Libur telah usai, kini waktunya kembali ke sekolah. Belajar dan bercanda bersama teman-teman, namun kenaikan kelas selalu memberikan kejutan untuk semua siswa dan siswi. Pembagian kelas baru dan teman baru, membuat antusiasme semangat baru dan wajah kusam beberapa murid yang enggan berpisah dari teman sebangku atau sekelasnya.
Termasuk gadis bermata hitam dengan pipi chubby. Semua murid kelas 7A memanggil gadis itu Natasha, si pemilik pipi Chubby.
"Nat, udah lihat pengumuman belom?" tanya Eza dengan tas ransel gepeng yang pastinya tak ada isinya kecuali satu buku tulis dan satu pulpen.
Natasha menggelengkan kepala dan masih sibuk memperhatikan para murid yang hilir mudik, hingga satu siswa nampak berjalan ke arah tempat Natasha duduk bersama Eza. "Boleh bicara?"
"Bicara tinggal bicara bro! Ngapain pake izin segala." tukas Eza ketus sontak membuat Natasha menginjak kaki teman sekelasnya itu.
Natasha memilih berdiri, dan memberikan kode mata agar siswa populer yang selalu dingin itu berbicara ditempat lain. Keduanya berjalan menuju lorong dekat kantin dan berhenti di satu bangku paling sudut. "Ada apa ka?"
"Kapan aku mendapatkan jawabannya? Ini sudah waktunya." tanya Bastian dengan lembut.
Natasha mengerjapkan mata. Sejenak ingatannya kembali diwaktu sebelum liburan, dimana tiba-tiba Bastian menyatakan cinta tanpa angin ataupun hujan. Dan dengan spontannya, jawaban Natasha akan datang setelah liburan berakhir. Kini waktunya penagihan janji.
"Jujur aku tidak tahu apa itu cinta. Apakah adil mengatakan aku setuju? Apakah hubungan tanpa dasar menjadi jalan terbaik?" Natasha menghela nafas, yah itulah perasaan miliknya saat ini.
Bastian mengangguk. "Maaf dan terimakasih. Anggap kita tak saling kenal mulai detik ini."
Langkah kaki Bastian menjauh, hati Natasha merasa tersudut. Apakah benar ini yang dirinya mau? Bunyi bel tanda masuk kelas, membuat Natasha enggan melangkahkan kakinya. Untung Eza dengan setia menunggu ditempat yang sama setelah memastikan kelas baru keduanya.
"Ayo! Kita masih sekelas, pokoknya kali ini kita sebangku!" tukas Eza dengan semangat 45.
Natasha hanya bisa mengekor, hingga memasuki kelas 8A. Hampir seluruh bangku sudah berisi, dan Eza menarik tangannya tanpa permisi. Sejak masuk kelas, ntah kenapa rasanya ada yang memperhatikan, membuat Natasha memandang seluruh isi kelas. Matanya terhenti di sudut, dimana pria dingin dengan popularitas yang memukau sudah membuang muka.
Jarak yang dulu masih bisa dicapai, kini seperti mimpi. Hingga perdebatan singkat yang Natasha dengar, membuat hatinya tertusuk.
"Bro, itu bangkuku! Ayolah balik kesana!"
Bastian menatap tajam siswa yang mengajaknya berdebat, karena perpindahan tempat duduk tanpa izin si pemilik bangku. "Aku tidak peduli."