Penghuni asrama Eleanor selalu memiliki banyak kesibukan setiap pagi menjelang, namun ada satu bisikan dari seluruh murid. Sebuah misteri yang tak pernah tenggelam meskipun berganti tahun. Seperti hari ini, dimana teman sekamar ku mengalami kejadian aneh.
"Lona, semalam aku mendengar nyanyian merdu sekali. Tanpa ku sadari, aku mengikuti suara nyanyian itu. Hingga berhenti di jam terbesar ruang seni. Tapi, saat aku melihat sekeliling tak ada siapapun. Suara itu masih terdengar jelas, kudengarkan dengan seksama. Hingga sudut mata ku terhenti di lemari kaca yang penuh boneka. Aku berlari sekencang mungkin setelah melihat apa yang terjadi. Semua itu nyata Lona. Aku tak mau keluar malam lagi" Bila meremas selimut dengan erat, matanya kesana kemari seakan diawasi.
Lona mengusap punggung Bila. "Semua hanya mimpi sebaiknya kamu tetap dikamar. Aku ke kelas dulu. Nanti aku panggilkan guru piket."
Langkah Lona berjalan meninggalkan kamar, tanpa berbalik menatap Bila.
"Lonaaa...." seru Bila menghentikan langkah Lona dan membuat gadis remaja itu berbalik.
Mata Lona membulat, diatas ranjang Bila hanya ada selimut terjatuh dilantai dan Bila hilang tanpa jejak. Ditengah kepanikan, Lona bergegas mencari pertolongan. Berita bilangnya Bila membuat kelas ditiadakan, tapi perasaan Lona masih terguncang. Seakan mimpi menjadi kenyataan, semua yang baru saja terjadi sudah menjadi mimpi Lona jauh-jauh hari.
Semua murid kembali ke kamar atau belajar di perpustakaan, berbeda dengan Lona yang justru melangkahkan kaki menuju ruangan seni. Didalam hati Lona bertekad untuk menemukan teman sekamarnya. Penantian selama 18 jam, membuat Lona terlelap dalam mimpi, mimpi yang sama. Tapi kenapa kali ini mimpi itu ada dirinya dan terikat pada dua tali gantungan?
"Dimana aku? Tempat ini, pasti Bila ada disini." ucap Lona dan menelusuri setiap kabut putih dengan skor matanya.
Hanya ada kesunyian hingga detingan jam 12 malam terdengar.
Tiing
Tiing
Tiing
Tiga dentingan menuju tepat pukul 13 malam, suara alunan musik dengan nyanyian sayup-sayup terdengar, membuat Lona terpaku dengan kemerduan sang penyanyi. Semakin lama, bibir Lona ikut menyanyi dan perubahan mata Lona membuat suasana semakin mistis.
Hanya dalam waktu satu menit, kini Lona berubah menjadi putri malam.
"Selamat datang kembali Putri Pengendali Boneka."