"Jadi apa tujuanmu kemari?" Tanya pak Slamet pada Haidar dengan emosi yang sudah stabil ketimbang sebelumnya.
"Pak, aku mohon maaf. Sungguh aku khilaf, pak. Jika bapak berkenan, aku mau memperbaiki semua dari awal dengan dik Gayatri," ucap Haidar sambil menunduk.
"Aku terserah keputusan Gayatri saja, cuma aku minta kalau memang niatmu kembali pada Gayatri, kamu harus menceraikan istri-istrimu yang lain," tegas pak Slamet.
"Puspita sudah saya talak dan dia sudah menikah lagi, sementara Amel sudah bosan dengan saya dan meninggalkan saya begitu saja setelah saya talak," kata Haidar.
Pak Slamet diam-diam lega mendengar penuturan Haidar, namun beliau masih memasang roman tidak bersahabat, untuk menjaga wibawanya sebagai mertua sekalian agar Haidar tidak lagi menyakiti putrinya, Gayatri.
"Jika bapak berkenan, aku mau membawa Gayatri kembali ke kota, memulai semua dari awal. Di sana Gayatri sudah punya kios untuk jualan nasi rames, hasilnya lumayan, pak."
"Maksudmu kamu bawa anakku ke kota buat berusaha, lalu nanti uangnya buat kamu kawin lagi, terus anakku kamu suruh mencari nafkah sendiri dan kamu datang bawa istri baru, lalu kamu bikin hamil dan anaknya nanti kamu suruh Gayatri lagi yang mengurusnya, begitu?" Sindir pak Slamet.
"Gak, pak. Aku hanya ingin kami hidup mandiri, toh kami punya rumah di sana."
"Tidak bisa, kalau kamu mau balik sama Gayatri ya harus mau tinggal di sini saja, agar aku mudah mengawasimu biar gak ngelirik-lirik perempuan lain. Lagian percuma kamu mau kalian hidup mandiri, toh selama ini ... mana tanggung jawabmu sebagai suami dan ayah? Aku juga toh yang kelimpahan mengurusi mereka?"
"Pak," bu Elok berusaha menenangkan suaminya. "Sebaiknya biarkan saja nak Haidar dan Gayatri memutuskan sendiri masa depan mereka. Ingat pak, mereka itu masih suami istri, kita gak boleh ikut campur terlalu banyak dalam masalah rumah tangga mereka."
"Begini saja, Haidar. Kalau kamu masih mau melanjutkan pernikahanmu dengan anakku, ya tinggal di sini saja, kalau kamu bersikeras membawanya ke kota, maaf saja ... aku tidak izinkan. Aku tidak mau apa yang sudah terjadi di sana dulu terulang lagi. Sudah cukup kamu tidak mampu membahagiakannya, jangan lagi ditambah dengan cara menyakitinya," kata pak Slamet yang masih kokoh dengan pendiriannya.
"Sudahlah nak Haidar, sebaiknya kamu bicarakan dengan Gayatri sebaiknya bagaimana. Malam ini kamu boleh tidur di sini, dan besok pagi ... kami tunggu keputusanmu," bu Elok menutup percakapan mereka.
***
"Gimana, dik? Kamu setuju kalau mas mau kamu dan anak-anak kembali ke kota? Kita mulai dari awal lagi, hidup sama anak-anak kita. Mas pakai mobil itu untuk jadi driver online dan kamu kembali jualan nasi rames," aju Haidar saat mereka sudah berada di dalam kamar.
"Bolehkah aku minta kalau tetap di sini saja, mas?"
"Kenapa, kamu kepikiran yang dikatakan bapak tadi? Takut kamu tidak bisa mengawasi mas lalu mas kawin lagi?" Tanya Haidar sambil mengelus lembut lengan perempuan yang masih berstatus istrinya itu.
"Aku, a-aku nyaman di sini, mas ... sekalian sambil bantu-bantu bapak dan ibu. Mas aja yang ngalah, bolak-balik ke sini nengok kami, gimana mas?"
"Baiklah. Tapi beri mas imbalan dulu, dik."
"Hah, imbalan ... mas mau kubayar?"
"Tentu, dik. Bayar mas dengan ini, sayang. Mas rindu sekali dengan tubuhmu," ujar Haidar sambil menyusupkan hidungnya diantara kedua buah pepaya kembar di dada Gayatri.
"Ah, mas ... aku juga rindu, mas."
Setelah sekian lama tidak dimanjakan, Gayatri yang haus belaian suaminya itu pun menyerahkan dirinya pada Haidar. Sesakit apa pun derita yang telah ditorehkan suaminya, tidak membuat Gayatri mampu menolak kenikmatan yang ditawarkan suaminya. Justru Gayatri yang meminta lebih sebagai ganti puluhan bahkan mungkin ratusan malam dingin yang dilewatinya tanpa dekapan Haidar.
Terbuai kemesraan, Gayatri lupa meminta Haidar jangan kawin lagi. Gayatri alpa memastikan suaminya tidak akan membagi cinta dan tubuhnya dengan wanita lain.
Bagi Gayatri, yang penting suaminya ingat menengoknya dan anak-anak, mencurahkan cinta, kasih sayangbdan menafkahi mereka. Saat suaminya pulang dan bermalam dengannya adalah miliknya penuh entah jika diluaran, Gayatri enggan berpikir yang tidak-tidak.