" Baby kapan kau akan membalas bicaraku ? Aku hanya sendirian tak akan ku katakan siapapun. Ini janji kita." Cicit Jo Nara menatap boneka Teddy bear. Gadis cilik itu duduk berhadapan dengan webonekanya di depannya ada teh dan Chico chips.
Dibalik pintu ada seorang yang memperlihatkan gerak geriknya, sang pengasuh gadis cilik itu. Menatapnya iba karena gadis cilik itu sendiri dan kesepian. Karena itu ia mengarang cerita bahwa boneka dapat bicara setelah 15 jam.
Pelayan itu merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan orang tua, bedanya dia karena faktor ekonomi. Sedangkan gadis cilik majikannya itu. Entah apa yang membuat mereka sibuk di luar sana.
Gadis muda itu masuk dengan wajah cerianya menyapa sang majikan cilik. "Jo...Nara... Aku lapar.." Katanya sambil tersenyum lebar dan sedikit manja.
Gadis cantik cilik itu hanya tergelak. "Aku tahu. Bayi besar ku suka lapar. " Ucapnya sambil pura-pura marah. Matanya yang sipit melotot nampak menggemaskan di mata pelayannya.
" Ibu masak dulu ! Tidak sopan panggul ibu dengan nama ibu !" Gadis cilik itu memukuli pantat sang pelayan, lagi-lagi dia pura-pura menangis.
Jo Nara memasak dengan mainan anak-anak seolah-olah dia sedang memasak.
Dalam hatinya ia akan bertekad selama ia bekerja disini ia akan membuat nya sibuk dan tersenyum terus.