Sebenarnya ini mau dibuat pas bagian di novel tapi karna lagi males buat sampai bagian itu, jadi pengen buat di cerpen aja sekalian curhat dan menggabut di kosan.
Di suatu villa
" Sayang kita balik duluan ke kota ya soalnya aku gak enak badan " ujar Firli.
" Yaudah boleh sayang kamu siap-siap gih " ujar Rakka.
" Oke sayang " tukas Firli.
" Mau balik sekarang ke kota ka ? " ujar Raisa.
" Iya sa soalnya Firli gak enak badan, ohh iya aku mau kasih tau Yasmin dulu ya siapa tau dia mau balik sekarang aja sama aku sama Firli " ujar Rakka.
" Gak usah ka biarin aja Yasmin disini dulu biar dia balik sama aku sama Zen aja besok, pasti Yasmin belum puaskan nikmatin liburnya nanti Yasmin tetap tidur sama akulah tenang aja " ujar Raisa.
" Iya boleh aja sa tapi aku tetap mau ngomong sama dia dulu " ujar Rakka.
Akhirnya Rakka pun menemui Yasmin di taman villa dan mengatakan hal tadi yang dia perbincangkan dengan Raisa.
" Yaudah gakpapa ka kalo kamu mau balik duluan sama Firli takutnya nanti keadaan Firli makin parah, aku baliknya sama Raisa sama Zen aja besok soalnya aku masih pengen nikmatin pemandangan disini ka " ucap Yasmin.
" Kamu yakin yas gak mau balik sama aku sekarang, aku gak mau kamu cuma jadi penonton buat Raisa sama Zen di sini yas " ujar Rakka.
" Hahhhhahaahahha kamu lucu ya ka " ucap Yasmin sembari menyembunyikan luka yang ia rasa.
" Loh kenapa kamu malah ketawa yas ada yang lucu emangnya ? " ujar Rakka penuh heran.
" Gini kamu bilang kamu gak mau aku di sini nanti aku cuma jadi penonton ke uwuan Raisa sama Zen, padahalkan dari awal kita di sini aku udah jadi penonton dua couple kalian cuople Zen sama couple kamu Rakka.
Udah aku gakpapa justru aku beruntung punya sahabat kayak kalian masih mau ajakin aku buat jalan-jalan bareng yakan, yaudah kamu siap-siap gih ntar Firli malah kelamaan nungguin kamu " ujar Yasmin.
" Kami emang perempuan berhati bidadari Yasmin aku janji kalo aku bakalan jagain kamu terus sampai kapanpun itu " batin Rakka.
Akhirnya Rakka dan Firli pun menuju kota dan meninggalkan mereka bertiga ya, ada Yasmin, Raisa dan Zen.
" Zen kita beli sarapan yuk aku belum sarapan lo " ujar Raisa.
" Yaudah boleh sayang apa sih yang enggak buat kamu " ujar Zen.
" Zen kamu apa-apaan sih masa iya kamu manggil aku sayang di depan Yasmin kamu gak ngehargain Yasmin lo Zen " ujar Raisa.
" Iya sa " ucap Yasmin.
" Ahhh Yasmin baik banget lo, mau ikut sarapan bareng kita gak yas di luar ? " ujar Raisa.
" Bol........ " ucap Yasmin terhenti di sela Zen.
" Biar nanti kami beliin aja sarapannya maukan ? " ujar Zen.
" Ya Allah Zen kamu gitu banget sama aku ya mau gimana lagi ini kenyataannya " batin Yasmin.
" Yaudah kita jalan dulu ya yas nanti kita beliin sarapannya dahhhh Yasmin " ujar Raisa.
Hari terus berganti pagi, siang, sore, malam dan kembali berganti pagi. Hari ini Yasmin, Zen dan Raisa kembali ke kota namun mereka memilih berangkat sore hari karna Raisa masih ingin menikmati beberapa tempat wisata sebelum kembali ke kota.
Dan sudah pastinya Yasmin hanya bisa mandiri dan terbiasa melihat kemesraan Raisa dan Zen, bahkan Yasmin dijadikan sebagai fotographer mereka.
" Aku bahagia bisa mengenalmu dan kau anggap sebagai temanmu tapi, dia lebih bahagia bisa dicintai olehmu dan menjadi kekasihmu " batin Yasmin.
Setelah beberapa jam kemudian pukul sudah munjukkan 17:47 sudah semakin redup cahaya penerang kehidupan.
Raisa sudah tertidur dan tentunya duduk di depan di samping Zen, sedangkan Yasmin duduk di belakang dan masih terbangun.
" Zen " ucap Yasmin.
" Hemmm ada apa ? " ketus Zen.
" Maaf kalo mengganggu kamu Zen tapi, aku cuma mau minta tolong sama kamu buat berhenti sebentar ditempat yang ada kamar mandinya soalnya aku kebelet banget " ucap Yasmin.
" Aduh nyusahin aja sih lu Yasmin lu gak liat disini tu cuma ada sawah gak ada rumah, mesjid apalagi toilet lu mau buang air di parit sawah " ketus Zen.
" Gak Zen seandainya nanti ada aku boleh minta tolong buat berhenti sebentar aja ya " ucap Yasmin sedikit takut plus nyesek.
Akhirnya Zen melihat ada sebuah mesjid tua yang berada di tengah persawahan dan memutuskan berhenti disana.
" Tu ada mesjid tu lu turun deh dari pada makin nyusahin nantinya " ketus Zen.
" Iya Zen makasih ya " ucap Yasmin.
" Bisa gak lu turun aja gak usah banyak drama " celoteh Zen sembari menghadap ke depan.
" Uhhh sabar yas " ucap Yasmin.
" Hallo brother Zen ada kabar darurat ni " telpon teman Zen.
" Kabar darurat masalah apa bro " ujar Zen sedikit panik.
" Soal acara yang bakal kita adain di kampus nanti kayaknya bro harus cepet-cepat balik deh " ujar teman Zen.
" Oke bro makasih infonya gue udah otw kota ni tungguin aja " ujar Zen mengakhiri telpon.
Dan tanpa Zen sadari setelah mengakhir telpon dia langsung tancap gas menuju kota, sebelum Yasmin kembali ke mobil akhirnya Yasminpun tertinggal di persawahaan luas tanpa ada rumah penduduk satupun.