Budi anak pintar, patuh juga ramah. Nilainya sangat bagus, perjalanan pendidikannya mulus, ia memutuskan bekerja setelah lulus SMA, tapi sang ibu menyuruhnya kuliah.
Ibunya akan menjual petakan sawah warisan bapaknya tetapi Budi tidak mau, ia berkata pada sang ibu, akan mencari beasiswa dan tahun berikutnya ia mendapatkan beasiswa di perguruan tinggi negeri di kota besar, semua tak serta merta berkat doa dari sang ibu.
Anak kampung ke kota. Budi mengalami banyak kejadian, Dari yang tak mengenak kan hingga menyenangkan, Yang tak pernah ia dapat di kampung.
Budi tinggal di asrama yang disediakan oleh kampusnya, ia satu kamar dengan Pirman, juga satu falkutas beda jurusan. Budi jurusan akutansi, sedangkan Pirman jurusan pemasaran.
Mereka dekat. Sama-sama perantauan. Bedanya dengan Budi, Pirman anak orang kaya.
"Kau tidak ikut?" Ajak Pirman, ia merapikan kemejanya, pesta lajang salah seorang senior mereka. Pirman dan Budi sama-sama semester akhir. Budi yang lurus. Sudah akan sidang sedangkan Pirman masih menuntaskan Skripsinya.
"Tidak enak kalau tak datang? Bukannya kau bilang mas Fadlan selalu membantumu" Budi hanya mengangguk. "Oke" Budi mengiyakan. Padahal ia ingin fokus dulu pada sidangnya. Lagian ia telah ijin tapi tak enak memang orang yang ia panggil Mas Fadlan ini sangat berjasa dalam menyelesaikan skripsinya hingga sidang minggu depan.
Mereka berada di pintu klub. "Kau tak bilang acaranya di klub" Budi menatap Pirman kesal. Budi selalu menolak jika diajak Pirman dengan kata "Bersenang-senang"
"Ayolah sekali saja, mari kita menenangkan pikiran sebelum sidangmu" Pirman sejak kuliah pergaulannya semakin tak terkendali, tak ada yang akan melarangnya, dengan rasa penasaran jiwa mudanya.
Pirman merangkul Budi, yang enggan menginjak tempat seperti ini. Ia masih ingat dosa dan ada ibu yang menanti, juga tak ingin membuatnya malu.
***
Budi, terduduk dengan kepala yang berputar. Ck! Budi berdecak. Ini pasti pengaruh alkohol yang ia tenggak tadi. Tak banyak hanya dua teguk.
Semua yang datang sudah sibuk sendiri-sendiri. Pirman juga tak terlihat lagi batang hidungnya. Setelah Mas Fadlan mengakhiri acara, secepat itu pula Pirman menghilang menikmati hinggar bingar klub itu.
Budi ingin pulang. Setelah berpamitan dengan yang lain, Budi beranjak dari tempatnya dengan sedikit terhuyun.
Menelusuri lorong. Berbelok ke kiri dan menaiki tangga, Mas Fadlan memang menyewa sebuah ruangan vip. Pandangannya agak mengabur. Ia berpapasan dengan seseorang. Dan dengan cepat. Memeluk Budi erat.
"Tolong aku" bisiknya menggoda di telinga Budi. Seorang wanita. Rambut panjang hitam. Ia menarik Budi yang hanya bisa mengikutinya. Karena kepalanya semakin pusing.
Memasuki salah satu bilik di lorong itu. Wanita itu memepet Budi di dinding. Lalu menciumnya dengan tak sabar. Ruangan dengan nuansa gelap juga lampu remang, Budi masih tak mengerti dengan keadaanya, Nalurinya sebagai lelaki mulai ikut terpancing.
Budi membalas lumatan itu sama tak sabarnya. Budi di dorong ke arah ranjang. Ia jatuh terlentang.
Jangan tanyakan logikanya saat ini, ia tak tahu pergi entah kemana. Tak bisa berpikir. Ia hanya menikmati yang wanita itu lakukan diatas tubuhnya.
***
"Ngelamun lau" Sopian teman kerjannya. Budi meliriknya, menyendok sotonya yang berkuah kental. Kesukaannya, tambah koya pada kuah sotonya banyak-banyak.
Ingatan malam itu yang terlintas seketika buyar. Tapi perasaan bersalah masih mengelayutinya.
Pagi itu Budi terbangun dalam kamar yang berada di klub itu, dengan telanjang. Wanita yang menariknya ke kamar ini semalam sudah tak ada. Budi di tinggalkan begitu saja dengan surat dan beberapa lembar uang.
Hidupnya berubah. Merasa penyesalan yang amat sangat. Sidang skripsinya hampir kacau.
Pirman menepuk bahunya "Itu hanya One Night Stand atau dia hanya menganggapmu pria bayaran, jadi tenang kalian melakukannya juga suka sama suka" Pirman tertawa. Budi menceritakan semua kegalauannya setelah kejadian malam itu.
Dan hingga kini, 4 tahun telah berlalu. Wajah wanita itu selalu datang ke dalam mimpi setiap malamnya.
Hal yang membuatnya tak memikirkan tentang hubungan dengan lawan jenis walau ibunya selalu bertanya tentang pacar atau wanita yang sedang dekat dengannya. Budi hanya menjawab, ia masih ingin mengejar karirnya dulu.
"Lo tahu GM kita yang baru itu cewek anak pak bos" ucap Sopian, tanganya mengambil sendok menciduk sambal pada mangkok dan menambah kecap. "Cantik, kinclong, dan single" ia meraih kerupuk. Lalu mengigitnya.
Budi tak mengindahkan. "Sop, lu udah liat GM kita" Andra temannya ikut duduk di sebelah Sopian. "Udah, enak ini anak, asisten GM, seger terus matanya" Andra melirik Budi. Ya Budi yang tadinya sebagai Manager keuangan berpindah menjadi asisten GM.
Ia tak bisa menolak. Perintah langsung dari Komisaris Utama, Pak Burhan Wicaksana, Orang yang ia hormati seperti ayahnya sendiri.
"Kenapa temen lo tuh?" Tanya Andra yang tak digubris oleh Budi. Ia malas diingatkan lagi tentang hal yang membuatnya kesal.
"Udahlah Ndra jangan ganggu lagi pms" Sopian tertawa.
"Uhugh" ia tersedak kuah soto, setelah Budi memukul belakang lehernya.
"Brohhugh..." Andra menyodorkan es teh miliknya pada Sopian melihat prihatin pada temannya yang tersedak. Budi hanya melenggang merasa tak bersalah, teman-temannya itu memang rusuh.
Budi menekuni pekerjaannya sebelum ia pindah ke lantai 25 menjadi asisten GM baru, ia harus menyelesaikan beberapa tugasnya. "Pak Budi di panggil pak Burhan" Nanda, salah seorang bawahannya yang menaruh suka pada Budi.
"Oke" Budi beranjak dari ruangannya. Lift membawanya ke lantai 25. Pintu lift terbuka. Budi keluar dan disambut oleh sekertaris GM, Mutiara, Gadis manis incaran Sopian.
"Siang Ra, pak Burhannya ada?" Budi menyapa,
"Ada Pak silahkan sudah ditunggu" Budi langsung berjalan memasuki ruangan Pak Burhan sebelum nantinya akan digantikan oleh GM yang baru.
"Siang Pak Burhan" Budi melihat pak Burhan sedang asik mengobrol dengan seseorang yang membelakanginya. Wanita dengan rambut panjang hitam tergerai.
"Ah ini dia, sini Budi," Budi mendekat, Pak Burhan juga wanita itu berdiri. Wanita itu membalikkan badan, tersenyum padanya.
"Budi, kenalkan ini Ibu Konita Wicaksana, GM baru kita, Konita ini asisten yang akan membantumu di perusahaan" Budi menelan salivanya, ia tak akan pernah lupa. Wanita yang selalu hadir dalam malam-malam panjangnya selama 4 tahun ini.
Wanita yang selalu menjadi penyesalan hidupnya, Wanita yang membuatnya kelimpungan, penasaran, tak bisa ia lupakan juga yang membuatnya jatuh cinta. Ya Budi Jatuh Cinta pada Konita.
"Halo saya Konita Wicaksana, mohon kerja samanya, Nice to meet you Budi" Konita mengulurkan tangannya, Senyuman itu, Senyuman yang selalu ada di mimpi-mimpi setiap malamnya. Dadanya bergemuruh, nafasnya tercekat.
Dengan perlahan dan agak bergetar Budi menyambut tangan Konita. Rasa baru muncul, tangan lembut itu, Budi ingin menarik dan mendekap wanita di depannya ini. Rasa rindu bercampur, kesal, amarah juga bahagia mengaduk relung hatinya. Genggamannya mengerat.
Wanita yang selama ini ia sebutkan dalam doa ternyata wanita yang tak dapat diraihnya. Status. Strata. Salah satu penghalang yang tak gampang Budi tembus, selain perbedaan agama.