aku, aku bukanlah seorang yang paham asmara. Aku buta tentang asmara.
Entah kenapa semua menikmati asmara.
ini salah ku atau salah asmara yang tak pernah hinggap di hati?
oh Tuhan aku bagaikan pohon pisang, berjantung tapi tak berhati.
hingga ku kenang kembali nama seseorang yang sudah terpatri di hati.
Aku selalu memanggilnya dengan sebutan idiot. kami menjalin persahabatan sejak menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama.
aku yang tampak seperti laki-laki selalu membuatnya nyaman berada di dekat ku, aku pun demikian. Hari ini kami putuskan untuk ke rumahnya, di rumahnya ada beberapa alat musik, ya kami berencana melepas lelah dengan bermain alat musik atau sekedar bernyanyi di ruangan kedap suara itu.
Setiap hari ada saja hal yang kami lalui bersama, hingga hari itu tiba.
Sih idiot berlari sambil merangkul ku bahagia.
"kenapa?"
"aku udah jadian sama princess sekolah kita" wajahnya tampak sumringah.
"oh" kenapa? ada apa dengan hati ini? kenapa rasanya ingin menangis?
"kok oh doang sih, emangnya kamu nggak suka aku jadian sama princess?"
"eh suka kok, siapa bilang nggak suka. Aku cuma pengen cepet-cepet pulang udah kebelet"
Aku merasa sepertinya ada masalah dengan hati ku, apa aku harus ke dokter atau kyai?
aku yakin ini penyakit hati, entah secara medis atau non medis.
aku mulai memandang wajahku yang kusam, dengan rambut panjang tapi selalu di Cepol.
perlahan ku buka ikat rambutku.
"Tidak terlalu buruk" ah apa sih yang ada di dalam otak ku, kenapa aku ingin terlihat cantik?"
Hari berganti, bulan terlewati dan tahun sudah dikunjungi. Persahabatan kami renggang.
Kami sudah hampir tamat dari SMA kenangan ini. menjalin persahabatan bertahun-tahun sungguh tak ada artinya.
Aku sudah mengkhianati persahabatan kami karena aku mencintainya.
Siang itu sih idiot mengirim pesan lewat aplikasi hijau. Idiot ingin bertemu di studio musiknya.
"oh oke" aku sangat merindukannya.
Kami memainkan beberapa lagu, hingga lagu terakhir kami pecah konsentrasi.
dia bermain gitar dan aku drum, terkadang kami ganti posisi guna saling mencicipi peran masing-masing. Indahnya hubungan ini.
"em Ri, gimana ya mau ngomongnya?" sih idiot tampak gugup.
oh no mungkin dia mau nembak aku. Aku yang mulai dengan pikiran brutalku membuat ku tersenyum sendiri.
"nggak apa-apa sih ngomong aja, kayak ngomong sama siapa sih loh sampe gugup gitu" aku berusaha menahan gejolak kepercayaan diri yang melampaui batas.
oh Tuhan aku nggak siap kalau mau di tembak dengan tempat seperti ini, bukan di tempat yang romantis.
"Princess nggak suka liat kedekatan kita"
Hati ku tiba- tiba layu sebelum berkembang.
"Aku sayang Ri sama princess, maaf"
Aku hanya tersenyum kecut dengan mata yang berkaca-kaca. khayalan tingkat tinggi ku musnah begitu saja.
"em, aku ngerti kok. Mungkin pertemanan kita cukup sampai disini. Aku berdiri meletakkan stick drum di atas meja, ku raih tas ku dengan gemetar menahan sesak.
"Aku pergi"
Sih idiot hanya diam membisu.
Dan bodohnya aku yang berharap di kejar. Saat ini aku benar-benar sedang tidak baik-baik saja. Cinta ku, sahabatku menyayangi wanita lain dan dengan suka rela melepaskan kebersamaan kami selama ini.
Hari-hari ku lihat idiot tampak murung, dia seperti kerbau di cocok hidungnya. Menemani ke salon, belanja, membawakan barang-barang princess, dan antar jemput kemana pun princess mau. Itu sudah menjadi pilihannya.
Hari ini pengumuman kelulusan sekolah, Syukurlah kami lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Aku yang sedang berusaha semakin jauh pun menemukan jalanku. Aku mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri.
Aku menata hari ku, hidupku dan masa depanku. pagi ini aku tampak anggun dengan rambut yang di gerai, kulit ku juga tidak terlalu hitam lagi mungkin karena efek tidak pernah bermain dengan sih idiot lagi.
Hari ini datang ke sekolah untuk cap tiga jari, biarlah semua mata memandangku. Biarlah kecantikan di hari terakhir sekolah ini membuat bungkam orang-orang yang sering mengejekku, biarlah kecantikan di hari terakhir sekolah ini menjadi langkah pertamaku.
Aku tau idiot juga mencintaiku dari surat kecil yang ada di dalam buku matematika ku. Biarlah cinta ini berlalu, karena aku tidak pantas untuk di pertimbangkan.
Aku berangkat ke bandara, ada keluarga yang setia tak seperti sahabatku sih idiot itu tapi ketika aku berjalan, langkah ku terhenti. Sih idiot menatapku dengan tatapan yang tak pernah ku mengerti. Aku pernah terlalu percaya diri akibat tatapan itu.
"tetaplah disini, aku mohon" suaranya terdengar bergetar.
"maaf, keputusan ku sudah final. Aku berangkat bukan karena ingin menjauhi tapi ini demi aku sendiri. Agar suatu saat aku tidak lagi jadi bahan untuk di banding-bandingkan dan untuk di pilih-pilih"
"maaf" hanya kata itu yang terdengar
"Jujur aku sedih, aku kecewa bukan karena perasaan cinta yang ku punya tapi yang menyakitkan nyatanya persahabatan kita tak ada artinya di hatimu. Maaf aku pergi"
Sungguh penyesalan itu tak ada obatnya 🙏