Lupita menggosok-gosokkan matanya, sesekali mendelik atau menyipitkan matanya demi dapat membaca tulisan di layar proyektor di depan.
"Ada apa Lupita?" Tanya Pak Bram.
"Eng, maaf, pak. Sepertinya minus mata saya bertambah, saya tidak bisa melihat layar dengan jelas," sahut Lupita.
"Kalau begitu, silakan bertukar bangku dengan teman yang di depan saja, sementara kamu mengganti kaca matamu." Pak Bram berjalan ke depan, menghampiri mahasiswi yang duduk persis berhadapan dengan mejanya. "Maaf, Anita ... boleh pindah ke belakang, tukar sama Lupita, tidak?" Kata pak Bram.
"Ehm ... tapi, pak ... saya sudah nyaman duduk di sini," ungkap Anita.
"Matamu tidak bermasalah, kan? Kasihan temanmu itu, minus matanya bertambah, dia jadi tidak bisa melihat layar dengan jelas. Tolong, ya?"
"Baiklah," sahut Anita setelah beberapa saat menimbang.
'Huh, jika saja minus mataku tidak bertambah, pasti aku masih duduk di bangku ini. Gara-gara aku harus pindah ke bangku depan, aku jadi berjauhan dengan Tama. Tidak bisa lagi mencuri pandang pada lelaki itu,' batin Lupita dalam hati sambil melangkah menuju bangku barunya.
Sementara Anita pun bergumam dalam hatinya, 'Yah, gara-gara Lupita aku jadi tidak bisa memandang pak dosen yang cakep itu dari jarak dekat lagi, deh. Untung saja karena beliau yang minta, kalau orang lain ... jangan harap!'
Pluk.
Pak Bram menepuk pelan pundak Anita. "Apa yang kamu fikirkan, Anita? Masih keberatan tukar bangku dengan Lupita, hm?" tanya pak dosen itu seraya melempar senyum manisnya.
"Oh, eh ... ti-tidak pak, saya hanya perlu penyesuaian saja," jawab Anita yang tidak menyangka dihampiri oleh pak dosen.
"Baiklah, kalau kamu kesal tidak bisa lagi lihat-lihat saya di depan, maka saya yang akan keliling kelas agar kamu juga yang lainnya tidak luput dari perhatian saya, dan kalian tidak akan kehilangan senyum manis saya," kelakar pak dosen, seolah tahu isi hati Anita.