*** Sabtu, 14 Mei 2022 ***
Hati yang resah gelisah sesaat mendengar suara di ujung sana, mengabari bahwa sosok yang menjadi panutan penuh kasih sayang harus dilarikan ke rumah sakit. Ibu ! Ya..sosok yang selalu aku sayangi dan berusaha untuk aku bahagiakan. Kini tertidur lemah di kamar rumah sakit. Aku yang berada jauh di kota rantau mulai merasa tidak tenang, takut akan terjadi sesuatu dengan ibu, walaupun kini ada ayah dan adik yang sedang menjaga ibu. Sore kuputuskan untuk pergi menjenguk ibu dengan meminta izin kepada atasan 3 hari untuk merawat Ibu. Alhamdulillah urusan perizinan berjalan dengan lancar, dan aku langsung berangkat kemabali menuju kota dimana aku di besarkan.
Ada hati yang sedih ketika melihat ibu yang terbaring lemah mengeluh sakit dan semua makanan yang masuk ke tubuh seakan tidak menerima dan akhirnya keluar lagi dari mulut ibu. Mau menangis melihat ini, aah tapi tak mungkin ! Aku harus kuat dan ceria demi kesembuhan ibu. Setiap sujud selalu aku berdoa untuk kesembuhan ibu, dengan harapan ibu akan secepat nya keluar dari sini dan bisa kembali ceria seperti sedia kala.
Ayah.. Kulihat garis wajah yang memang sudah tidak muda lagi, ada kesedihan yang terpancar melihat ibu yang belum kunjung membaik. Disinilah akau melihat betapa kuat nya cinta kasih ayah kepada ibu, yang senantiasa sabar menunggui ibu dan selalu berusaha memberikan pelayanan terbaik ketika ibu butuh sesuatu. Ya Allah.. hati ini kembali terenyuh melihat keadaan seperti ini. Melihat Ibu yang lemah di pembaringan tempat tidur dan melihat ayah yang kurang istirahat. Semoga keadaan cepat kembali seperti sedia kala.
*** Minggu, 15 Mei 2022 ***
Malam itu Jam menunjukkan pukul 10 malam, dimana ayah bersiap- siap untuk beristirahat dan aku bertugas menjaga ibu.Namun belum sempat ayah tertidur, aku memanggil ayah karena ibu mulai gelisah tidak bisa tidur. Menghadap ke kiri dan ke kanan, duduk bersandar, dan berbaring lagi sudah dilakukan berkali- kali oleh ibu karena merasakan sakit di bagian punggung ibu. Ayah dengan sabar melakukan pijatan ke punggung ibu sementara aku memanggil perawat yang ada di ruangan untuk segera memeriksa keadaan ibu.
Tak lama kemudian dua orang perawat masuk ke kamar ibu dan mulai melakukan pemeriksaan.
"Ini kenapa ya buk, kok obat tidur nya tidak mempan ?" Ucap ayah kepada salah seorang petugas.
iya, ibu diberikan obat tidur karena seharian kemarin ibu tidak tidur karena terus muntah - muntah sepanjang malam. Jadi petugas memberikan obat tidur malam ini dengan harapan ibu bisa istirahat.
"Tunggu sebentar ya pak, biar kita cek terlebih dahulu" Kata petugas seraya mengeluarkan sejenis suntikan dan peralatan lainnya yang aku pun tidak tau untuk apa.
"Mau di apakan buk ?" ucap ayah dengan gelisah
"Mau di ambil darah untuk diperiksa pak". Ujar petugas sabar.
"Bukan nya darah istri saya, tadi beberapa kali sudah diambil ? apakah tidak bisa digunakan yang itu saja ?" Ayah mulai menunjukkan wajah yang cemas dan emosi
"Tidak bisa Bapak, pemeriksaan nya berbeda pak, darah yang tadi sudah digunakan untuk pemeriksaan lain". Kata Petugas menjelaskan
"Saya kasihan buk, melihat istri saya. Keadaan nya lemah karna gak mau makan, dan darah nya sering juga diambil. Apakah nanti istri saya tidak kekurangan darah juga ?" Ayah berucap sembari berlinang air mata.
Melihat ibu yang semakin tidak ada tenaga dan ayah yang mulai berlinangan air mata. Ingin menangis sejadi-jadinya, tapi hanya bisa aku tahan, karena aku tidak ingin membuat ayah bertambah sedih.
Perawat kembali ke kamar ibu dan meminta aku untuk ikut ke ruangan nya.
"Mbak, dari hasil pemeriksaan kita, semua nya normal, tapi sebenarnya kondisi ibu sudah mulai melemah". Kata salah satu petugas.
Deg,, perasaan yang mulai tidak karuan. Mencoba mencerna setiap kata yang dilontarkan petugas kepada ku. Apa yang dimaksud petugas dengan keadaan ibu melemah? Apakah akan terjadi sesuatu pada ibu? Hati kecil ku selalu menduga-duga, pikiran-pikiran buruk sudah mulai merasuki. Aku mencoba menepis semua keresahan itu, dan meyakinkan diri bahwa ibu akan baik-baik saja.
Langkah yang lemah kembali memasuki kamar ibu. Kulihat ayah duduk di samping ibu dan ibu masih gelisah dengan tubuh nya.
Aku mendekati ibu, memegang tangan ibu yang terasa kurus dari biasanya. Merasakan ada aura dingin di tubuh ibu. Aku melihat wajah ibu, ada buliran keringat di dahi ibu.
"Panas sekali" Kata ibu sembari meminta ku untuk mengipasi beliau. Aku turuti keinginannya dengan selalu memegang tangan ibu yang dingin. Dalam hati aku berucap, kenapa ibu merasakan panas sementara tubuh ibu aku rasakan dingin ?
Tidak terasa waktu telah menunjukkan dini hari, semua nya tak terasa berlalu dan menghabiskan malam dengan rasa kekhawatiran dan meyakinj diri bahwa ibu akan segera pulih. Dari lamunan, sontak mendengar jeritan ayah yang memeluk ibu dan mencoba untuk membacakan doa-doa kepada ibu.
Aku langsung berteriak "Mamaaa". Kulihat wajah ibu yang pucat dan tatapan ibu yang kosong.
Aku memanggil petugas dan dengan segera mereka berlari menuju kamar ibu.
Ayah mulai menangis dan meratapi keadaan ibu, tak terasa air mata ku berlinang.
Lama ibu di periksa dan ibu mulai sadar kembali. Perawat yang juga nampak panik nampak keluar masuk kamar meminta Aku untuk terus mengajak ibu berbicara agar ibu tidak tidur dan pikiran ibu tidak kosong.
Langsung saja aku mengajak ibu untuk membaca zikir dan sholawat, sedangkan ayah mengurus segala sesuatu dengan perawat. Terus aku lantunkan zikir dan ibu mulai mengikuti.
Malam itu juga Ibu akan dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap peralatan nya karena disini keadaan ibu sudah semakin lemah. Namun Proses pemindahan ibu ke rumah sakit lain itu memakan waktu yang lama. Aku lihat ayah sudah bolak balik ke ruangan petugas untuk mendesak agar ibu segera dibawa dan segera ditangani. Namun apalah daya, kami hanya bisa menunggu. Aku yang terus fokus ke ibu tak henti membacakan zikir-zikir dan doa agar ibu mengikuti.
"Laa Ilaha Illallah, Muhammadar Rasulullah" Ayo bu, dibaca ya bu. Kata ku kepada ibu, dan ibu mengikuti.
"Sudah.. Ibu lelah, Ibu ngantuk" Kata ibu
"Belum bu, kita baca ini dulu ya bu, sambil menunggu kepindahan ibu ke rumah sakit lain" ucap ku menenangkan ibu.
Ibu ikut dengan kata ku, tapi sesekali aku dibuat kaget dengan ibu yang tiba-tiba hanya melihat dengan tatapan kosong. Segera aku memanggil ibu, berulang kali dan berhasil membawa kesadaran ibu lagi.
Akhirnya datang juga saat ibu akan dipindahkan ke rumah sakit lain. Ada harapan ibu akan ditangani lebih baik dan segera pulih. Bersamaan dengan turun nya hujan ibu mulai dibawa ambulance ke rumah sakit lain yang jarak nya tidak begitu jauh dari rumah sakit sebelumnya.
Aku dan Ayah yang ikut menemani ibu dimobil hanya bisa berdoa akan kesembuhan ibu. Hati yang mulai tidak tenang dan kaki yang berasa gemetaran. selalu memandang wajah ibu yang sudah lemah. tak ada kata terucap hanya doa yang dipanjatkan.
*** Senin, 16 Mei 2022 ***
03.30 tepat di beritahu bahwa ibu tidak bisa terselamatkan. Tubuh yang rasanya tidak bisa menopang diri, tangan yang gemetaran dan air mata yang bisa mengungkapkan bagaimana perasaan di kala itu. Rasa tidak percaya, rasa perkataan petugas yang bercanda, semua perasaan berkecamuk di dalam dada. Entahlah, kini sosok yang menjadi panutan di keluarga sudah tidak merasakan sakit lagi. Aku liat ayah yang terduduk menangis meratapi. Aku mendekati beliau dan memeluknya.
"Ayah..." nada bicara yang bergetar tak bisa ku teruskan.
Hanya bisa melihat ibu yang sudah tiada. Hati anak mana yang tidak sedih melihat sosok tempat bergantung kini terbujur kaku disana.
Azan subuh berkumandang, aku dan ayah mencoba menguatkan diri menerima kenyataan dan takdir yang sudah ditentukan sang maha pencipta. Mengambil hikmah dan menyakinkan bahwa ini jalan terbaik yang diberikan Allah.
Saat itu memberikan berita kepada adik dan saudara lainnya. Betapa kasihan melihat adik yang tidak sempat melihat detik-detik terakhir ibu.