Hari Rachel sangat lelah karna job sebagai MUA semakin banyak. Apalagi perempuan cantik ini memiliki kemampuan merias wajah pelanggannya menjadi sempurna dan cantik. Dia menjadi terkenal setelah menjadi MUA salah satu penyanyi muda yang sedang naik daun.
Perempuan itu merasa sangat mengantuk. Dia merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia bahkan sudah tidak sanggup lagi menyelesaikan 3 bab novelnya yang harus diserahkan ke editor malam ini.
Rachel terbangun dari tidurnya karna bermimpi buruk sekali. Hah.... hah... hah... napasnya tidak beraturan karena dia kaget dirinya tengah berdiri di pinggir gedung yang cukup tinggi.
"Ya Allah, apa aku mau bunuh diri? Aku tadi tidur di kamar, kok bisa sekarang di sini?" tanya Rachel pada dirinya sendiri.
Dia terlihat kebingungan melihat baju yang dipakainya. Tampak tidak fashionable sekali dan gaya berpakaiannya terkesan kuno. Dia segera turun ke lantai bawah dan sampai di depan gedung tinggi itu.
Beberapa orang melihatnya jijik dan banyak orang menertawainya. Rachel menggelengkan kepala heran.
"Banyak yang muji aku cantik selama ini. Ngapa orang-orang itu pada ketawa sih kayak jijik gitu liat aku." bathin Rachel sambil menatap kaca toko di depannya.
Dia sangat kaget melihat sosok di depannya. Itu bukan dirinya, sosok gemuk dan tidak pucat itu terpampang nyata di depannya.
"Omg... siapa dia?" tanyanya sendiri sambil meraba tubuhnya.
"Ini aku sendiri. Kenapa bangun tidur aku malah ada di sosok ini? Ya Allah kenapa ini?"
Orang-orang menertawainya sambil berbisik. Mungkin pandangan orang Rachel sedang bicara sendiri.
"Aku harus pulang ke mana?"
Untung di celana jeans belel perempuan ini ada dompet dan juga handphone. Dia segera menyetop taksi dan melihat ktp perempuan itu.
"Tania Angela. Namanya bagus. Apa aku ada di Surabaya. Padahal tadi pas tidur aku masih di Jakarta" gumamnya.
"Kita mau ke mana bu?" tanya supir taksi itu.
"Pak, umurku masih 22 tahun."
"Maaf dek."
Rachel menyerahkan ktp Tania pada pak supir. Sepanjang perjalanan Rachel berpikir keras kenapa dirinya bisa di sini.
"OMG.... Aku kayaknya kenal nama Tani Angela. Dia tokoh dalam novel yang harus aku serahkan ke editor hari ini." ujarnya sambil menepuk kepala.
"Dek, Dek, Dek!" panggil Pak supir taksi.
"Ah ya Pak." sahut Rachel kaget.
"Udah sampe di depan rumah ini."
Rachel melihat argo dan memberikan sejumlah uang pada Pak supir. Rachel ke luar dari taksi menuju rumah gadis ini.
"Gantengnya!" gumam Rachel sambil menelan ludahnya.
"Kamu kemana aja Tan? Aku cari di tempat kerjamu gak ada."
Rachel masih terdiam.
"Hey, apa kamu berniat bunuh diri lagi?"
Rachel tersentak karena kaget.
"Bunuh diri. Kamu pikir aku bodoh. Memang aku kerja di mana?"
"Apa? Kamu kan kerja di butiknya Klara teman kita. Apa kamu amnesia? Aku Joshua sahabatmu."
"Gak ada persahabatan antara pria dan wanita. Pasti akan berakhir pada suatu hubungan yang rumit. Apalagi prianya setampan kamu" batin Rachel.
"Udah sekarang kamu masuk! Ini aku bawain makan malem."
Rachel menurut dan dia masuk ke rumah gadis ini. Dia melihat seisi rumah yang tersedia hanya beberapa perkakas. Dia duduk di sofa sambil berpikir lagi.
"Kalau aku masuk ke dalam cerita novelku sendiri dan terlahir sebagai perempuan gemuk dan ditertawakan orang-orang. Setidaknya aku bisa membuat alur cerita sesukaku." ucap Rachel sambil tertawa.
Dia bisa melanjutkan mimpinya sebagai MUA di kehidupannya sekarang. Walaupun ini nyata atau hanya mimpi. Dia harus menyemangati hidup gadis ini. Dia berhasil menggagalkan niat gadis dalam alur novelnya mati bunuh diri kemudian menjadi hantu yang akan balas dendam pada orang yang membullynya. Eh,,, ini malah alurnya melenceng dari perhantuan menjadi romance.
Paginya Rachel berangkat kerja sesuai jadwal gadis ini. Dia masuk ke butik, Joshua mengantarnya. Rachel senang-senang aja diantar sama pria tampan. Dia memuji gadis bernama Tania bisa bersahabat dengan pria ini.
"Aku kerja dulu. Nanti kalo mau makan bareng bilang ya."
Rachel menganggukkan kepalanya. Joshua pergi kerja dengan motornya. Rachel masuk ke butik dan dia mendekati Klara.
"Pagi Kak!"
"Pagi Nia. Ngapain sih manggil Kakak segala. Lebay banget." sahutnya sambil tertawa.
"Ya."
"Klara, aku mau ambil bajuku." ujar seorang perempuan cantik.
"Siap, Nes."
"Pusing aku. Mana tukang make up-nya mendadak sakit. Ini harus cari MUA dadakan."
"Aku banyak kenalan. Kalo kamu mau."
"Maaf. Apa aku bisa mengajukan diri?"
"Emang kamu bisa make up Nia?"
"Aku coba. Nanti kalo gak memuaskan aku akan ganti rugi."
Anesta memandang Tania, dia yakin gadis ini bisa merias wajah. Tania terlihat memakai riasan tipis dan sempurna. Padahal dia hanya memakai beberapa alat make up yang tidak lengkap. Ini semua berkat tangan dingin Rachel yang berada di dalam tubuh Tania. Dia akan mengubah hidup gadis ini agar lebih baik lagi.