"Sebentar kuantar biar kamu sampai masuk ke rumahmu," tawar James pada Alvin.
"Tidak perlu. Udah jam 12 malam nih. Kamu cepat pulang saja, nanti aku yang dimarahin istrimu," sahut James sambil keluar dari mobil James.
"Makasiiih."
Brak! Alvin menutup pintu mobil James. Lalu dengan langkah terseok-seok Alvin menghampiri rumahnya.
"Mama, tolong aku."
"Hei kamu jangan ambil mainanku, ini punyaku, cepat berikan!"
"Hiks, hiks ... kalian telah menyakitiku, kalian jahat."
"Haha, aku tidak akan membiarkan kamu keluar dari sini hidup-hidup."
Alvin mengernyit heran mendengar suara-suara asing itu. "Eh, apa aku mabuk banget ya, sampai berhalusinasi," gumam Alvin.
Ceklek.
Alvin membuka pintu rumahnya dan suara-suara aneh tadi seketika menghilang. "Aish, tidak ada siapa pun di sini," Alvin menggeleng-gelengkan kepala sambil melangkah ke kamarnya.
***
Beberapa malam kemudian.
Pyaaaar!
Alvin terjaga dari tidurnya, saat mendengar suara benda yang mungkin terjatuh kemudian pecah.
"Aaarghh suara apa sih itu?" gumam Alvin sambil mekihat jam dinding di kamarnya. Pukul 12.05.
"Pergi kau!" Umpat seseorang di luar kamar Alvin.
Alvin memasang telinganya baik-baik. Seingat Alvin, papa, mama dan Aluna, adiknya masih berada diluar kota, dan saat ini Alvin tidak lagi dalam keadaan mabuk seperti malam itu, terus siapa yang malam-malam begini berbicara dengan kencang seperti memperebutkan sesuatu?
Dari pada penasaran, Alvin Setelah memutuskan melihat sendiri apa yang terjadi keluar.
"Astaga!" Pekik Alvin saat melihat beberapa boneka milik Aluna sedang berkelahi, sementara di sudut lain ada juga boneka cantik seperti sedang asyik bermain-main.
Mendengar pekikan Alvin, seketika dalam sekedip mata semuanya menjadi normal, boneka-boneka itu kembali menempati lemari kaca tempat Aluna biasa memajang koleksinya.
"Siapa yang bisa menjelaskan, apa yang terjadi?" Kata Alvin sambil menatap lemari kaca itu, seolah para boneka itu mendengarnya berbicara.
Diam. Tidak ada yang berucap atau bergerak sedikit pun.
"Baiklah," Alvin melangkah menuju lemari pendingin dan mengambil sekotak es krim.
"Em, es krim ini lezat sekali ... kalian mau?" tawar Alvin sambil menyendokan es krim ke mulutnya sambil berjalan kembali berdiri menuju lemari kaca.
"Ini benar-benar lezat, kalian benar-benar tidak pingin?" Pancing Alvin lagi.
"Aku mau," suara itu berasal dari boneka yang paling imut. Alvin pun mendekatkan kotak es krim itu padanya. "Nih, kamu boleh mencicipi, asalkan mau bercerita kenapa tadi kalian ribut sekali."
Boneka imut itu menggerakkan kepalanya ke kotak es krim seolah akan melahap isinya.
"Enak ya?" Tanya boneka yang lain.
"Iya, ini benar-benar enak," sahut boneka imut itu.
"Aku juga mau." "Iya, aku juga, mau." Boneka-boneka itu ramai-ramai mendekati kotak es krim yang disodorkan Alvin.
Alvin terbelalak melihat tingkah para boneka itu. Pelan-pelan ia mencubit lengannya sendiri, berharap apa yang dilihatnya itu hanyalah bagian dari mimpinya. Tapi ternyata tidak, ini nyata.
Setelah boneka-boneka itu puas melahap es krim ... mereka pun mengobrol dengan Alvin.
Alvin baru tahu kalau koleksi Aluna ini ternyata mereka bukan boneka biasa tapi spirit doll, tidak hanya nama tapi mereka juga bercerita bagaimana mereka bisa ada di situ dan kenapa bisa seperti itu dan juga mengatakan kalau di saat tertentu pada jam 12 malam mereka juga bisa 'hidup', berbicara dan bergerak seperti manusia.