Waktu menunjukkan tepat pukul 02.00 dinihari. Penjaga malam sudah berkeliling dengan memukulkan tiang listrik sebanyak 2x tanda sudah jam 2 dinihari. Namun aku masih saja berada di meja belajar sambil menulis cerita novelku di ponsel untuk dikirimkan ke salah satu platform novel online terkenal.
Tiba-tiba...
Listrik di wilayah ku mengalami pemadaman. Rasa kesal memenuhi relung hati ini. Kenapa harus jam segini PLN memadamkan listrik? Aku lalu mencoba mencari lilin ditempatnya. Kegelapan ini sungguh menyesak dadaku. Setelah ku menemukan tempat menaruh lilin, ternyata hanya ada bungkus nya saja.
"Mmm... ya udah. Mending beli aja di warung depan komplek yang 24 jam. Daripada tidak bisa tidur," pikirku dalam hati.
Aku pun bergegas mengambil kunci sepeda motor matic dan mengeluarkan motor matic kesayangan dari garasi dan kemudian mengendarainya menuju ke depan komplek. Tapi entah kenapa dinihari itu berkabut dan dingin. Aku terus melaju hingga keluar dari komplek.
"Hmm... ternyata seperti ini ya keluar komplek dinihari. Untung tadi bawa jaket. Jadi tidak terlalu dingin," pikirku.
Aku terus mencari warung yang buka 24 jam karena komplek perumahanku merupakan jalur dari pelabuhan. Pasti ada yang masih berjualan.
Tiba-tiba...
Aku menghentikan laju sepeda motorku ketika melihat sebuah mobil sedan merah sedang diberhentikan mobil avanza hitam. Kemudian supir mobil sedan merah tersebut keluar dan aku tahu dia siapa. Seperti tokoh Selvi dalam ceritaku Nuansa 5 Dara. Aku terus memperhatikan kejadian demi kejadian disana.
"Mbak.... awas....," teriakku ketika melihat salah seorang laki-laki membawa sebuah kayu hendak memukul kepala wanita itu.
Entah suaraku yang terlalu kecil atau mereka tidak mendengar, yang kutahu laki-laki tersebut berhasil memukul kepala wanita dengan kayu hingga si wanita itu terjatuh pingsan. Ingin rasanya kuteriak memanggil bantuan, namun karena suasana jalan begitu sepi dan tidak ada orang yang lewat, aku pun memberanikan diri mendekati mereka.
Para lelaki itu membawa si wanita yang jatuh pingsan ke dalam mobil avanza mereka. Lantas mobil itu pergi meninggalkan tempat kejadian.
"Ini kejahatan penculikan. Aku harus membuntuti mereka agar tahu lokasi mereka membawa korban," pikir ku dalam hati.
Aku lalu mengendarai sepeda motorku membuntuti mobil avanza hitam ini. Kucoba menjaga jarak agar mereka tidak curiga. Mobil itu mengarah ke komplek pergudangan dekat pelabuhan. Terlihat mereka keluar dari mobil dan memasuki salah satu gudang sambil membawa si wanita yang masih pingsan. Aku terus membuntuti mereka dan mencari tempat bersembunyi agar tidak ketahuan mereka. Ku coba mencari dimana ponselku untuk menghubungi polisi. Tapi aku baru ingat, ponselku tadi tertinggal diatas meja karena tadi rencananya hanya untuk membeli lilin, bukan untuk membuntuti penjahat.
"Ah sial. Kenapa tadi nggak kubawa saja ponsel. Kalau begini bagaimana caranya menghubungi polisi untuk melaporkan kasus ini," pikirku dalam hati.
Aku pun terus melihat-lihat sekitar untuk memastikan tidak ada yang melihatku. "Sebentar, kok aku merasa kenal dengan wanita yang diculik? Iya benar. Dia adalah Selvi. salah seorang tokohku dalam cerita Nuansa 5 Dara. Tapi mengapa yang kulihat ini seperti dalam ceritaku? Apakah aku bermimpi?" batinku sambil mencoba mencubit wajahku.
"Akhhh... sakit. Ternyata ini bukan mimpi. Ini nyata. Kok bisa?" Aku masih berpikir atas kejadian yang mengherankan ini.
Aku terus mengamati tingkah laku penculik itu. Setelah mereka mengikat si wanita yang mirip Selvi, mereka pun berkumpul di meja dan mulai main kartu.
"Kira-kira nanti berapa kita dapat dari bos atas usaha kita menangkap gadis ini?" kata salah seorang lelaki.
"Nanti kita tunggu bos aja. Kita minta bayaran yang besar. Lumayan buat jajan malam besok," balas lelaki yang lain.
"Tapi kalau dilihat-lihat, gadis yang kita culik ini manis juga. Pengen deh mencicipi nya," celutuk lelaki ketiga.
"Huss... sandera gak boleh di apa-apain dulu. Nanti malah berkurang jatah uang kita. Itu pikiran kotor cuci dulu dengan rinso, Togap!" kata lelaki kedua.
Sambil menyalakan rokoknya, lelaki ketiga yang disebut bernama Togap itu berkata, "Wan, kapan bos datang kesini?"
Lelaki pertama yang bernama Wawan itu berkata, "Tadi katanya bos dalam perjalanan kemari. Sekalian bawa minuman buat kita. Ayo sekarang siapa lagi yang jalan kartunya?"
Aku pun mengarahkan pandangan ke arah rolling door yang dibuka. Tampak lah seseorang masuk kedalam. Ternyata, itu Yudi. Tokoh dalam ceritaku yang merupakan tunangan dari Selvi, wanita yang mirip sekali dengan wanita yang diculik. Aku terus bersembunyi dan beruntungnya tempat persembunyianku agak terlindung karena merupakan tumpukan tali besar untuk kapal dan tumpukan karung berisi beras. Kali ini pandanganku tertuju lagi ke orang yang baru masuk tadi.
Mana buruan kalian?" tanya orang yang baru masuk.
"Itu bos," kata yang bernama Wawan sambil menunjuk ke arah si wanita.
Plak...plak...plak...
Orang itu memukul wajah mereka bertiga sambil berkata, "Kalian ini ngerti gak jadi penculik? Seharusnya kalian tutup juga matanya supaya dia tidak melihat kita!"
Sambil bertatapan, mereka bertiga saling menyalahkan,
"Wawan tadi bos yang lupa," kata yang bernama Seno.
"Kenapa aku yang disalahkan? Tuh tanya Togap yang ikat tuh cewek dan lakban mulutnya, tapi matanya dibiarkan terbuka," jawab Wawan membela diri.
"Lah aku tadi sudah mengerjakan semua. Kalian malah yang asyik duduk aja mulu!" bela yang bernama Togap dengan logat batak nya.
Pusing dengan pembelaan masing-masing, Si lelaki itu pun berkata dengan keras, "Sudah-sudah! Nggak becus semua kalian. Saling menyalahkan pula."
Lelaki itu pun mendekati si wanita dan berkata dengan sinis, "Hai sayang... kaget ya melihat aku disini?"
Si wanita yang mulutnya dibekap dengan isolasi mencoba untuk berbicara namun semua usahanya sia-sia. Melihat itu, lelaki itu pun membukakan penutup mulut si wanita.
"Kurang ajar kamu mas, Buat apa kamu menculik aku?" kata si wanita sambil meronta-ronta.
"Buat apa? Yang pasti aku masih mencintaimu dan nggak mau melepaskanmu?" balas lelaki sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Aku nggak sudi mencintai orang yang sudah menyelingkuhi ku. Lepaskan aku mas, kumohon!" pinta si wanita.
"Aku akan melepaskanmu kalau kamu mau menerimaku kembali dan kita menikah secepatnya," kata si lelaki dengan tertawa jahat.
CUIIIH...
Si wanita pun meludahi wajah si lelaki sambil berkata dengan intonasi nada yang tinggi, "Jangan harap aku mau menikah denganmu mas, Cepat lepaskan aku!"
"Hahaha... karena kamu bilang seperti itu, aku tidak akan melepaskanmu" jawab si lelaki sambil memegang tubuh si wanita.
"Mau apa kamu mas?" tanya si wanita sambil meronta-ronta.
"Aku akan memberikan kenikmatan agar kamu menjadi milikku seutuhnya," jawab si lelaki sambil melanjutkan apa yang dilakukannya.
Si wanita terus mencoba melawan dengan kondisi masih terikat tiba-tiba,
PRAK...
Tiba-tiba polisi berdatangan dan mulai mengepung tempat itu,
"Jangan bergerak! Tempat ini sudah dikepung!" perintah salah seorang polisi wanita yang memimpin penggrebekan.
"Lho kok polisi ini mirip Rachel di ceritaku? Ini bukan kebetulan lagi tapi benar-benar persis," pikirku dalam hati sambil terus melihat kejadian didepan mataku ini.
Semua yang ada di dalam termasuk si lelaki mengangkat tangan. Dengan cepat para polisi pun menangkap semua orang yang ada di dalam gudang. Lelaki itu pun ikut ditangkap dan dibawa oleh salah seorang polisi. Kemudian komandan polisi pun mendekati wanita yang diculik dan membuka ikatan tali yang mengikat tubuh si wanita.
"Terimakasih Hel sudah datang dan menyelamatkanku. Telat sedikit saja aku nggak tahu lagi apa yang terjadi. Mungkin aku sudah tidak suci lagi karena lelaki kurang ajar itu," kata si wanita korban penculikan sambil menangis memeluk komandan perempuan yang telah melepaskan ikatannya.
"Sudah merupakan kewajiban ku sebagai seorang polisi menolong orang yang diculik, dan juga karena dirimu sahabat sejatiku, sudah kewajiban ku untuk menolong sahabat yang dalam kesusahan," jawab polisi wanita itu sambil berusaha menenangkan wanita korban penculikan yang begitu ketakutan.
Mereka pun mulai berdiri dan bersiap meninggalkan tempat tersebut, namun tiba-tiba si lelaki bos dari penculik yang dipegang oleh salah seorang polisi mulai melawan dan secara cepat mengambil pistol polisi tersebut dan mengarahkan pistol itu ke arah si korban seraya berkata, "Aku tak bisa mendapatkanmu, kamu pun tak berhak lagi untuk hidup." Melihat kejadian itu, secara cepat polisi wanita pun melindungi tubuh korban dengan berdiri didepan korban,
DOR...
Suara tembakan pun terdengar, polisi wanita pun jatuh tersungkur karena peluru pistol itu tepat mengenai pundak kanannya. Dengan sigap para polisi yang lain menembak pelaku penembakan,
DOR...DOR...DOR...
Tubuh lelaki itu pun jatuh terkulai terkena tembakan dari para polisi yang menembaknya.
"Rachel...Rachel...Please tetap bertahan," teriak korban sambil menangis sambil mendekap tubuh polisi wanita yang terkulai lemah.
"Jangan menangis sahabat ku. Asalkan kamu selamat, aku sudah senang," kata si polwan sambil merintih menahan sakit.
"Aneh, kalau aku sekarang berada di dunia novelku, kenapa tadi waktu kucubit pipiku terasa sakit," batinku dalam hati sambil terus melihat kejadian di depan mataku
Para polisi yang lain bergegas mendekati si polwan bersama korban penculikan.
"Pak, tolong telepon ambulans secepatnya," pinta wanita korban penculikan kepada salah seorang Polisi.
"Siap bu," kata polisi tersebut sambil mengeluarkan ponselnya dan menelepon ambulans.
"Hel, kamu harus kuat ya. Please demi diriku," isak wanita itu.
Lima belas menit berselang, datanglah 2 ambulans dan beberapa petugas medis yang membantu menyelamatkan si polwan dan membawanya dengan tandu untuk dibawa ke mobil ambulans agar mendapatkan penanganan cepat sebelum sampai ke rumah sakit. Petugas yang lain mengangkat tubuh lelaki yang sudah terbujur karena terjangan timah panas para polisi yang menembaknya. Wanita korban penculikan mengikuti petugas medis yang membawa si polwan. Sedangkan polisi yang lain ada membawa tersangka yang merupakan anak buah lelaki yang tertembak ke mobil polisi untuk dibawa ke kantor polisi dan sisanya memeriksa TKP dan memasang garis kepolisian.
Setelah semua sudah meninggalkan gudang, aku pun keluar dari tempat persembunyian, namun alangkah terkejutnya karena ada seorang polisi yang memeriksa gudang. Aku pun dengan cepat mencoba bersembunyi kembali hingga tanpa sadar kakiku menyenggol sebuah tumpukan yang membuat tumpukan diatasnya tiba-tiba rubuh dan menimpaku. Aku pun merasa penglihatan ku menjadi gelap dan tubuhku tidak bisa digerakkan
"Donita... Donita...."
"Bentar, sepertinya aku kenal dengan suara ini. Seperti suara mamah," pikirku dalam hati.
Aku pun membuka mata, ternyata memang mamah.
"Aku dimana mah?" tanyaku.
"Kamu di meja belajar ketiduran. Dari tadi mamah panggil sampai mamah pukul badanmu baru bisa bangun. Kamu ini ya semalaman menulis sampai ketiduran disini. Cepat mandi sana. Nanti kamu telat ke kantor," kata mamah.
"Iya mah," jawabku.
"Ternyata memang benar aku bermimpi. Sampai bingung kenapa apa yang kulihat seperti apa yang kutulis. Ternyata ini cuman mimpi," batinku sambil bergegas menuju kamar mandi.
***