Buk... buk.. dug...
Suara pukulan demi pukulan terdengar begitu jelas di telinga Jingga. Meskipun matanya buta, tetap saja telinganya mendengar kericuhan itu dengan jelas. Hingga suara pukulan berhenti, berganti langkah kaki mendekati Hingga. Aroma parfum kalem tercium, membuat Hingga tersenyum lega. "Lex, bagaimana kamu..."
"Sttt! Ayo, aku obati dulu luka mu." Alex menggandeng tangan Jingga meninggalkan segerombolan anak nakal yang terkapar di basement.
Setelah berjalan selama sepuluh menit, akhirnya Jingga dan Alex duduk dibangku taman. Dengan cekatan Alex membersihkan luka goresan di lutut Jingga. sesekali meniupnya agar Jingga tak merasakan perih. "Kenapa keluar tanpa mengabariku?"
"Aku hanya ingin jalan-jalan. Apa ada yang salah? Tapi apa yang kamu lakukan pada anak-anak itu? Apakah kamu terluka?" cecar Jingga dengan meraba wajah Alex.
Alex menahan pergerakan tangan Jingga, kini tangan Alex menangkup wajah Jingga dengan kasih sayang. "Aku baik! Tidak akan kubiarkan siapapun menyentuhmu dan melukaimu. I'm your guardian, right?"
Jingga mengangguk dengan senyuman termanis terbit dari bibirnya. Alex hanya ingin menjadi penjaganya, hampir sepanjang hidup Jingga. Hanya Alex yang selalu menjadi matanya.
"No one can touch you Jingga. I'am always with you." Alex mengusap kepala Jingga dengan gemas.