⚠️PERINGATAN! Cerita ini banyak mengandung adegan kekerasan dan mengerikan, dimohon bijak dalam membacanya.
Tiga orang anak perempuan dan dua anak laki-laki sedang asik berbincang-bincang dibawah sebuah pohon.
"Semuanya, percaya ga kalau ada boneka yang bisa berbicara?, kata seorang gadis yang bernama Kiki.
"Aku ga percaya", kata Dodi.
"Mana ada hal seperti itu", lanjutnya lagi.
"Kalau memang benar ada bagaimana?", Rosa ikutan bicara. Dia memang kurang menyukai Dodi.
"Kalau apa yang dikatakan Kiki itu benar, aku akan traktir kalian semuanya makan baso Pak Slamet sepuasnya," ujar Dodi lagi.
"Benar ya, awas kalau tiba-tiba saja melarikan diri dan melupakan janji", sambung Susan yang sedari tadi hanya diam.
"Sudah..sudah, memangnya boneka yang bisa bicara itu ada dimana?", tanya Roy. Roy adalah sahabat Dodi.
"Di rumah kosong dekat rumahku, katanya boneka itu hanya bisa bicara jam 12.00 malam, kalau mau, besok kita semua kumpul di rumahku jam sebelum jam 12.00 malam", Kata Susan.
"Oke, siapa takut, hitung-hitung uji nyali", Dodi menjawab dengan sombongnya.
Rosa hanya melirik Dodi dengan tatapan yang sinis. Alasan mengapa ia begitu membenci Dodi adalah karena Dodi pernah menyakiti hati teman masa kecilnya dulu yang bernama Hana. Akibat dari perbuatan Dodi, karena patah hati Hana ditemukan gantung diri di kamarnya. Rosa tidak pernah bisa melupakan kejadian yang mengerikan itu.
Keesokan harinya kelima orang itu berkumpul di rumah Susan. Mereka semua asik makan cemilan dan ngobrol, hingga tepat jam 11.30 malam, mereka segera berangkat memasuki rumah kosong yang terletak di sebelah rumah Susan.
Rumah itu dari luar tampak seperti rumah biasa, tampak terawat, tapi entah mengapa pemiliknya membiarkan pintu rumah itu tidak terkunci, sehingga siapapun bisa masuk dengan bebas.
Dodi dan Roy membuka pintu rumah itu secara perlahan, didepan mereka terlihat ruang tamu dengan perabotan lengkap.
"Dimana letaknya boneka itu?", tanya Roy.
"Dari informasi yang kudapatkan, katanya boneka itu terletak di kamar yang terletak di sebelah kamar ruang keluarga" jawab Susan.
Dengan berbekal senter di tangan masing-masing mereka semua menuju ke kamar dimaksud. saat mereka membuka pintu, mereka langsung disambut senyuman yang terukir di bibir boneka itu.
Mereka melihat boneka yang memakai baju berenda yang terlihat usang. Mata besarnya terlihat seperti sedang melotot. Di kamar itu terdapat sebuah tempat tidur, kursi panjang, lemari pakaian dan juga sebuah laci. Di dinding tampak sebuah gambar dua anak kecil yang sedang bermain.
Kelima orang itu kemudian memilih tempat duduk masing-masing. Susan dan Rosa duduk di kursi panjang, sementara Roy, Dodi dan Kiki duduk berdampingan di kasur.
"Menunggu sampai jam 12.00 lama juga ya, gimana kalau kita lihat-lihat apa saja yang ada di rumah ini", kata Dodi memecah kesunyian.
"Iya nih, lagian aku juga ingin ke kamar kecil, Dodi, kamu temani aku ya", Kiki berbicara sambil memegang tangan Dodi.
"Iya, aku temani, kalian tunggu di sini, aku akan mengantar Kiki", sambil memegang tangan Kiki, ia berlalu meninggalkan kamar itu.
"Alasan, padahal nyari kesempatan buat mojok", Roy bicara dengan nada ketus.
Susan berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju lemari pakaian. Setelah dibuka hanya ada satu baju berwarna putih yang tergantung di sana.
"Aneh, padahal rumah ini katanya sudah kosong sejak lama, tapi baju ini kok masih terlihat masih bagus dan bersih", ujar Susan sambil memegang baju tersebut.
Roy tidak tinggal diam, ia penasaran dengan isi laci yang berada di samping tempat tidur dimana diatasnya terdapat boneka yang sedang duduk.
Karena merasa diawasi oleh mata boneka tersebut Roy mengambil dan meletakan boneka tersebut dengan posisi menelungkup.
Di dalam laci Roy menemukan sebuah kalung. Kalung itu sangat sederhana, bandulnya berbentuk bintang. Tanpa berfikir, Roy mengambil kalung itu dan memakainya.
Rosa memperhatikan semua itu dalam diam.
Sementara itu Kiki dan Dodi yang memang ternyata dari awal sudah mempunyai niat tidak baik, asik berbuat yang tidak senonoh di kamar mandi walau hanya berbekal senter.
"Aduh, sakit", Kiki berteriak. Ia merasakan seakan ada yang merobek perutnya. Dodi juga merasakan hal yang sama, tapi ia merasakan sakit di bagian betisnya.
"Tolong, aku tidak bisa bergerak, aa, sakit!", Dodi juga berteriak. Ia lalu membuka pintu kamar mandi tapi ternyata pintu itu terkunci.
"Buka pintunya!, siapa sih yang iseng mengunci pintu", teriaknya lagi sambil menggedor pintu.
Dodi lalu mengambil senter untuk melihat sekeliling kamar mandi untuk melihat alat yang bisa ia gunakan untuk membuka pintu kamar mandi. Ia tidak memperhatikan keadaaan Kiki yang sejak tadi tidak bergerak.
Trek..trek, terdengar suara sesuatu yang patah, Dodi mengarahkan senternya ke Kiki, Leher Kiki bergerak berputar, Dodi berteriak ketakutan, tubuhnya tidak dapat digerakkan. Mendengar teriakan Dodi, Kiki berjalan pelan-pelan mendekati dengan wajah yang menghadap kebelakang, tangannya terulur, dengan tenaga yang kuat ia mencekik leher Dodi, Dodi mencoba melepaskan diri dengan memukul kepala Kiki bagian belakang yang saat ini ada di hadapannya. Darah segar menyembur dari kepala Kiki. Cekikan itu semakin kencang, Dodi kehabisan nafas, saat itu juga ia menghembuskan nafas terakhirnya, sedangkan Kiki, dengan tubuh yang mengenaskan ambruk di samping tubuh Dodi.
Di kamar.
Jam menunjukkan pukul 11.45, waktu seakan berjalan lambat di rumah ini.
"Roy, coba kamu susul Dodi dan Kiki, mereka ngapain aja sih?, ke kamar kecil saja selama ini", ucap Susan.
"Ah, bikin repot saja, baiklah aku akan menyusul mereka", Roy berjalan keluar kamar sambil bersungut-sungut.
Ketika sedang berjalan ke kamar mandi, lehernya terasa perih dan panas, Roy pun meraba lehernya, ketika ia memegang kalung yang berada dilehernya, ia merasa kalung itu semakin dalam memasuki daging disekitar leher, ia berusaha menariknya tapi kalung itu semakin dalam masuk kedalam dadanya, secara perlahan tali kalung itu tertarik kencang dan memutuskan kepala Roy.
Ruangan di sekitar banjir darah.
Susan bertambah kesal," Roy ini kemana aja sih, sekarang sudah jam 11.50 malam, memang Roy dan Dodi sama-sama brengsek", umpatnya.
"Sudah jangan kesal begitu, biar aku yang mencari mereka, kamu disini saja", kata Rosa.
Susan yang malas kalau harus ke sana kesini, mengiyakan ucapan Rosa, entah mengapa ia merasa ngantuk. Ia sudah merasa nyaman di kamar ini.
Waktu pun berlalu, Rosa belum kembali, satu menit lagi menjelang jam 12.00 malam, Susan yang mulai memejamkan matanya tidak menyadari pintu lemari terbuka perlahan, baju putih tadi lepas dari hanger dan bergerak di lantai mendekati Susan, baju itu kemudian berhenti di leher Susan, membelitnya dengan lembut, Susan merasa tidak nyaman ketika merasakan ada yang membelit lehernya, ia membuka mata, jam menunjukkan jam 12.00 malam.
Lalu terdengar suara dari mulut boneka yang sekarang duduk pada posisi semula, ia tersenyum menatap Susan dan berkata," Selamat datang di duniaku Susan, nikmatilah, hahaha".
Baju yang melilit lehernya tadi bergerak naik keatas langit-langit kamar dengan membawa tubuh Susan. Susan meronta-ronta, tak berapa lama tubuhnya mengejang dan lemas. baju itu kemudian menghempaskan tubuh Susan kelantai.
Pagi menjelang. Di luar rumah orang kembali ke rutinitas sehari-hari, tapi tidak dengan keluarga anak-anak itu. Mereka sama-sama melapor kekantor polisi akan hilangnya anak mereka. Orang tua Susan juga sudah memeriksa rumah kosong disebelah rumah mereka, tapi mereka tidak menemukan keberadaannya.
****
Flashback on
"Hana, kamu yakin Dodi benar-benar suka sama kamu?, dia itu kan playboy, apalagi dia itu segrup sama cewek-cewek rese itu, kamu seperti ga tau aja tingkah Kiki dan Susan", tegur sahabatnya.
"Jangan berfikir negatif dulu, buktinya ia memberikanku kalung ini", ujar Hana sambil mencium bandul kalung".
Rosa memandang wajah sahabatnya dengan pandangan khawatir dan berkata "kamu hati-hati ya, aku tidak bisa menemanimu, karena aku harus menjenguk nenekku yang lagi di rawat di rumah sakit".
"kamu tenang saja, aku akan baik-baik saja kok", jawab Hana lagi sambil tersenyum.
Besoknya, Rosa menemui Hana di rumahnya, ia melihat wajah Hana yang terlihat sedih dan Rosa bertanya,"ada apa Hana?, apa yang terjadi?".
Hana menangis pilu, ia menceritakan bahwa kemarin ia di hina dan dilecehkan, ia membenarkan perkataan Rosa bahwa semua itu tipuan. Dari awal Dodi, Susan, kiki dan Roy memang berniat menyakitinya. Mereka semua memaksa dirinya membuka baju lalu di rekam di hp mereka masing-masing, dan Roy dengan seenaknya melecehkan dirinya diiringi dengan tawa puas mereka semua.
Rosa mengepalkan tangannya.
"kurang ajar mereka semua, akan aku buat perhitungan dengan mereka!", geram Rosa.
"Jangan, percuma, mereka bilang kalau aku berani mengadukan hal ini, mereka akan menyebarluaskan videoku ", kata Hana sambil terisak.
Selama seharian Rosa menemani Hana, saat malam menjelang Rosa pamit pulang, ia tidak menyadari bahwa itu adalah hari terakhir dia bertemu dengan sahabat sekaligus teman masa kecilnya itu.
Paginya daerah sekitar dikejutkan dengan meninggalnya Hana. Tetangga sekitar semuanya berduka, Hana dikenal sebagai anak yang baik, santun dan ramah. Tetangga sekitar sangat menyayanginya.
Begitu mendengar berita ini Rosa berteriak histeris, ia seperti orang gila, orang tua Rosa juga berduka, mereka sudah menganggap Hana dan orang tuanya adalah saudara.
Duka itu pun bertambah ketika mereka mendapat kabar bahwa orang tua Hana juga meninggal dalam kecelakaan mobil.
Orang tua Hana meninggalkan sebuah surat wasiat yang isinya meminta orang tua Rosa untuk merawat rumah mereka.
Begitulah, waktu berlalu, tetangga sekitar demi menghargai keluarga Hana mereka menutup rapat mulut mereka masing-masing dan tak ada satupun yang bersedia menceritakannya apabila ditanya.
Tetangga sebelah rumah Hana, karena sering diperdengarkan suara-suara dari rumah Hana, menjual rumahnya dan secara kebetulan rumah itu dibeli oleh keluarga Susan.
Flashback Off
****
Sudah sebulan lamanya, keluarga Dodi dan teman-temannya tidak menemukan titik terang dimana keberadaan anak mereka.
Orang tua Rosa kemudian mendatangi rumah Hana dengan membawa seikat bunga, memasuki rumah dan langsung menuju halaman belakang. Di sana dibalik tanaman bunga ada sebuah kuburan dengan nisan yang bertuliskan nama Rosa. Ya, sepeninggal Hana dan keluarganya Rosa ditemukan sudah tidak bernyawa di rumah Hana, tepatnya di kamar Hana, ia meninggal dikarenakan minum obat tidur dengan dosis besar. dia memakai baju tidur berwarna putih dengan posisi sedang memeluk boneka milik Hana.
Sejak saat itu di rumah Hana, tanpa sepengetahuan orang sekitar tepat jam 12.00 malam, kamu akan menemui sosok Dodi, Susan, Kiki dan Roy sedang duduk di ruang tamu dengan wajah pucat tertunduk lesu. Sementara Rosa dan Hana tertawa dengan riangnya.
TAMAT
Stop bullying!.