Suara ketukan pintu membangunkan tidurku. Mataku masih enggan terbuka tapi suara ketukan itu benar-benar menggangguku.
"Masuklah." Ucapku. Aku mengangkat kepalaku dengan malas dan melihat siapa yang datang kepadaku.
"Ikut aku. Aku sudah mengatur semuanya untukmu."
Seorang pria dengan tergesa-gesa tiba-tiba menarik lenganku keluar dari ruangan itu. Aku kira pegawai junior ingin bertemu denganku untuk membahas masalah pekerjaan. Ternyata bukan. Tunggu! Aku bahkan tak mengenal orang ini.
"Kau siapa?" Tanyaku sambil menahan tangannya agar tak menarik ku sembarangan.
"Berhenti bercanda dengan sepupumu sendiri, Arion."
"Arion? Siapa?"
"Kau kenapa? Apa minum alkohol semalam membuatmu amnesia?" Tanya pria sok kenal itu.
Siapa yang minum alkohol? Meskipun aku ini bukan pria yang baik tapi seumur hidup aku ini tidak pernah menyentuh barang terlarang seperti itu.
"Arion? Jika kau hanya mematung disini jangan salahkan aku jika Olivia membencimu dan lebih memilih Alister."
Tunggu, Arion? Olivia? Alister?
Sekian detik otakku mencerna keanehan ini. Awalnya ku pikir orang ini salah orang. Tapi aku mulai sadar saat melihat sekelilingku. Ruangan mewah ini bukan ruang kerjaku. Bahkan interiornya sangat aneh tidak seperti di negara tempat tinggal ku.
Mataku menjelajah dan menemukan cermin yang persis ada di depanku saat ini. Aku makin tidak mengerti saat menatap wajahku. Aku memang tampan tapi ini bukan diriku!
Seingatku saat istirahat makan siang aku membaca novel di sebuah aplikasi di handphoneku. Novel ini memang sudah aku ikuti sejak awal. Arion, Olivia, dan Alister adalah tokoh-tokoh yang ada di novel ini.
Melihat ada notifikasi update, aku langsung membaca episode terbarunya. Lalu tanpa sengaja aku tertidur dan tiba-tiba seseorang memanggilku dengan sebutan Arion, sang penguasa sombong sekaligus tokoh utama di novel itu. Ternyata aku masuk menjadi MC ke dunia novel authornya. Dan laki-laki yang menemui ku ini baru saja mengatakan kalau dia sepupuku.
"Rocky?" Panggilku ragu. Ternyata dia meresponku.
Aku sedikit lega. Untung saja pria yang kutemui pertama kali adalah Rocky, tangan kanan sang penguasa. Aku tak tahu bagaimana rupanya karena sang author belum pernah memberikan visualnya di novel. Meskipun begitu aku cukup paham karakter Rocky ini. Dari yang ku baca dia tak sepintar Arion.
Aku mencoba tenang dan memilih untuk bersikap layaknya seperti Arion agar Rocky tidak curiga. Ikuti saja alurnya. Soal bagaimana aku bisa terdampar di sini itu dipikir nanti. Dan bodohnya pria bernama Rocky ini tidak menyadari.
"Bukankah kau ingin meminta maaf pada Olivia?"
"Minta maaf?" Tanyaku sedikit kebingungan.
"Ah sudah lah. Aku sudah membawanya ke taman. Berikan ini dan katakan sesuatu untuk menunjukkan ketulusan mu."
Rocky memberikan bunga, balon dan coklat padaku lalu pergi. Sebuah permintaan maaf yang sangat klasik pada wanita.
Tapi bukan itu poinku, minta maaf dengan Olivia menggunakan bunga, balon dan coklat adalah episode yang sudah ku baca. Dan badboy sok kaya bernama Arion ini mengacaukan semuanya setelah mengajaknya menikah dengan alasan yang tidak masuk akal.
"Oh jadi begini." Aku mulai mengerti apa yang harus ku lakukan. Akhirnya dengan langkah mantap aku berjalan menuju taman.
Entah kenapa aku merasa beruntung masuk ke novel ini sebagai Arion yang digambarkan kaya raya, pintar, tampan dan rupawan. Benar-benar idaman authornya! Maksudku idaman semua wanita.
Tapi bagaimanapun aku lebih unggul dari Arion. Meskipun otak kami sama-sama jenius, soal percintaan dia nol, beda denganku yang sudah berpengalaman dengan banyak wanita. Kemampuanku jauh diatas tuan muda sombong itu. Aku yakin Olivia akan langsung menerimaku.
Dan benar saja gadis itu sedang berdiri di taman seperti yang Rocky katakan. Gadis polos yang mau saja mengikuti pesan rahasia yang Rocky berikan padanya. Permainan klasik berhitung sampai seratus itu ternyata masih berhasil menarik wanita.
"Olivia."
Aku sengaja berdiri di belakangnya dan memanggil namanya saat ia telah selesai berhitung agar tak berakhir kaget seperti di novel. Tapi ternyata wajah pria kejam yang ada di diriku ini masih membuatnya terkejut saat ia menoleh ke belakang.
Untung saja tangan ku sigap menangkap tubuh Olivia yang hampir terjatuh. Dan saat mata kami saling bertemu pandang, aku bisa melihat kecantikan Olivia dari dekat. Memang cantik seperti yang ditulis di novel.
Tentu saja aku sudah punya beberapa wanita incaran di dunia realku. Tapi melihat paras Olivia yang cantik, aku jadi menginginkan gadis lugu dan polos ini juga. Si bodoh ini saja yang otaknya lamban berpikir. Akan ku tunjukkan padanya bagaimana memikat perempuan dengan benar.
"Tuan memanggil namaku?" Tanya Olivia.
Pelajaran pertama memikat hati wanita adalah panggil namanya dengan benar. Hal dasar seperti ini saja Arion tidak mengerti. Pantas saja ditakuti.
"Aku ingin meminta maaf atas semua yang telah ku lakukan selama ini. Kesalahanku karena sudah banyak menyakitimu."
Hal kedua yang perlu dilakukan saat meminta maaf dengan wanita yang kita cintai adalah jangan bertele-tele. Minta maaf langsung pada akarnya dan tidak membela diri. Sesuatu yang tidak dimiliki pria sombong dan bergengsi tinggi ini.
"Maafkan aku." Jangan lupa bumbui dengan nada pelan dan tenang.
Olivia tak menjawab apapun. Hanya menatapku dengan mata yang tidak berkedip sedikit pun. Ia mungkin terpesona dengan permintaan maaf ku yang sangat tulus.
Lihat? Jika laki-laki tertarik lewat mata, perempuan akan jatuh cinta lewat telinga. Apalagi ucapan maaf yang tulus, tidak banyak alasan, hati perempuan mana yang tidak luluh.
"Bisakah kamu memaafkan ku, Olivia?" Tanyaku sambil memberikan balon, bunga dan coklat padanya.
"Abiyasa!"
Tiba-tiba seseorang mengagetkanku. Ku pikir Rocky akan mengacaukan rencananya sendiri tapi tak mungkin Rocky mengetahui identitas asliku.
"Gimana? Jadi ikut ke kantin nggak?"
Akhirnya pertanyaan itu membuyarkan lamunanku. Ah rupanya seorang teman kerja yang menyapa lewat balik pintu ruang kerjaku. Aku mengangkat tanganku mengusirnya pergi. Aku kesal karena mimpiku dikacaukan oleh orang ini. Padahal aku masih ingin mendengar Olivia menerima maafku.
"Duluan saja. Nanti aku nyusul."
Aku mengusap wajah ku dan segera membereskan meja kerjaku, menutup aplikasi yang masih tersisa episode yang tadi ku baca lalu menyusul temanku untuk makan siang sebelum waktunya habis.
Ah sudahlah, meskipun aku tidak jadi mendapatkan si gadis cantik Olivia, paling tidak begini yang ku inginkan dari tokoh berdarah dingin itu saat mengejar wanita yang dicintainya. Olivia ternyata memang hanya untuk Arion bukan Abiyasa.
*inspirasi: Menikah Dengan Penguasa Sombong karya Yuniar
*hanya game cerpen, tidak bermaksud menciderai karakter tokoh yang sedang di bangun sang author