Seperti nama yang disematkan kedua orang tuanya yang mengharapkan putranya menjadi seorang pengelana angkasa, Dallen Farnley adalah seorang pilot private jet di salah satu brand management artis ternama di London. Tugas dia kali ini adalah mengantarkan artis besutan mereka untuk menghadiri acara Paris Fashion Week di Perancis. Alice Reese adalah model papan atas yang akan tampil di event tahunan bergengsi itu.
Awal penerbangan cuaca cerah, sangat mendukung sekali penerbangan kali ini. Dallen optimis 1,5 jam ke depan mereka akan sampai di Paris. Dallen melirik penumpangnya yang mengenakan dress mini warna salem, terlihat sangat cantik, sedang asik dengan bacaannya. Ada perasaan bangga di hatinya bisa berduaan dengan model papan atas itu. Walau tak sekali pun sang artis meliriknya hanya untuk memastikan apakah semua baik-baik saja.
Dari berita selentingan yang Dallen dengar, dia adalah model yang banyak maunya. Makanya Alice di sini bersama Dallen dalam penerbangan private.
Barang kali karena terlalu percaya diri dengan penerbangan kali ini, sehingga Dallen kurang mawas diri. Brukk.... Seekor burung bangkai menabrak kaca depan pesawat. Kerasnya hantaman burung bangkai, menyebabkan kaca kokpit pecah. Darah dan bulu burung terciprat mengenai Dallen dan Alice. Pesawat seketika oleng.
“Astaga.. Apa yang terjadi.” Teriak Alice.
“Kencangkan sabuk pengaman anda, Nona. Burung bangkai telah menabrak pesawat kita. Aku akan berusaha melakukan pendaratan darurat dengan aman. Lakukan posisi brace.” Teriak Dallen.
Alice tidak berkata apa-apa lagi. Matanya terpejam. Dia membungkukkan tubuhnya ke depan dengan kedua tangan melindungi kepala sambil melafalkan doa-doa.
Dengan degup jantung yang memburu, Dallen menggenggam stik kontrol pesawat. Langkah terbaik adalah melakukan pendaratan darurat di atas air, karena mereka saat itu berada di atas laut lepas.
Peluh mengucur deras dari tubuhnya. Dallen berusaha keras mengendalikan pesawat agar terbang stabil dan tidak menukik tajam.
50.000 kaki, 40.000 kaki, 30.000 kaki, 20.000 kaki... Pesawat turun dengan cepat. Sedikit lagi pesawat menyentuh air.
Byarr...jet pribadi terhempas keras ketika menyentuh air. Meluncur kencang di atas air, semakin lama semakin berkurang kecepatannya, melambat dan...akhirnya berhenti tak jauh dari sebuah pulau.
“Cepat Nona, kita harus segera turun. Sebentar lagi, pesawat ini akan tenggelam.” Dallen segera keluar dari kokpit. Mengambil 2 jacket pelampung. Mengenakan 1 untuk dirinya.
“Cepat Nona.. Ini dipakai Nona..” Desak Dallen, sambil menyerahkan jaket pelampung.
“Iya..iya.. Cerewet banget. Ga tau kepala ku lagi pusing ini, akibat ulah mu yang ugal-ugalan bawa jet.”
“Hahhh... Astaga. Apa yang kau bicarakan Nona. Sudah bagus kita masih hidup. Nona mau mati dengan tubuh hancur berkeping-keping dan menjadi santapan hiu?”
“Sudahlah. Kalau Nona mau di sini, Aku keluar dulu..”
Dallen berjalan menuju pintu dan mendorongnya sekuat tenaga.
Pintu terbuka, Dallen keluar dan berdiri di atas sayap pesawat.
“Hei.. Atas dasar apa kamu meninggalkan ku di sini. Kalo sampai di London nanti, awas saja, kamu akan aku laporkan pada Boss mu..” Kata Alice marah.
“Nona bisa berenang, ga?”
“Emang kamu aja yang bisa bisa berenang. Gini-gini aku hebat kalau urusan berenang.”
“Ya Sudah. Baguslah kalo begitu.”
Tanpa banyak bicara lagi Dallen menceburkan diri ke laut menuju pulau yang terlihat tak jauh itu.
“Hai...” Teriak Alice
Dallen tak memperdulikan Alice yang meneriakinya. Cuaca cerah, dan ombak yang tenang, membuat Dallen tidak kesulitan mencapai pantai.
Sesampai di bibir pantai, Dallen menjatuhkan tubuhnya di pasir putih yang lembut. 10 menit kemudian Alice menyusul. Dengan dada yg naik turun Alice menjatuhkan diri di pasir.
“Sialan. Kamu tinggalkan aku. Kalo aku dimakan hiu bagimana ?”
“Kenyataannya kan tidak begitu. Masih hidup kan?”
“Iss.. Kamu memang orang yang sangat menyebalkan.” Sungut Alice.
Dallen bangkit dari posisi berbaringnya. Dia duduk menghadap laut. Pandangannya tertuju pada jet yang di kemudikannya. Berlahan-lahan jet itu tenggelam ditelan air laut.
“Untung kita cepat keluar.” Kata Dallen.
“Habislah ponsel dan tas branded ku.” Keluh Alice.
Dallen memutar bola matanya, jengah.
“Penting mana, nyawa atau barang mewahmu?”
“Sama pentingnya bagiku..”
Dallen malas melanjutkan ucapannya. Capee berdebat gak penting dengan artis manja.
Dia memperhatikan sekeliling. Pulau itu tidak terlalu besar. Kalau diperhatikan kira-kira Cuma 10 km. Dikelilingi olah gugusan tebing dan bukit.
“Apa yang ada dibalik bukit itu.” Gumam Dallen.
Dallen bangkit dan mulai berjalan.
“Heiii..kau mau kemana.” Teriak Alice.
“Aku mau berkeliling sebentar. Kalau Nona mau, ayo ikut.”
“Kita di sini saja. Siapa tau nanti ada bantuan datang.”
“Ini pulau terpencil, Nona. Kemungkian kecil ada kapal yang lewat.”
Tanpa memperdulikan Alice, Dallen terus berjalan.
“Heii tunggu aku....!!”
Alice mengejar Dallen.
“Aduh....!!!”
Dallen refleks memutar badannya. Dia melihat Alice terduduk di pasir pantai dengan memegang pergelangan kakinya.
Dallen berlari ke arah Alice.
“Kamu tidak apa-apa, Nona ?”
“Apa kamu lihat aku tidak apa-apa?”
“Astaga Nona. Bisa ga sih kalo ngomong ga pakai ngegas ?”
Dallen melihat pergelangan kaki Alice bengkak. Menekannya sedikit.
“Auuu .. Sakit tau..!!”
“Maaf, Nona. Ayo aku bantu. Kita berteduh di bawah pohon itu, Nona.”
Dallen memapah Alice menuju tempat teduh yang berada di bawah pohon.
“Nona di sini aja dulu. Aku akan mencari air.”
“Jangan lama-lama. Aku takut sendirian.”
“Iya, Nona. Aku akan segera kembali.”
Dallen pergi menjauh. Dia masuk ke daratan. Berjalan jauh ke dalam rimbunan pepohonan. Tak lama dia kembali membawa beberapa butir buah kelapa, seikat ranting dan sebilah tongkat.
Dallen melubangi kelapa dengan pisau lipat yang diambil di kaki celananya.
“Diminum dulu, Nona.”
Alice meneguk kelapa itu hingga tak bersisa.
Dallen meraut ujung tongkat dengan pisaunya.
“Tunggu di sini Nona, aku akan mencari makanan.”
“Kemana?”
“Ke sana.” Dallen menunjuk ke arah laut.
“Di sana gudang makanan gratis, Nona.”
Dallen Berjalan ke arah laut. Melawan ombak yang datang silih berganti. Semakin lama dia hilang ditelan air laut.
Alice menatap kepergian Dallen dengan penuh kekhawatiran.
“Bagaimana kalo Pilot sialan itu tidak kembali?”
Waktu bergulir. Hari hampir gelap. Dallen belum kembali. Alice mulai cemas. Sambil meringis menahan Sakit, memandang lautan dengan penuh harap, Dallen akan muncul.
Tak lama kemudian Dallen muncul dari sisi kanan pulau. Dia datang dengan membawa beberapa ekor ikan.
“Dari mana saja kamu, kenapa lama sekali...!!”
“Aku habis kelilingi pulau ini, Nona. Sepertinya di sisi sebelah sana ada kehidupan. Besok aku akan ke sana untuk meminta bantuan. Sekarang kita bermalam di sini saja dulu.”
Dallen mengambil seberapa buah batu dan menyusunnya melingkar. Meletakkan beberapa ranting kering di dalam lingkaran batu itu. Mengambil sebuah batu ukuran gengamannya, menempelkan jamur kering kecil ke batu dan mengikis dengan cepat dengan bagian belakang pisau lipatnya hingga menimbulkan percikan api. Percikan api mengenai jamur kering dan menimbulkan nyala api. Ia memindahkan api itu ke tumpukan ranting kering. Dallen kemudian menusuk ikan dengan kayu-kayu kecil dan mulai membakarnya. Aroma bakaran ikan, menusuk hidung, menimbulkan rasa lapar.
“Ini, Nona. Hati-hati masih masih panas.”
“Terima kasih..”
Alice memcicipi ikan bakar itu sedikit.
“Enak juga ternyata.”
“Kalo lagi lapar, makan apa saja pastilah enak, Nona. Apalagi kita dalam keadaan seperti ini. Kita harus makan sesuatu agar tetap waras.”
“Iya. Kamu benar. Oh iya. Nama mu siapa?”
“Aku Dallen.”
***
Malam beranjak larut. Alice sudah tertidur dengan meringkuk tak jauh dari tempat Dallen duduk. Dallen mencoba memejamkan mata. Angin laut begitu menusuk tulang. Dingin. Alice yang hanya mengenakan dress pendek, tak lama kemudian bangun dengan tubuh menggigil.
“Nona kenapa ?”
“Dingin banget Dallen.”
Dallen melepaskan kemejanya dan memberikan kepada Alice.
“Pakai ini.”
“Kamu gimana?”
“Aku gak apa-apa. Ini masih ada kaus dalam ku..”
“Baiklah. Terimakasih Dallen.”
Dallen mendekatkan kedua telapak tangannya ke api. Menggosok-gosokkan dan meniupnya.
“Dingin sekali ya Dallen.”
“Iya, Nona. Angin laut memang dingin.”
“Dallen boleh dekat sedikit. Aku gak tahan, dingin banget ini.”
“Baiklah..” Dallen menggeserkan tubuhnya mendekat ke Alice.
“Lebih dekat lagi Dallen.”
Dallen menggeser lagi tubuhnya. Bahunya sudah bersentuhan dengan bahu Alice.
“Masih dingin Dallen.”
“Mau gimana lagi, Nona.”
“Boleh kamu peluk aku, Dallen..”
Dallen diam. Ragu.
“Kamu jangan khawatir. Kan aku yang minta. Bukan kamu kan?”
“Ya sudah. Sini aku peluk..”
Dallen memeluk tubuh Alice. Alice menyambutnya dengan memeluk erat tubuh Dallen.
“Kenapa dingin sekali ya..”
Degup jantung Dallen berpacu, sangat cepat. Tentu saja terdengar oleh Alice.
Alice tertawa.
“Kamu belum pernah memeluk wanita sebelumnya ya..”
“Belum Nona.”
Alice memasukkan tangannya ke dalam baju dalam Dallen.
“Apa yang kamu lakukan Nona?”
“Skin to skin, mempercepat rasa hangat, Dallen.”
Dalam hati, Dallen membenarkan perkataan Alice. Saat seperti sekarang, apapun harus di lakukan untuk bertahan hidup. Termasuk hal yang mereka lakukan saat ini.
Sentuhan kulit di antara mereka menimbulkan percikan api asmara di antara keduanya.
Mereka saling bertatapan saat tanpa sengaja pandangan mereka bertemu. Tatapan itu bagaikan magnet. Perlahan namun pasti bibir keduanya bertemu. Mereka saling mengecup dan mengecap. Semakin lama semakin dalam dan menuntut lebih. Kehangatan yang tercipta di antara mereka mampu mengusir rasa dingin yang menggigit.
***
Pagi sudah menjelang. Matahari sudah mulai menampakkan sinarnya yang anggun. Sepasang manusia berlainan jenis yang tidur di pinggir pantai dengan saling berpelukan satu dengan yang lain.
Segerombolan penduduk, mendatangi mereka. Penduduk setempat yang semalam melihat asap pembakaran mereka, memutuskan mencari sumber asap keesokan harinya. Penduduk pulau Tristan da Cunha sangat berbaik hati kepada mereka. Sambil menunggu bantuan yang akan segera datang menjemput, Dallen dan Alice dilayani sedemikian rupa dan diberi pengobatan seperlunya untuk kaki Alice yang terkilir.
***
1 bulan berlalu sejak insiden itu terjadi. Dallen dan Alice tidak pernah bertemu kembali. Bertukar kabar pun tidak. One night stand yang terjadi di antara mereka malam itu, masih membekas di hati Dallen. Itu adalah pengalaman pertamanya dengan wanita. Dallen cukup tahu diri dengan tidak menghubungi Alice. Dia merasa tidak sepadan dengan artis ternama itu. Ia dan Alice bagai langit dengan bumi.
***
Senja di pantai Pantle Bay yang indah. Dallen duduk dihamparan pasir putih. Entah mengapa, belakangan ini dia sangat menyukai menghabiskan senja di pantai, dan baru kembali menjelang malam.
“Nona Alice, apa kabarmu saat ini. Bolehkah aku berharap, semesta akan berpihak padaku. Memberikanku kesempatan untuk bertemu denganmu lagi. Aku sangat merindukanmu.” Teriak Dallen. Melepaskan sesak di dadanya. Tak ada jawaban apapun dari ombak dan angin. Hanya senja yang semakin lama semakin memerah.
Dallen berniat kembali ke apartemennya, walau senja belum sepenuhnya usai. Dia tertegun menatap seorang wanita yang mengenakan dress mini warna pastel dengan corak bunga kecil, tersenyum manis padanya.
“Kemana saja kamu ? Aku lelah mencarimu. Apakah kau tidak merindukanku?”
Tamat.