"Semuanya sudah siap, baik tiket pesawat, perlengkapan untuk kerja juga sudah lengkap, pokoknya sip lah", kataku sambil menutup koper.
Aku dipercaya untuk mewakili perusahaan tempatku bekerja menyelesaikan sebuah pembangunan gedung di kota lain.
Aku adalah seorang arsitek perempuan bernama Fiona. Jam 8.00 pagi aku berangkat ke bandara. Dalam perjalanan ke pesawat aku melihat seorang selebritis pria. Keren sih tapi terlihat angkuh. Aku menyebutnya Mr. X.
Didalam pesawat ternyata aku duduk berseberangan dengan selebritis tersebut. Aku tertidur sejenak, tiba-tiba pesawat tersebut oleng dikarenakan cuaca buruk, baling-baling pesawat mengeluarkan api, aku panik begitu juga penumpang yang lain, suasana menjadi tidak terkendali, pesawat pun menukik tajam dan jatuh di tengah lautan. Aku tidak sadarkan diri.
Ketika terbangun, aku sudah berada di pinggir pantai, dan tanpa diduga Mr. X juga berada tidak jauh dari tempatku. Aku melihat sekelilingku, siapa tau selain manusia sok keren itu, ada lagi yang terdampar bersamaku.
Sambil menghela nafas panjang aku melihat ke lautan, tidak terlihat pesawat yang aku tumpangi tadi. Aku melihat tas pinggangku masih melekat di tubuh. Aku lega. Di tas pinggang ada obat-obatan, aku selalu mempersiapkannya kemanapun aku pergi.
Aku lalu menjemur tas dan obat-obatan tadi. Sambil menunggu kering, aku berkeliling di daerah sekitarnya.
Aku berteriak," Apakah ada orang di sana?". Aku berharap ada yang menjawab teriakan ku.
"Woi, Tarzan betina, ngapain teriak-teriak", Mr. X melotot ke arahku.
"Ish ni orang, untung keren, kalo ga mungkin udah aku lempar pakai ranting ini biar tau rasa", kataku dalam hati.
"Apa!, kalau Aku Tarzan betina kamu yang jadi Gorilanya", jawabku ketus.
"What!", teriaknya lagi.
"What whot, what whot, terserahlah aku mau masuk ke hutan, cari tempat berlindung", kataku sambil membereskan obat-obatan dan memasukkannya di tas.
"Gua ikut", katanya dengan cepat.
............
Aku diam saja dan meneruskan langkahku. Ia berjalan di belakangku, sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
Aku berhenti tanpa bergerak, aku melihat seekor ular sedang melintas didepan ku.
"Kenapa berhenti?", tanya Mr. X.
"Diam dan jangan bergerak, didepan ada ular", aku berkata sambil berbisik.
Mr. X badannya seakan membeku, tanpa ia sadari tangannya memegang erat bahu Fiona.
"Buset dah, ngapain ni orang pegang-pegang aku", gerutu aku dalam hati.
Setelah aman aku berkata," mau sampai kapan pegang bahuku".
Mr. X melepaskan pegangannya, dan ia berkata," ya maaf, baru juga dipegang bahu doang, diluar sana banyak cewek yang berharap gua pegang".
"Gua, gua, ya gua Hiro lu monyet", jawabku dengan ketus.
"Lu yang monyet", jawabnya dengan tak kalah ketus.
"Gini nih ga enaknya satu udara sama makhluk sok keren satu ini, nyebelin", kataku dalam hati.
"Gua tau lu sebel sama gua, tenang aja, gua juga sebel sama lu", dengan tenang ia menebak apa yang kupikirkan.
"Ah sudahlah, susah kalau harus berseteru dengan makhluk astral seperti manusia satu ini", aku kembali menggerutu dalam hati.
Tak terasa kami berdiri tepat di depan sebuah gua. Aku berteriak kegirangan sementara manusia di sebelahku menatapku dengan sorot mata yang berbeda, ada senyum tipis yang terukir diwajahnya.
Aku dengan cepat memasuki gua itu. Ternyata di dalamnya aman, tidak ada satupun binatang yang menempatinya.
Hari sebentar lagi malam, aku bergegas mencari ranting kayu dan juga batu untuk membuat api, diperjalanan mencari ranting aku menemukan pohon pisang yang sedang berbuah, walau buahnya belum matang aku mengambil secukupnya untuk dibuat pisang bakar, lumayan buat ganjal perut.
Setelah ranting yang aku kumpulkan kurasa cukup, aku juga mengambil empat daun pisang yang masih bagus untuk alas tidurku nanti.
Aku kembali ke gua, kulihat Mr. X sedang termenung. Dia menoleh kearah ku dan bertanya," untuk apa itu semua?."
"Ga usah banyak tanya, lihat dan perhatikan", jawabku.
"Oh ya, ini alas tidurmu", kataku sambil menyerahkan dua lembar daun pisang.
"Cuma dua?, mana cukup, emangnya lu kagak liat apa badan gua sebesar apa?", tanyanya lagi.
"Bukannya terima kasih, iya, aku tau badan kamu sebesar gorila, tapi kamu ga liat apa? tangan aku cuma dua, memangnya kamu tadi bantuin aku?, engga kan?", jawabku dengan sewot.
"Ingin rasanya kalau aku punya kekuatan, aku tendang makhluk yang satu ini ke kutub Utara", batinku.
Aku mengambil batu, dan mencoba menggesekkan ranting yang agak besar untuk membuat api. Tak berapa lama pekerjaanku membuahkan hasil, gua itu menjadi terang, lalu aku menusukkan ranting satu persatu ke pisang yang masih mentah untuk aku bakar.
"Apa lu akan makan itu", tanya Mr. X dengan kening berkerut.
"Iya, kamu mau?", tanyaku.
"Ga mau, gua entar sakit perut makan makanan aneh kayak gitu", jawabnya.
"Terserah, rasanya lumayan, ada sedikit manisnya, lumayanlah buat makan malam", jawabku acuh.
Mr. X hanya diam dan memperhatikanku. Pisang yang sudah aku bakar aku letakkan begitu saja, malam sudah bertambah gelap, aku mengantuk, tanpa memperdulikan Mr. X, aku tidur.
Pagi harinya begitu terbangun aku mendapati pisang bakar itu telah lenyap. Mr. X tertidur dengan lelapnya.
"Gengsi, ga mau makan pisang bakar, eh akhirnya dihabisin juga", batinku lagi.
Hari ini agenda ku adalah mencari air untuk air minum sekaligus aku juga ingin membersihkan diri. Di setiap perjalanan aku meninggalkan jejak agar tidak tersesat.
Akhirnya aku menemukan sungai, aku membersihkan diriku, mencari ranting yang lurus dan agak besar membuat tombak kecil menggunakan pisau lipatku untuk menangkap ikan, tanpa setau aku Mr. X mengikuti jejak yang aku tinggalkan.
"Sekarang lu sedang buat apa?", tanyanya, aku kaget dan aku berkata setengah berteriak," bisa ga sih untuk engga ngagetin orang".
"Ya, maaf, mana gua tau lu orangnya kagetan", jawabnya dengan santai.
"Duh Gusti, enaknya diapain ya ni orang", aku menggerutu.
"Ada yang bisa gua bantu ga?", tanya dengan nada yang lembut.
"Kamu bisa nangkap ikan pakai ini ga?", tanyaku setelah selesai membuat tombak.
"Akan aku coba", jawabnya serius.
"Nih, kamu nangkap ikannya di sebelah sana ya, aku akan mencari udang yang bersembunyi di balik batu", ucapku sambil memberikan tombak itu.
Waktu berlalu, aku berhasil mendapatkan 6 ekor udang dan Mr. X mendapatkan dua ekor ikan. disepanjang jalan pulang kami menemukan dua buah kelapa yang jatuh dari pohonnya. Dengan bantuan Mr. X, aku bisa membawa banyak bahan yang kami perlukan.
Sesampainya di gua, Mr. X menanyakan cara membuat api, aku mengajarkannya, berbekal pengetahuanku menjadi anggota Pramuka jaman sekolah dulu, aku jadi tahu bagaimana bertahan hidup di alam liar.
Tak terasa hari berganti hari, hubunganku dengan Mr. X mulai membaik, tak ada lagi kata-kata yang menyebalkan yang keluar dari mulutnya.
Kami banyak menemukan bahan makanan di pulau itu, kami pun mulai bercocok tanam didekat gua, ada pohon pisang, pohon talas, dan pohon ketela, kami juga menanam pohon kelapa.
Kami pasrah dengan keadaan, karena bagaimanapun kami harus tetap hidup, dengan tidak putus harapan bahwa suatu hari nanti akan ada orang yang menemukan kami.
TAMAT