Rasa lelah yang mendera serasa tiada akan usai. Satu jam menunggu bus arah Pati membuat tubuh mungil Shania tampak letih. Sesekali kepalanya menengok ke kiri demi memastikan transportasi yang akan membawanya pulang.
Tak hanya dirinya beberapa penumpang lain masih menunggu dengan jurusan yang sama Semarang-Lasem.
Iya hari ini memang jadwal Shania pulang ambil uang saku bulanannya Bisa sih di transfer, akanq tetapi orang tua Shania lebih senang kalau Shania pulang karena jarak tidak terlalu jauh. 3 jam cukup untuk sampai di Kota kelahiran Shania.
Tak berapa lama bus datang, penumpang mulai masuk mencari tempat duduk. Demikian halnya Shania. Namun ada saja yang membuatnya dongkol.
" Permisi Mas, bisa geser sedikit ? " kata Shania kepada seorang laki-laki yang duduk terlebih dahulu di sana.
Laki-laki itu terdiam, sesaat menatap wajah manis Shania.
" Kalau mau duduk sini " katanya sambil menunjuk pangkuannya memberi isyarat Shania duduk di sana.
" Apaan sih" Shania menggerutu sambil masih berdiri disebelah kursi tadi. Karena kakinya sudah pegal akhirnya dia duduk menyamping membelakangi laki-laki tadi. Karena memang hanya tersisa sedikit space tersisa disana.
" hmm .. mbaknya wangi banget sih, kasih tau parfumnya apa dong " laki-laki itu mencondongkan wajahnya hingga terasa hembusan nafas mengusik telinga Shania.
" Apaan sih, Gaje banget" batin Shania sambil membungkukkan badan kedepan menghindari laki-laki itu.
Lagi...
" Owh iya, katanya nggak kenal maka nggak sayang " laki-laki itu memulai sok akrab sambil beringsut menggunakan telapak tangannya untuk menjauh dari Shania.
" Yang baru , yang baru" suara Pak Kondektur mengingatkan penumpang yang belum bayar ongkos bus.
" Pati " Shania mengulurkan selembar uang pecahan dua puluh ribu rupiah. Tampak pak Kondektur menulis disebuah kertas kemudian memberikan karcis beserta uang kembalian lima ribu rupiah ke Shania.
" Oo jadi mbaknya turun Pati ya ?" kata laki-laki disebah Shania sambil menganggukan kepala.
" Mbak, mbaknya gak capek apa duduk begitu ?" katanya lagi.
"Ya Allah mimpi apa aku semalam, ya kali emang lo orang sinting. semena-mena habisin kursi. gak cuma capek tapi super duper pegel tau. S89hania ngedumel dalam hati. Pingin saja dia berbalik arah demi menjitak kepala laki-laki itu. Duuhh .. mana bus nya lambat banget.
" Mbak, kemaren ya ada seorang cewek manis naek bus, duduk kayak mbak gitu gak bisa jalan lhooh pas busnya dah berhenti.
Dia diam sepertinya menunggu reaksi Shania. Namun Shania tak menggubrisnya, biarkan saja dia. "haha dasar orang sinting jelas aja busnya gak jalan, sudah berhenti kan katanya tadi ." kata Shania dalam hati.
"Aduuh semakin lama dekat dengannya bakalan semakin gak waras nie otakku" pikir Shania
kenapa gak sampai-sampai siiihh... Shania menghela nafas panjang. Sambil sesekali melihat ke luar dari balik kaca bus.
Ada kilatan bahagia dari sorot matanya. remang cahaya lampu jalan membantunya mengenali tempat yang dia lalui.
yess ! batinnya senang. Shania langsung berdiri berjalan mendekat ke pintu. Sampai di Halte segera turun dan berjalan ke arah Sepeda motor yang terparkir di sana. kakaknya sudah dari tadi berada di sana.
" lama banget Shan nunggu kamu sampai lapar aku " kata Cahya kakaknya.
" Lhoh kok dituntun kak motornya ? " tanya Shania bingung
" hehe... kakak lapar tau, isi bensin dulu boleh laah " kak Cahya terkekeh . Motor sudah terparkir manis di depan warung Sego Solo .
' hmm.. lumayan nie Garang Asem di Warung ini.
karena Shania jga lapar jadinya satu piring nasi rames tatas dalam hitungan menit.
" Bungkus keripik tempenya Shan, sama sambel goreng Ati ampela ." titah kak Cahya sambil mengulurkan satu lembar uang Ratusan ke arah Shania sebelum keluar warung.
Rasa kenyang dan nikmat tiada tara terpancar dari raut wajah Shania.
Dan mereka meningggalkan Warung Solo membawa buntelan lauk tadi.
Sesampainya di rumah Shania langsung menuju kamarnya .
Di atas meja belajarnya tergeletak amplop berwarna coklat keemasan dengan balutan pita Satin berwarna senada.
Segera diambil dan bibirnya membulat membaca tulisan yang tertera disana.
Argha Meylian & Tiara Arnesa . Lama Shania memandangi tulisan dua nama itu. Entah apa yang dirasakannya bahagia ataukah kehilangan ?.
Lunglai Shania berjalan menghampiri tempat tidurnya dan membiarkan tubuh mungilnya terhempas. Telentang sambil menatap langit-langit yang seakan melukiskan untaian kisah.
Berkali-kali Shania menelan saliva ada rasa getir menyusup disana.
Flashback
Disebuah studio musik Shania tengah duduk dipangkuan seorang laki-laki muda seumuran kakaknya.
Dia tampak mendengarkan hentakan musik sambil menikmati Bakwan Jagung .
Laki-laki itu adalah Argha.
Tanpa kata yang jelas untuk hubungan mereka. Namun Shania terasa nyaman berada dipangkuan Argha.
" Da, habis ini siapa yang siaran " tanya Shania sambil memasukkan satu butir cabe rawit ke mulutnya.
" Gak ada " jawab Argha, tangannya masih sibuk memutar obeng dengan posisi miring .
Dia tengah membetulkan pintu lemari yang terlepas engselnya.
Sosok gadis dipangkuannya membuat geraknya tidak leluasa. Namun Argha membiarkannya begitu.
Entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Sesekali dia menoleh ke arah Shania.
Hidungnya mencium Aroma wangi rambut Shania. Seulas senyum terbingkai diwajahnya
" kenapa memangnya ? kamu ada kirim atensi Shan ?" tanya Argha sambil meniup tengkuk Shania.
Shania menoleh kebelakang kearah Argha , kemudian beranjak dari pangkuan Argha duduk dikursi sambil mengusap minyak bekas bakwan dari tangannya.
" Aku ada tapi buat besok malam. Geguritan. Itupun kalau dibaca mas Agus.. haha " jawab Shania.
" Pasti dibaca. aku yakin itu .. secara mas Agus itu kayaknya kesengsem sama kamu Shan " Argha menghentikan aktifitasnya dan menatap ke Shania.
Shania menegakkan duduknya hingga punggungnya menempel pada sandaran kursi.
" Apa iya Da ? mas Agus bilang gitu ? " Shania mengernyitkan dahinya.
" iya, sering kali muji kamu bahkan" Argha menghela nafas, kemudian ..
" Dulu waktu awal kamu gabung dia sempat menggerutu karna kamu pakai nama samaran"
lanjut Argha
" masak sih Da ? " tanya Shania gak percaya.
" katanya begini, nama sudah bagus kok malah diganti pakai nama samaran" Argha menirukan gaya mas Agus. yang disambut tawa keduanya. Mas Agus pembawa acara Geguritan. Shania suka nulis atensinya diacara itu. Membacanya menghayati banget, keren pokoknya.
" Da, ke Pantai yuk " Shania jongkok disebelah Argha.
" Ayok " Argha segera mengemasi peralatan yang digunakannya tadi.
" tapi.. kalau kita pergi yang jaga Studio siapa Da ?" mendadak Shania bimbang melihat tidak ada penyiar yang jaga.
" Aku telfon mbak Rasti ya" jemari Argha memencet hand phone, dan sepert tersambung dengan si pemilik nomor .
"Gak mbak, gak perlu ngomong kok, isi lagu POP saja. Kasetnya sudah aku siapin di dalam" jelas Argha " eh ya mbak .. iklan tayang nanti jam setengah dua, jam tiga. Tiap setengah jam sampai jam 6 sore" Argha diam mendengarkan suara diujung sana. kemudian....
" Iklan yang tayang sudah tertera di jadwal mbak, tinggal ngepasin saja kok" Argha berjalan mengambil helm dan kunci motor, telfon itu masih nempel ditelinganya .
" okay mbak Rasti, aku pulang ya. tengkyu " Argha mematikan Hand phonenya dan menyimpan dalam saku jaketnya .
" Kita ke rumah dulu Shan nunggu Adzan Dzuhur "
Shania mengikuti Argha keluar dari studio musik itu.
Tidak sampai sepuluh menit mereka sydah sampai dirumah Argha.
Shania baru dua kali maen kesana, namun antusias ibu, nenek dan saudara Argha tiap kali ada Shania.
Mereka bercanda tawa begitu hangatnya. Sepertinya Shania menjadi magnet aura positif ya.
ibu Argha mengajak Shania dan Argha makan bersama namun Shania menolaknya karena dia ingin segera sampai di Pantai.
Untuk mengurangi rasa kecewa kluarga Argha Shania ikut di meja makan dan mengambil kerupuk udang menikmatinya sambil menunggu Argha bersiap.
Tiga menit kemudian mereka siap berangkat.
Sampai di Pantai Rembang tampak sepi, sejauh mata memandang hanya hamparan laut berkilau hijau kebiruan.
Beberapa penjual nampak menata kembali dagangannya atau sekedar membersihkan perkakas.
Kaki Shania melompat kecil diatas air, sesekali menendang dan berhenti menatap ubur-ubur yang menghampirinya.
Tak dihiraukan terik mentari Siang itu menyengat hampiri kulit Shania.
Shania menoleh ke samping, Argha duduk ditepian pembatas Pantai.
" Uda sini" dia lambaikan tangan ke Argha.
Argha mendekat dan keduanya mulai menikmati siang itu.
Udara Pantai seakan menepis segala penat yang menghantui pikirannya.
" Shan" Argha menghentikan langkah masih ditempat sambil melihat kebawah.
" ya" Shania meraup udara sedalam-dalamnya
" Menurut kamu lebih baik dicintai atau mencintai" tanya Argha
" Aku lebih senang dicintai sih, kenapa tiba-tiba tanya begitu ?" kali ini Shania mengamati wajah orang disampingnya.
" Tiara nembak aku Shan" katanya jujur.
" Serius Da ?" Shania tergelak "Gimana gimana cara dia nembak ? ngomong langsung gitu ? kapan itu Da ?" Shania semakin penasaran.
Shania belum pernah bertemu dengan Tiara, hanya sering dengar namanya di sebut di acara Argha. Entah di luar sepengetahuan Shania pastinya mereka pernah KopDar kan ?
" Dua hari yang lalu, di Studio. Dia datang bersama temannya, awalnya dia pingin rekam lagu-lagunya Dewa'19.
Dia kasih flash disk ke aku dan lipatan kertas kecil setelah itu langsung pulang "Argha menendang air didepannya.
" terus ? dia rekam suara di flash disk gitu ? atau.. " Shania menatap tajam kearahnya
" Ini" Argha mengeluarkan lipatan kertas dari dalam saku jaketnya.
Shania membuka dan matanya membulat tak percaya ..
'MAS MAYLIAN MAUKAH MAS MENJADI SUAMIKU ? AKU TUNGGU JAWABANNYA SEGERA'
Serasa ribuan lebah menyengat kepalanya saat ini.
" Jawab saja mau Da, biasanya dia lebih gemati lhoh" Shania menganggukan kepala tanda setuju. Argha masih bimbang dengan ucapan Shania.
Argha melenguh pasrah, dia menyadari bagaimana gadis di sampingnya ini, datar dan cuek. Seolah tak peduli dengan perasaannya.
flash back off
Shania ingat komitmen yang pernah mereka setujui. komitmen konyol yang menjauhkan mereka pada akhirnya.
'KITA SAHABAT, JIKA SUATU SAAT ADA CINTA DIANTARA KITA, ANGGAP SAJA TIDAK PERNAH ADA'
Diliriknya benda bulat yang melingkar ditembok kamarnya. Jarum panjang menunjuk angka 9 jarum pendek menunjuk angka 6 itu berarti sudah 3 jam dia mematung di kasurnya.
Shania berdiri untuk membersihkan diri. Guyuran Air shower menyegarkan kembali ingatannya...
Flash back 2 on
Sore itu setelah satu minggu dari kepergiannya ke Pantai, Argha datang bersama ibunya.
Shania menyambutnya sebentar selanjutnya membawa masuk oleh-oleh yang dibawa mereka. Shania memberitahukan kedatangan mereka kepada ibunya. Shania membuatkan teh hangat untuk mereka. Selanjutnya Shania tidak keluar lagi, melanjutkan aktifitas ibunya menyiapkan bahan untuk makan malam.
Sesekali dia mendengar tawa diruang tamu, apa sebenarnya yang mereka bicarakan Shania sungguh tidak tahu sebelumnya.
Tak lama kemudian mereka pamit pulang.
Ibu kembali ke dapur sambil membawa nampan beserta gelas kosong bekas teh.
Shania baru tahu bahwa kedatangan mereka silaturahmi, menanyakan kejelasan hubungan Shania dan Argha.
Karena ibunya Shania bilang bahwa hubungan mereka tak lebih dari seorang kakak adik, maka keluarga dari Argha tidak membahas kelanjutan hubungan mereka.
Saat itu pikiran Shania kacau .. yang ia ingat hanya lagu SLANK-MAAFKAN.
Syairnya tlah dirubah Shania sesuai kenyataan sore itu..
'MAAFKANLAH AKU ACUHKAN EMAKMU WAKTU PERTAMA KALI DATANG MELAMARKU..'
Flash Back off
Shania kembali masuk kamar, dilihatnya undangan tadi..
'Akad Nikah : 28 Mei '
Pikirannya gamang antara datang dan tidak ke acara pernikahan itu.
Dia ingat apa yang pernah diucapkan Argha waktu itu, pada saat Shania bertanya jika seseorang datang ke pernikahan Mantan pacarnya.
Jawab Argha .. jika cewek datang ke pernikahan mantan pacarnya berarti dia masih mengharap, dan jika cowok yang datang ke pernikahan sang mantan berarti cowok itu Legowo melepasnya.
Sekarang apa yang bisa di lakukan Shania ? dia ingin datang menghadiri pernikahan Argha tapi sebagian hati kecilnya tidak rela seseorang yang pernah ada dalam hidupnya bersanding dengan orang lain. Shania dalam dilema.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan perasaan mereka, Shania tahu bahkan Argha juga tahu bahwa sebenarnya rasa cinta itu tlah tumbuh diantara mereka meskipun tanpa berkata jujur satu sama lain, hanya saja komitmen itu yang membuat mereka harus menarik diri dan akhirnya kebersamaan selama 6 tahun kandas sudah.
Hal bodoh yang dilakukan Shania saat ini adalah menghitung kancingnya ..' datang, tidak, datang, tidak, datang, ti.. dak' keputusan terakhir Shania tidak akan datang.
Meskipun sudah lama tidak saling berbagi kabar karena keduanya kehilangan kontak, tidak juga ada yang berinisiatif untuk datang kerumah masing-masing untuk sekedar silaturahmi.
Kebetulan HP Shania hilang saat itu, ketika ganti baru dan aktifkan kembali kartu memorinya semua kontak hilang karena tak ada yang tersimpan di kartu memori.
Sebenarnya Argha pernah mencoba menghubungi nomor telfon di kosan Shania namun kata ibu kosnya Shania sudah pindah dari sana.
Dalam ketidak pastian itu Argha mungkin berfikir bahwa inilah jalan yang harus dilaluinya untuk memutus kisah tanpa status. Sulit dan Sakit .
Shania memejamkan mata berharap esok Pagi semua akan baik-baik saja.
Minggu pagi Shania berniat goes. Winner biru sudah siap melaju, celana jeans, jacket dan topi seakan nyaman bertengger di tempatnya.
" Shan, besok tidak usah datang. Tidak ada itikad baik, kasih undangan coret-coretan gitu namanya" Ayah Shania tampak tersinggung dengan undangan pernikahan itu, pasalnya nama Shania tertulis dibelakang nama yang sengaja dicoret dengan tinta hitam. Shania membuang nafas kasar, kemudian ..
" iya Yah,, Shania tidak ada niatan datang ke sana." Ayahnya mengangguk lega.
Dan sepeda biru tua sudah melaju meninggalkan halaman rumah. Shania mengayuh perlahan tanpa sengaja dia bertemu dengan beberapa teman kakaknya sedang bergerombol di sisi kanan alun-alun.
" kak, mau kemana kita ?" Shania asal ceplos saja
dia berhenti dekat Rangga, sapaan mereka terdengar hangat di telinga Shania.
" Hai Shan"
" Shania "
" kakakmu di depan sana Shan" Shania mengikuti arah telunjuk Zein.
Dan benar saja Cahya sedang mengisi angin ban sepedanya. Shania menghampiri
" Ban aku sekalian kak" laki-laki itu memindahkan selang kompresor dari sepeda Cahya ke sepeda Shania.
" Kakak nggak tahu lho Shan kalau kamu mau goes juga, tahu gitu tadi kita barengan ya" kata Cahya.
" Hehe.. tadinya nggak ada rencana kak, tiba-tiba pingin jalan saja" Jawab Shania nyengir.
Cahya menangkap kesedihan terpancar dari tatap mata adiknya.
Mereka kembali bergabung dengan rombongan.
Namun kali ini kakak beradik itu berjalan ber iringan.
" Shan, kakak tahu .. undangan itu kan penyebabnya ?" " Sudahlah jangan dipikirkan lagi. Ayah melarangmu datang kan ?" tanya Cahya lagi
Shania mengangguk.
" kakak berharap kamu baik-baik saja"
" Shania seperti masih belum bisa terima kak"
" Sudahlah Shan jangan hanya karena pernikahan Argha kamu jadi hilang semangat" Cahya menasehati adiknya.
" Shan, gak da gunanya patah hati. itu akan merugikan diri kamu sendiri" Rangga ikut komentar
" patah hati ? cih ! gak ada dalam kamus gue. enak aja .. karena dia yang berulah orang lain harus nanggung akibatnya" Zein ikutan nimbrung
" kakak punya cara ampuh biar gak patah hati" lanjut Zein
" Gimana caranya" tanya mereka bertiga hampir berbarengan
" Gini yaa... aku kasih tahu, coba bayangin beberapa tahun lagi pasti dia mati dan tinggal tulang berserakan di dalam tanah, masih bisa apa ? " kata Zein terbahak-bahak
"Hahaaa.. benar saja, kalau sudah mati tidak ganteng lagi kaann ?" jawab Rangga.
Shania ikut tertawa, obrolan teman-teman kakaknya memang aneh rasanya tapi cukup bisa menghibur.
"Baiklaah bangkit Shania. aku tidak lemah, karena Argha adalah calon tulang-tulang" bisik hatinya ada senyum berganyut dibibir tipisnya
Serasa berkurang beban yang menghimpitnya.
" Ayok kita ke Gunungrawa" Kak Zaki belok ke arah kanan. Rombongan mengikuti dari belakang.
Gunungrawa adalah tempat perbukitan, ada waduk buatan disana. Pemandangan asri banyak pepohonan di sepanjang jalan membuat hati dan wajah manis Shania berseri kembali.
Lupakan Argha, semua hanya cerita lalu.
Sesampainya di sana mereka langsung menuju warung makan, Sajian khas tempat itu , ikan mujair goreng crispy, nasi hangat-hangat beserta sambal terasi terasa nikmat sekali.
Tak hentinya mereka bercanda, cerita, dan tertawa.
Solidaritas teman-teman kakaknya berhasil menghapus kesedihan Shania..
"Satu yang pasti harus selalu diingat Shan, Lazuardi selalu ada diujung pagi. Sambutlah dengan senyum, kau akan lihat cahaya mentari setelahnya" Pesan Zein sebelum mereka kembali ke rumah masing-masing.
...........
Minggu sore Shania bersiap kembali ke Semarang, karena besok Senin ada jadwal Penyuluhan Gizi di Desa sekitar kampusnya.
Shania mahasiswi D3 Gizi mulai memantapkan hati melangkah tanpa bayang-bayang Argha.
......
Semua yang terjadi ... Akan ada hikmah dibalik semua kisah.
😊😊😊Terimakasih🙏