ini jantungnnya sudah berdebar-debar tak karuan.
"Tapi... kalau dipikir-pikir, kenapa Arya mau ketemu sama aku, ya? Kalau mengingat kejadian waktu itu, seharusnya dia jijik padaku. Teman-temanku saja pada menghindar dan nggak mau lagi berteman denganku. Kenapa, ya?" batin Mia tersadar dan berpikir.
"Mia, baguslah kamu sudah datang." ucap Arya menyambut Mia, terlihat ada seorang perempuan yang sangat muda dari Mia berdiri disamping Arya.
"Kenalkan, ini adikku, Kiara." ucap Arya, menyadari maksud Mia yang melirik kearah adiknya begitu lekat.
Mia langsung menyapa Kiara, Kiara hanya mengangguk diam menyahutinya.
"Kiara imut banget, tapi sayang ekspresi wajahnya lebih datar dari kakaknya." batin Mia.
"Karena kita sudah bertemu, ayo kita pergi." ajak Arya pada Mia.
"Hah? Kita mau pergi kemana?" ucap Mia bingung tapi menurut saja.
"Nanti akan kami beritahu." ucap Arya, memacu mobilnya setelah mereka sudah masuk mobil.
"I-ini kita dimana, ya?" tanya Mia takut-takut melihat sekelilingnya. Saat sampai, ternyata tempat yang mereka tuju begitu sepi dan tak terlihat ada siapa-siapa disana.
"Ini markas kami." Kiara akhirnya mengeluarkan suaranya.
"M-markas? Markas apa?" tanya Mia semakin ketakutan.
"Aloha! Selamat datang, gadis sigung. Kami sudah menunggu kedatanganmu." sambut seorang pria dengan tersenyum menyebalkan menyambut kedatangan mereka bertiga. Terlihat ada seorang wanita berhijab yang sedang hamil besar berdiri disamping pria itu.
"S-sigung? Apa maksudnya?" tanya Mia bingung sekaligus kesal.
"Loh? Jadi, kamu nggak tahu dengan kekuatanmu sendiri?" tanya Arya kaget.
"Kekuatan apa?" tanya balik Mia.
Awaken.
Sebagian manusia pasti memiliki suatu kekuatan didalam dirinya. Dan kekuatan itu disebut dengan awaken. Begitulah Arya menjelaskannya kepadaku (entah kenapa terasa seperti cerita film atau komik saja).
Tapi, katanya hanya orang tertentu saja yang memiliki kekuatan tersebut. Dan kekuatan setiap orang juga berbeda-beda.
Sekarang, aku baru mengetahui kalau ternyata aku memiliki kekuatan awaken juga. Dan kekuatan yang kumiliki adalah kentut, eh, sigung (seperti itu lebih baik).
Setelah diselidiki, ternyata kekuatanku bisa muncul karena mendeteksi adanya kekuatan awaken dari orang lain dalam jarak tertentu dan menandai kekuatan orang lain itu sebagai sinyal bahaya dan tubuhku secara otomatis akan langsung mengeluarkan kekuatanku dengan sendirinya. Dan awakener yang terkena kekuatanku akan langsung kehilangan kekuatannya dalam beberapa hari.
Seperti halnya sigung, yang saat dalam bahaya akan langsung menyemprotkan 'senjata baunya' pada musuh yang merupakan ancaman baginya.
Usut punya usut, Pak Jaka, dosen kami ternyata seorang awakener juga. Penjahat berkedok dosen. Dia berniat ingin menyerang orang-orang kampus dengan menggunakan kekuatannya. Tapi tidak berhasil, karena terkena kekuatanku dan kabarnya kekuatan Pak Jaka menghilang tapi hanya sementara.
"Huahahaha... Gadis cantik tapi kekuatan awakennya kentut." ledek Roy, si pria menyebalkan yang menyambut kami tadi, tertawa terbahak-bahak.
"Sayang, hentikan. Jangan mengejeknya terus." tegur Aminah, wanita berhijab yang sedang hamil yang ternyata istrinya Roy. Roy menghentikan tawanya, menuruti perkataan istrinya itu.
"Hiiih...! Ingin sekali aku pakai kekuatanku biar dia nggak bisa ketawa lagi karena kehilangan kekuatannya." batin Mia geregetan dengan sikap Roy padanya.
"Jadi, bagaimana keputusanmu, Mia?" tanya Arya tiba-tiba.
"Baiklah, aku akan ikut bergabung dengan kalian." sahut Mia yakin.
Inilah alasan kenapa Arya membawaku ke markas mereka, yaitu untuk merekrutku untuk menjadi anggota mereka. Akupun langsung mengiyakan karena aku juga ingin mengetahui lebih lanjut kekuatan yang kumiliki dengan bantuan dari mereka.
Dan dimulailah hari-hari pelatihan kekuatan awakenku.
***
"Hhh... Kalau begini, aku jadi malas pergi ke kampus lagi besok... " ucap Mia lesu.
Mengingat seisi kampus yang selalu mengejek dan menertawakanku, aku sampai tak bisa mengangkat wajahku lagi seperti dulu.
Lama-lama aku bisa tak tahan juga, tapi karena ada Arya, aku masih bisa bertahan. Berkat aib, eh, kekuatanku ini, aku malah jadi bisa dekat dengan Arya.
Kalau seandainya orang-orang kampus tahu kalau kekuatanku ini bisa membuat awakener lain ketar-ketir tak berdaya, pandangan teman-temanku pasti akan berbeda. Tapi sayang, kami harus merahasiakan semuanya dari manusia biasa.
Dan masalah besarnya lagi, karena kekuatanku yang tak pandang bulu dan tak mengenal siapa saja, baik orang itu baik atau jahat, tetap akan kena juga oleh kekuatanku. Karenanya aku bisa menjadi musuh bagi semua awakener lainnya.
Karena itulah mengapa Arya mengajakku bergabung menjadi anggotanya sekaligus melindungiku, karena ditakutkan apabila ada seseorang menyerangku tanpa menggunakan kekuatannya maka aku akan dalam bahaya.
"Untung Pak Jaka nggak datang ke kampus beberapa hari ini." ucap Mia senang.
Deg!
"Gawat! K-kenapa Pak Jaka malah ada disitu?" batin Mia panik. Saat pulang dari kampus, ditengah perjalanannya dia malah melihat Pak Jaka yang sedang mengawasinya dengan tatapan menyeramkan.
"Apa mungkin kekuatan Pak Jaka sudah pulih? Kalau iya, bisa gawat kalau Pak Jaka menyerangku tanpa menggunakan kekuatannya. Aku kan nggak bisa bela diri." batin Mia panik.
Tanpa pikir panjang lagi, Mia langsung berlari sekuat tenaga dan tak tentu arah. Sampai Mia menghentikan larinya didepan bangunan tua terbengkalai yang sunyi.
"Haduh... Aku nggak kuat lari lagi... Eh? Kenapa aku malah lari kesini?" kaget Mia melihat sekelilingnya.
"Kekuatan yang kamu miliki itu sungguh mengganggu. Kamu harus dimusnahkan." ucap Pak Jaka dingin.
"Gimana ini...?" batin Mia ketakutan.
Brrrmmm.... Ckiiiit...!!!
Diwaktu bersamaan, sebuah moge datang yang ternyata adalah Arya dan Kiara.
"Bagaimana kalian bisa tahu aku ada disini?" tanya Mia senang.
"Roy bisa melacak keberadaanmu dari burung elang yang dikendalikannya itu." sahut Arya, menunjuk seekor elang yang terbang diatas mereka.
"Terus, dimana dia sekarang?" tanya Mia agak kesal.
"Oh, maaf. Aminah mengalami kontraksi, jadi Roy menemaninya di rumah sakit." sahut Arya apa adanya.
"Kalian terlalu banyak omong." ucap Pak Jaka kesal.
"Maaf, membuat Anda menunggu, pak." ledek Arya.
"Kiara, lakukan seperti yang sudah direncanakan." bisik Arya. Kiara mengangguk patuh.
"Ayo, kak. Kita harus pergi dari sini." ucap Kiara sambil menarik tangan Mia. Mia menurut saja.
"Padahal kamu juga tahu kalau kekuatannya itu sangat berbahaya. Kenapa kamu malah melindunginya?" tanya Pak Jaka heran.
"Kekuatannya memang berbahaya, tapi dia orang yang baik. Tidak seperti bapak yang ingin menyerang orang tak bersalah tanpa alasan yang jelas." cibir Arya.
Pertarungan sengitpun langsung tak terelakkan.
"Dosen itu pasti akan menyerang tanpa menggunakan kekuatannya, jadi Kak Jaka berencana akan menggunakan kekuatannya untuk memancing dosen itu sampai mau tak mau mengeluarkan kekuatannya juga. Karena itulah Kak Mia harus dijauhkan dulu dari mereka sampai waktu yang tepat bagi kakak untuk menyerang juga." ucap Kiara menjelaskan pada Mia yang masih bingung.
Mia dan Kiara hanya bisa melihat pertarungan sengit itu dari kejauhan. Pak Jaka terlihat kewalahan menghadapi Arya yang menggunakan kekuatannya. Karena kesal, Pak Jaka akhirnya mengeluarkan kekuatannya.
"Bagus!" batin Arya senang.
Tapi tak sesuai yang diperkirakan, Pak Jaka malah mengamuk dan membuat sekelilingnya terbakar karena kekuatan awakennya. Sekarang malah Arya yang kewalahan karena suhu panas yang mengenai tubuhnya.
"Mia, sekarang!" teriak Arya, memerintah Mia untuk mendekati mereka.
Pak Jaka yang menyadari kalau dirinya dijebak, ingin menghindar tapi Arya yang mengetahuinya malah jadi terus-terusan menyerangnya untuk tak kabur dan tetap mengeluarkan kekuatannya.
Disaat itulah Mia sudah dekat dengan jarak mereka, lalu...
DUUUUT....!!!
Walaupun malu, Mia akhirnya bisa mengeluarkan kekuatannya juga dengan keren dan percaya diri
"Berhasil." sorak Mia kegirangan melihat Pak Jaka tumbang (pingsan) karena terkena kekuatannya.
"Aaaa... Arya!?" teriak Mia panik melihat Arya yang ikut-ikutan tumbang juga.
"Kiara... Tolong... Bagaimana ini?" teriak Mia panik dan bingung.
"Eh? Kamu siapa?" tanya Mia kaget melihat seseorang yang memakai masker diseluruh wajahnya mendekati Mia.
"Ini aku Kiara, kak." sahut Kiara santai.
"Aku tahu kalau kentutku, eh, kekuatanku ini agak berbahaya. Tapi nggak begitu juga dong." ucap Mia agak tersinggung melihat masker Kiara.
"Maaf, buat jaga-jaga aja kok." ucap Kiara merasa tak salah.
Setelah kejadian itu, Pak Jaka ditahan oleh pusat asosiasi yang menangani dan menaungi para awakener di kota ini.
Lalu beberapa hari kemudian, di rumah sakit...
"Gimana keadaanmu sekarang, Arya?" tanya Mia agak khawatir.
"Aku sudah agak mendingan." sahut Arya.
Sudah beberapa hari Arya dirawat di rumah sakit karena pengaruh kekuatan awaken Mia dan sekarang kekuatannya sudah mulai pulih.
"Huh! Memang nggak diragukan lagi, kekuatanmu memang sangat berbahaya." ucap Roy cemberut tak suka.
"Maaf, ya. Kamu malah jadi kena kekuatanku juga." ucap Mia masih merasa bersalah.
"Nggak papa. Yang penting Pak Jaka sudah ditahan dan lagian itu kan aku juga yang merencanakannya. Jadi, seharusnya aku yang meminta maaf padamu." ucap Arya tersenyum.
"Melihatmu tersenyum begitu, aku jadi makin merasa bersalah." batin Mia.
"Maaf ya, Mia. Bukannya mau menakut-nakuti kamu, setelah kejadian ini tersebar, hidupmu kemungkinan nggak akan seperti dulu lagi. Mm... maksudku... " Aminah bingung melanjutkan kata-katanya.
"Kakak akan jadi musuh bagi semua awakener dan hidup kakak akan nggak tenang karena menjadi target awakener lainnya." Kiara yang melanjutkan.
"Iya, aku tahu. Aku nggak papa kok. Lagipula aku juga nggak mungkin menyembunyikan semua ini selamanya bukan?" ucap Mia mencoba tersenyum. Mereka terdiam sendu menatap Mia.
"Jangan khawatir, kami pasti akan melindungimu." ucap Arya.
"Ya, tentu saja. Dengan perlindungan dari kalian dan kekuatanku, aku pasti akan baik-baik saja. Ahahaha.... " sahut Mia percaya diri.
"Menyebalkan, aku nggak suka tawanya." ucap Roy cemberut melihat Mia.
Arya, Aminah dan Kiara geleng-geleng kepala mendengar kekesalan Roy pada Mia.
Lalu, setelah itu petualanganku yang berdebar dan menegangkanpun dimulai. Banyak awakener lain yang bermunculan karena berita tentangku sudah tersebar luas. Tapi, aku sudah sangat siap menghadapinya bersama Arya dan yang lainnya.
"Kalau begitu, ayo kita maju... "