"Diantara kita, jika ada yang harus pergi, itu adalah kau! Qi yi rong, pergilah ke neraka!"
____________________________
Demi mendapatkan perhatian xu Jian, Li mu Yen telah melakukan banyak hal. Siapa sangka, mempekerjakan sepupunya di kediaman XU menjadi awal rasa sakitnya. Semakin hari semakin membuatnya jauh dari kata 'waras'.
Li mu Yen selalu berpikir, dia adalah orang yang paling memahami Xu jin. Tak pernah ia duga, alasan hilangnya sikap hangat Xu jin selama ini adalah yi rong.
Qi yi rong ternyata cinta yang telah terukir lama di hati Xu jin. Mereka bertemu secara tidak sengaja di acara pameran lukisan tahun itu. Pada saat itu, Xu jin tidak sengaja merusak lukisan yi rong.
"Maaf, aku tidak sengaja.'' Xu jin menabrak seorang wanita.
"Sudahlah!" Yi rong menghembuskan nafas berat.
"Berapa?" Xu jin merasa bersalah.
"Lupakan!" Yi rong melewatinya.
Karena tergesa-gesa, yi rong meninggalkan tempat seperti bayangan. Xu jin memungut lukisan yang telah robek. Dia berusaha menyatukannya. setelah di perbaiki, lukisan itu tampak biasa saja. Namun, berhasil menyentuh hatinya.
Sejak saat itu, Xu jin selalu berharap bisa bertemu kembali dengan yi rong. Karena yi rong telah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Setelah sekian lama, Xu jin berhasil menemukan yi rong. Tapi pertemuan ini, membuat kepribadiannya berubah drastis. Yi rong bertunangan dengan salah satu koleganya. Xu jin frustasi hingga membenamkan diri di antara minuman keras.
Setelah bertahun-tahun lamanya, Xu jin dipertemukan kembali dengan yi rong. Atas rekomendasi asisten pribadinya yang tidak lain adalah Li mu Yen. Yi rong dipercaya memegang akuntan keluarga Xu karena kinerjanya yang bagus, sebelumnya dia hanya asisten di bagian akuntansi.
Setelah pertemuannya dengan yi rong. Xu jin menyelidiki status yi rong. Dia mengetahui bahwa pertunangan yi rong dibatalkan karena yi rong menggelapkan kekayaan keluarga Lu yang merupakan keluarga tunangannya. Yi rong disukai tuan muda ketiga keluarga Lu, Lu xian. Xu jin menyelidiki lebih lanjut dan mengetahui yi rong sedang di jebak.
Dari karakter yi rong, Xu jin menebak semua itu tidak akan mampu ia lakukan. Sesuai dengan dugaannya, yi rong bukanlah orang yang buruk. Bahkan yi rong mempunyai sebuah yayasan yang menampung anak-anak terlantar. Keadaan ini membuat Xu jin semakin yakin untuk mendapatkan yi rong.
Cinta yang telah lama di terpendam dalam hati Li mu Yen berubah menjadi ambisi yang mengerikan setelah mengetahui kenyataan itu.
Dengan alasan berlibur, mu Yen mengajak yi rong melihat danau tiga warna. Siapa sangka, iblis di hati mu Yen menampakkan diri pada saat itu. Mu Yen tanpa ragu mendorong yi rong kedalamnya.
………………………………………..
Hooamm,,,ahhhh ngantuk.
…………………………………………
Nona, nona……
Seorang pemuda panik Ketika mendapati seorang perempuan pingsan di tepi danau.
"Tolong, tolong!"
Sebuah perahu menepi menghampiri mereka yang tidak berdaya.
"Adikku tenggelam. Tolong selamatkan dia."
Tanpa banyak bicara, pemuda itu menggendongnya ke atas perahu dan memberikan pertolongan.
"Kalian dari mana?" Pemuda itu tampak sopan.
"Oh, kami…..'berpikir' kami dari jauh, hendak mengadu nasib di tanah seberang." Pemuda itu berbohong.
"Huft, silahkan tinggal disini beberapa hari. Setelah kalian menemukan tempat, kalian bisa pindah."
"Terimakasih, Tuan!"
"Saya, Mu Qing!"
"Hmm, 'mengangguk' panggil saja Yang Di." Pemuda itu segera meninggalkan tempat setelah membaringkan Yi rong.
Tiga hari telah berlalu,
Uhuk, uhuk,...
"Ah, kau sudah bangun?" Mu Qing merawat Yi rong.
"........" Bingung, Linglung
Dimana ini, mengapa aku berpakaian seperti ini? Apa yang terjadi?
"Aku Mu Qing, siapa namamu? Aku menemukanmu di tepi danau tiga warna." Berbisik.
"..........." Masih bingung.
Danau tiga warna? Bukankah itu novel yang sedang aku baca?
"Hmmm, dan lagi, sekarang kita adalah……" berpikir hati-hati.
Apa! Aku…..Yi rong? Qi yi rong? 'menepuk kedua pipi' tidak! Ini mimpi! Ya, ini mimpi.
"Auuhh!" Yi rong Mencubit tangan sendirinya sendiri.
"Apa yang kamu rasakan?" Mu Qing tampak panik.
"......." menggeleng.
"Adik, sepertinya kamu baik-baik saja. Makanlah, setelah itu bersihkan dirimu. Beristirahatlah sejenak, aku akan mencari tempat tinggal."
"Kita..... dimana?"
"Tuan Yang Di mengizinkan kita tinggal di sini, dia yang menolong kita. Tapi, kita tidak boleh berlama-lama."
"Maksudku....kita sedang berada di mana?"
"Oh, ini desa nelayan. aku akan mencari tempat tinggal. Makanlah, setelah itu bersihkan dirimu."
"Baik, aku akan menunggumu."
Di negeri orang kedua orang ini berusaha saling mengandalkan. Desa nelayan adalah desa miskin dengan sedikit penghuni. Apapun alasannya mereka harus tetap hidup.
Mu Qing mengelilingi kampung nelayan untuk mendapatkan pekerjaan dan juga tempat tinggal. Setelah melewati lembah, Mu Qing bertemu dengan sekelompok orang membawa perbekalan.
"Selamat siang,"
Mu Qing bersikap ramah, namun mereka seolah sedang waspada. Seorang pemuda keluar dari kereta. Dilihat dari pakaiannya, pemuda itu tampak elegan. Berbalut sutera, wajahnya berkilau bak mahkota raja.
"Kamu, siapa?" Pemuda itu menyembunyikan kewaspadaannya.
"Saya Mu Qing, saya sedang mencari pekerjaan. Apakah saya bisa membantu di sini?"
Merasa tidak mencurigakan, pemuda itu menerima Mu Qing sebagai kuli panggul. Mu Qing harus memindahkan barang perbekalan dari gudang ke atas gerobak.
Tujuan mencari tempat tinggal tidak terealisasi, karena Mu Qing harus segera menyelesaikan pekerjaannya. Tiga hari, Mu Qing tidak pulang. Tanpa kabar, Mu rong mulai resah. Namun tidak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu.
"Rong'er, rong'er……."
Mu Qing panik Ketika mendapati rumahnya kosong. Dia berlari ke luar, bertanya ke setiap sudut kampung.
"Rong'er!"
Mu Qing bernafas lega melihat Mu rong di tepi pantai. Dengan penuh semangat, Mu Qing menghamburkan diri memeluk Mu rong. Dengan tergesa-gesa dia mengusap matanya yang telah basah selama perjalanan.
"Rong'er, syukurlah aku menemukanmu."
"Kemana saja kamu pergi? Aku pikir kamu tidak akan pernah kembali."
Siapa yang tahu perasaan tidak karuan dalam hati Mu rong. Ketakutan di negeri orang membuatnya sedikit linglung.
"Ayo kita pulang, aku membawa banyak makanan." Mu Qing tidak sabar berbagi kebahagiaan dengan Mu rong.
"Satu jam lagi, tunggu aku di sana."
Duduk di atas batu, Mu Qing diam-diam mengagumi Mu rong.
Ada apa dengan dadaku?
Perasaan gelisah mengganggu Mu Qing. Tanpa disadari, dia mempunyai ketertarikan terhadap Mu rong.
"Ayo kita pulang!"
Setelah susah payah mengatur ritme jantungnya, Mu Qing bergegas mengikuti langkah Mu rong.
"Rong'er, kita harus segera pindah. Aku telah menemukan tempat tinggal."
"Bagaimana dengan Tuan Yang Di?, Oh, maksudku apa tidak perlu berpamitan dulu?"
"Aku tidak tahu, apa dia tidak pernah datang?"
Dengan raut wajah yang rumit, Mu rong menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah kita pindah dulu, kapanpun kita bertemu kita akan akan berterima kasih. Sejujurnya, aku juga tidak mengenalnya. Dia yang membantu kita menyebrang."
Tanpa banyak tanya, Mu rong menyelaraskan langkahnya agar tidak tertinggal.
Mu Qing sangat antusias memperlihatkan berbagai makanan yang ia bawa.
"Makanlah,"
Mu Qing memperhatikan raut wajah Mu rong yang mulai berubah. Saat menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, Mu rong tidak bisa membendung air matanya.
"Rong'er……"
Seolah tercekat, Mu Qing tidak tahu apa yang harus dia katakan.
"Aku…. Merindukannya…"
Sontak jawaban Mu rong membuat Mu Qing linglung.
Dia, sudah ada seseorang.
"Ini…. sangat enak."
Dengan suara terbata, Mu rong mencoba berterima kasih.
………………………………………..
FLASHBACK
Salju pertama turun di tahun itu, Xu jin membawa Yi rong ke villanya. Hari itu, untuk pertama kalinya mereka pergi berdua.
"Yi rong, dalam hidupmu, apa yang paling ingin kamu capai?"
Xu jin ingin lebih dekat dengan Yi rong. Dia tahu, Yi rong adalah orang yang tidak mementingkan keinginannya. Karena telah lama keluar Qi jatuh, Yi rong harus bekerja keras bertahan hidup.
Langkah demi langkah, ia lakukan dengan hati-hati. Hingga suatu saat, demi membayar judi ibu tirinya Yi rong harus bertunangan dengan keluarga Lu.
Pada saat itu, Yi rong tidak mengerti apa itu cinta. Yang ia tahu, dia harus menyelamatkan kediaman Qi. Peninggalan terakhir ayahnya.
Xu jin tidak ingin menjadi Lu Xian kedua, yang memaksakan kehendaknya demi wanita. Karena itu dia harus mendekati Yi rong secara perlahan.
Setelah bertunangan dengan keluarga Lu, Yi rong mendapatkan kembali kediaman Qi. Itu adalah syarat atas pertunangan itu.
Karena merasa kediaman sangat kosong, dia mengajak teman-temannya di panti asuhan untuk tinggal. Agar mereka tidak perlu membayar sewa rumah.
Yi rong mengubah halaman belakang menjadi ramai. Rumah utama di biarkan kosong. Mereka, mengatur waktu bergantian membersihkan.
Yi rong sangat bahagia, menjabat sebagai akuntan keluarga Lu tidaklah mudah. Yi rong berkali-kali di fitnah agar keluar dari sana. Hingga akhirnya, Yi rong mengetahui kekejaman Lu Xian terhadap selir-selirnya. Pada saat itu, Yi rong memutuskan untuk menyerah. Dia harus hidup meski tanpa dukungan. Dia menerima tuduhan salah satu selir Lu Xian atas penggelapan dana belanja.
Yi rong menerima 100 cambukan. Dengan begitu banyak luka, Yi rong di pulangkan ke kediaman Qi. Semua itu tidak lepas dari pertolongan Xu jin.
Saat itu, Xu jin berkunjung ke rumah keluarga Lu. Dia ingin menjalin hubungan kerja sama dengan keluarga Lu. Xu jin mendengar suara pukulan. Xu jin, meminta keluarga Lu mengampuni orang tersebut dengan syarat pembagian keuntungan 60:40 atas keluarga Lu. Entah ketulusan dari mana, Xu jin menyetujuinya tanpa tahu siapa yang sedang menjalani hukuman.
Menghela nafas berat, Yi rong menjelaskan bahwa dirinya adalah wanita lemah. Dia hanya ingin bertahan hidup.
Diam-diam Xu jin menjadi donatur kediaman Qi. Sebagai saudagar kaya, Xu jin merasa takjub dengan Yi rong. Wanita lemah dia bilang, wanita yang bekerja demi menghidupi anak-anak tanpa keluarga. Menjual lukisan di pinggir jalan, hingga mengeringkan kain di tempat pewarnaan. Dia melakukan pekerjaan kasar demi mendapatkan beberapa uang.
"Yi rong, setelah tertutup salju, pohon akan terlihat lebih indah."
"Ya,"
Yi rong tidak mengerti apa yang dimaksud, dia hanya menyetujui pernyataan Xu jin.
"Yi rong, setelah pertunangan….."
"Tidak masalah, aku bisa bekerja keras. Aku akan baik-baik saja."
"Hmm, baguslah!"
Kediaman XU terasa begitu sepi, Li Mu yen mendengar kabar bahwa Xu jin sedang berada di villa pribadinya merasa bersemangat untuk menemuinya.
"Yi rong, bisakah kita berdua bersama?"
"Saya akan menemani Anda, Tuan."
"Tidak, maksudku…aku menyukaimu sejak aku merusak lukisan kamu."
"Lukisan?"
Xu jin menunjukkan sebuah lukisan yang telah diperbaiki.
"Ini…."
"Kamu meninggalkannya begitu saja,"
"Oh, maaf saat itu saya terlalu panik karena rumah saya akan di lelang."
Jadi dia menerima pertunangan demi mempertahankan rumahnya, bukan karena menyukai Lu Xian.
"Yi rong, aku .... bisakah kita bersama?"
Xu jin mengulang pertanyaannya, dia memberikan gelang giok sebagai tanda ketulusannya.
"Ini….."
"Yi rong, aku tahu hubunganmu dengan keluarga Lu, tapi aku telah menyukaimu sebelum itu 'menunjukkan beberapa lukisan' apa kau mengingatku?"
Yi rong baru menyadari bahwa Xu jin, adalah orang yang selalu memberikan semangat kepadanya. Dia adalah orang yang begitu setia menunggu karyanya. Yi rong merasa terharu. Pada saat ia terpuruk, ternyata Xu jin lah yang telah menyelamatkannya. Saat itu dia berjanji kepada dirinya, jika diberi kesempatan untuk bertemu dia akan mengabulkan semua permintaannya.
Xu jin tidak pernah datang sendiri ke tempat Yi rong, dia selalu mengirimkan seseorang teman ke sana. Orang itu tidak lain adalah Su wan, pengurus panti asuhan keluarga Qi.
Aku telah berjanji, untuk mengabulkan semua keinginannya.
"Yi rong?"
"Baiklah!"
Melebarkan matanya, Xu jin tidak menyangka akan jawaban Yi rong. Refleks dia memeluk erat Yi rong. Tanpa mereka sadari, Mu yen menyalakan api dalam hatinya.
Sejak saat itu, hari-hari Mu yen menjadi tidak tenang. Setiap hari dia menyaksikan adegan romantis yang dilakukan Xu jin terhadap Yi rong. Iblis di hatinya selalu menyarankan untuk menyingkirkan Yi rong sebelum pernikahan. Namun, Mu Yen tertinggal satu langkah. Xu jin telah mendaftarkan pernikahannya lebih cepat. Hal ini membuat Mu Yen naik pitam.
…………………………………………
"Rong'er, menangislah! Ada kakak, semua akan baik-baik saja."
"Kami telah menikah, apakah aku bisa kembali?"
"Pasti! Kakak….kita….akan kembali."
Mu Qing menepis semua perasaannya terhadap Mu rong. Merasa bersalah telah membawa Mu rong bersamanya. Baginya, asal tetap bersama sudah cukup.
Setiap hari, Mu Qing masih bekerja sebagai kuli panggul. Karena rumahnya terlalu jauh, Mu Qing jarang pulang. Dia memilih menetap di gudang, hanya sesekali dia pulang ketika mendapat upahnya.
Mu rong, masih bekerja sebagai pengering ikan. Gajinya tidak seberapa, tapi dia sangat antusias agar bisa segera kembali.
"Rong'er, rong'er….."
Mu Qing panik mendapati rumahnya berantakan tanpa adanya Mu rong. Dia berlari ke tempat pengeringan ikan. Di tepi pantai, dia melihat Mu rong tergeletak.
"Rong'er, rong'er….."
Mu Qing membawanya ke tabib. Mu rong hampir mati tenggelam.
"Rong'er, siapa yang melakukan ini?"
"Sepupuku, Mu Yen."
Mu Qing bingung, mereka bersaudara, mengapa tega melakukan ini.
Mu Yen melihat Mu rong berbelanja di pasar. Hari ini, dia tahu Mu Qing akan pulang. Dia ingin menyambutnya dengan baik. Tanpa sengaja, dia bertemu Li Mu yen yang sedang mengurus perbekalan.
Keluarga Xu memiliki kerjasama dengan saudagar di seberang. Mu yen dipercaya mengurus bisnis ini. Karena itu Mu yen sering keluar.
Setahun telah berlalu, keluarga Xu memperluas pencariannya terhadap Yi rong. Semua ini, tidak lain karena harapan-harapan palsu yang diberikan oleh Mu Yen terhadap Xu jin. Siapa sangka, Mu yen benar-benar bertemu Yi rong. Sebelum Xu jin mengetahuinya, mu Yen telah bertindak.
Musim dingin telah tiba , di desa ini mereka harus menyiapkan diri agar tidak membeku. Salju telah turun bergantian membuat gunung-gunung tampak tua. Desiran angin menusuk ke tulang rusuk.
"Mu Qing, apa yang kamu lakukan?"
"Jerami telah mengembun, kamu tidak akan nyaman tidur di atasnya." Mu Qing mengganti alas tidur Yi rong.
"Mu Qing, aku bisa melakukannya....."
"Kamu tidak tahan dingin, sebaiknya mendekatlah di perapian."
"Mu Qing, apa yang terjadi? mengapa desa terasa ramai?"
"Oh, seseorang dari kota sedang mencari istrinya yang hilang."
Suara ketukan pintu membuat Yi rong pergi membukanya.
"Nyonya muda!"
Yi rong terkejut dengan sebutan itu,
"Yi rong!" Xu jin memeluknya erat.
"Xu jin....!"