Sejak kejadian hari itu, aku terus menghindari Daren tetapi dia terus mengikuti ku meskipun tak banyak bicara. Dan ini cukup membuat ku pusing, ditambah Alvaro yang terus menerus bertanya ada apa dengan ku dan Daren...
“Apa kamu akan terus mengikuti Daren” ucapku kesal, dan Daren hanya menganggukan kepalanya.
Akupun melangkah kan kakiku ke sembarang arah, dan terhenti ketika mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan ku dari salah satu ruangan seperti gudang.
“Sial!Kenapa harus Daren!!!!!”geramnya frustasi.
“Harusnya itu aku!Aku ingin Hifza menjadi milikku satu satunya” lanjutnya, membuat ku tidak tahan tidak akan mendobrak pintu tertutup tersebut.
“Alvaro!”pekikku berurai air mata, sungguh aku tidak menyangka seorang Alvaro bisa melakukan hal seperti itu...
“Hifza, a-aku...” lirih Alvaro gugup.
Aku yang kembali perlu waktu mencerna apa yang terjadi memilih berlari sejauh mungkin dari mereka berdua, ketika melewati lorong sepi tiba-tiba 4 perempuan yang bisa dibilang primadona di kampus ini mengahalangi jalanku...
“Oh ini Cewek caper, yang sok jual mahal sama Daren”
“Seneng banget dia pasti di kejar kejar sama Daren”
“Berlindung dibalik kata bestie, haha basi”
“Si paling kecantikan mentang mentang dekat sama Alvaro dan Daren”
“Masih mending juga gue!”
“Ga usah nangis lo!percuma ga akan ada yang kasian”
Pikiran ku yang benar-benar tersumbat akibat kenyataan yang baru ku ketahui, benar benar merasa tuli pada hinaan mereka berempat...
“Lepasin tangan lo dari Hifza!”ucap Alvaro dengan lantang, membuat salah satu dari mereka yang me cengkraman lenganku langsung melepaskan nya
“Jika ada yang berani mengganggunya, kalian akan berurusan dengan ku”ucap Daren tegas sembari membawaku menjauh dari mereka.
“Awass kalian!”ucap Alvaro kemudian beranjak menyusul Hifza dan Daren.
Saat ini aku duduk diapit oleh Daren dan Alvaro...
“Aku akan memberi mereka pelajaran nanti awas saja”kesal Alvaro
“Sudahlah biarkan saja tidak apa apa” ucapku pelan.
“Tidak ada yang Boleh Menindasmu Hifza! Tidak bolehh” ucap mereka berdua bersamaan.
Spontan aku menatap mereka berdua bergantian dan mereka hanya terdiam, begitu pun dengan ku yang memilih langsung menunduk saja sembari melamun.
END.
(Cerpen Bersambung Day8 - Day14)