Sejuk angin bertiup sepoi - sepoi. Menyisir setiap daun pohon - pohon dengan lembut. Gary, seorang pria dengan kulit putih bersih, rambut pirang kecoklatan, serta badan yang cukup berisi. Membuka perlahan matanya. Pandangannya tertuju pada langit biru yang terpampang diatasnya. Ia mengenakan kaos biru dengan tulisan hero, serta celana denim berwarna biru gelap. Ia pun beranjak duduk dan memegang kepalanya yang terasa sakit. Penglihatannya yang kabur itu pun perlahan menjadi jelas. Terdapat sedikit noda darah yang sudah mengering di dahi sebelah kanan atasnya. Wajahnya pun terdapat beberapa luka lecet kecil. Dihadapannya terbentang lautan biru yang luas tak berujung. Ombak - ombak kecilnya menggulung perlahan menuju tepian pantai. Matanya mulai melihat ke arah sekitarnya. Tatapan nya terpaku pada sebuah pesawat yang terlihat sudah patah menjadi dua, yang terletak tak jauh darinya.
Ia pun menarik nafas dalam-dalam kembali berbaring diatas tumpukan pasir putih pantai yang halus. Berusaha menggali kembali ingatan kejadian sebelumnya. Ingatannya perlahan kembali. Pada Waktu itu, ia diberi tugas untuk melakukan sebuah kunjungan kerja ke sebuah pulau. Ia pun sudah menaiki pesawat tersebut. Sekitar 1 jam kemudian, sebuah pengumuman darurat diumumkan oleh sang pilot. Pesawat yang ditumpanginya memiliki masalah pada mesinnya. Pesawat itu pun jatuh dan berakhirlah ia di pulau yang tak diketahui namanya itu. Ia pun meraba - raba sakunya, mencari - cari ponselnya. Ia pun hanya menghela nafas, karena tidak terdapat jaringan pada ponsel itu. Ia pun kembali menatap langit biru itu. Lalu, ia pun beranjak bangun. Ia mulai berjalan pelan di sekitar pesisir pantai. Matanya menerawang kesana - kesini. Ia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
Di tengah kesibukan berpikirnya, Gary pun terkejut tatkala mendengar seseorang yang sedang merintih kesakitan. Ia pun segera berlari mencari sumber suara rintihan itu. Pada akhirnya ditemukannya, seorang gadis bergaun pink sedang terduduk sambil memegang kakinya yang lecet. Gadis itu berkulit putih, berambut blonde, dan sangat cantik. Bibirnya merah, masih terdapat sisa - sisa lipstick disana. Wajahnya agak kusam dan terdapat beberapa luka kecil di wajahnya. Gary mendekatinya dan gadis itu pun terkejut. Mereka saling menatap untuk waktu yang lama dan akhirnya saling menghela nafas lega.
"Syukurlah... Aku pikir hanya aku yang sendirian disini!", ucap gadis itu dengan air mata yang mulai membasahi matanya.
"Tidak apa - apa, anda baik - baik saja!", Gary berusaha menenangkannya.
"Boleh saya lihat lukanya?", lanjutnya.
Gadis itu hanya menggangukan kepala. Dia masih menangis sedih. Gary perlahan memegang kakinya dan memeriksa lukanya.
"Sebentar, saya akan mencari sesuatu disini."
Gadis itu hanya mengangguk kembali. Gary segera berlari ke arah pesawat yang patah itu. Masuk ke dalamnya dan butuh waktu beberapa lama, ia pun keluar sambil menenteng sebuah koper dan sebuah kotak obat. Dibukanya koper itu yang berisi berbagai macam pakaian.
"Sepertinya ini koper wanita.", pikirnya.
Karena ditemukannya beberapa gaun, rok, peralatan kosmetik, parfum dan sebagainya. Ia pun menemukan sebuah baju santai yang dirasa kain nya cukup bisa untuk dirobek dengan mudah. Ia pun membuka kotak obat dan menemukan kapas, obat merah, antiseptik, plester dan perban yang hanya tinggal sedikit saja. Ia pun merobek baju itu dan membasahinya dengan antiseptik. Ia pun pelan - pelan mulai mengusap kaki gadis itu, membersihkan luka - lukanya.
"Aw... perih...", ucap gadis itu lirih.
"Maaf."
Gary kembali membersihkan lukanya dengan sangat perlahan. Gadis itu hanya diam memperhatikannya. Setelah selesai, ia meraih sebotol kecil obat merah. Diteteskannya perlahan ke luka itu. Gadis itu pun meringis menahan perih. Setelahnya, ia mengambil perban yang tinggal sedikit itu. Kemudian, dibalut lah luka kaki gadis itu. Gary merobek kembali baju itu dan dengan segera mengikatnya.
"Selesai sudah.", ucap Gary.
"Terima kasih.", balas gadis itu.
"Sama - sama.", balas Gary dengan tersenyum.
"Bagaimana dengan lukamu?", tanya gadis itu.
Gary memegang dahinya.
"Iya, benar juga. Aku sendiri pun lupa. Apa kau bisa melakukannya?", tanya Gary.
"Aku tidak bisa. Aku tidak pernah melakukan hal - hal itu. Biasanya, asisten ku lah yang melakukan itu semua.", terang gadis itu.
Gary hanya terperangah mendengarkan penjelasan gadis itu.
"Apa boleh buat?", batin Gary dalam hati.
"Kalau begitu.. Kamu tunggu disini ya. Aku mau mengobati luka ku."
"Kemana?"
"Di dalam pesawat itu.", tunjuk Gary ke arah pesawat itu. "Di dalam pesawat kan ada toilet, aku bisa memakai cerminnya untuk melihat.", terang Gary.
"Ikuttt!", pinta gadis itu.
"Eh?", Gary melongo.
"Pokoknya, aku ikut!"
"Ba... ba... baiklah."
Gary pun beranjak berdiri sambil menenteng kotak obat. Gadis itu tetap dalam posisi duduknya. Gary pun melihat dengan keheranan.
"Kenapa?", tanya Gary.
"DASAR COWOK GA PEKAA!!", ucap gadis itu dengan ketus.
Gary pun kebingungan.
"Aduh.... memangnya aku bisa berdiri dan berjalan?", ucap gadis itu sambil menunjukkan kakinya yang barusan tadi diperban oleh Gary.
"Oh iya... maaf ya, hehe.", balas Gary dengan tersenyum salah tingkah.
"Ya sudah, sini tangannya. Jangan ke Ge -Er an ya!"
Gary pun menggelengkan kepala dan mengulurkan tangannya. Gadis itu meraih tangan Gary dan berusaha untuk berdiri. Gary membantunya dan mereka berdua perlahan - lahan berjalan menuju pesawat itu.
"Kamu duduk disini dulu ya.", ucap Gary setiba di dalam pesawat.
Gadis itu pun menurut.
"Kalau begitu, aku tinggal ya ke toilet. Tidak apa - apa kan?"
"Iya, tidak apa - apa."
Gary pun pamit dan segera pergi ke toilet. Setelah menunggu sekitar 45 menit, Gary pun keluar. Ia sudah selesai mengobati lukanya. Gadis itu ternyata tertidur. Gary pun terpaku melihat wajahnya.
"Saat tidur pun dia terlihat sangat manis.", ucap Gary dalam hati.
Gary tak bisa mengalihkan pandangannya. Ia berdiri mematung cukup lama, menatap gadis itu lekat - lekat. Tiba - tiba gadis itu merenggangkan badannya sembari menguap. Gadis itu pun terbangun.
"Sudah selesai?", tanya gadis itu.
Gary pun seketika tersadar dari lamunannya dan ia pun menjadi salah tingkah. Ia menggaruk - garuk kepalanya.
"Sudah.", balas Gary singkat sambil berusaha bersikap normal.
"Baguslah kalau begitu."
"Kamu lapar?"
"Gak terlalu sih..."
"Haus?"
"Boleh."
"Kalau begitu coba saya cek dulu ya, ada apa saja di ruang penyajian.", Gary pun beranjak pergi. Tak berapa lama kemudian, Gary pun kembali lagi.
"Mau teh?", tanya Gary.
"Boleh."
Gary pun kembali lagi ke ruang penyajian dan sekitar 5 menit kemudian, ia kembali sambil membawa 2 gelas teh yang sudah diseduhnya.
"Untung masih ada air panas dalam termos.", Gary pun menyodorkan segelas teh kepada gadis itu.
"Terima kasih.", Gadis itu menerimanya dan meminumnya perlahan.
Gary pun juga menyeruput tehnya dengan perlahan. Tak lama kemudian, ia kembali membuka pembicaraan.
"Boleh aku tahu siapa namamu? Aku belum mengetahui namamu. Agak aneh saja bagiku, jika aku tidak mengetahui namamu."
"Kamu tidak mengenaliku?", gadis itu terkejut dan ia hampir menumpahkan teh nya.
"Maaf?", Gary merasa kebingungan.
"Tidak apa - apa... hehe. Namaku Rose, senang berkenalan denganmu dan nama mu?"
"Gary"
"Oke.. Gary.", ucap Rose sambil tersenyum.
"Apa pekerjaanmu?", giliran Rose yang bertanya.
"Pekerjaanku ialah sebagai seorang pengawas proyek. Sebenarnya, aku akan pergi ke sebuah pulau, melakukan kunjungan kerja serta memantau proyek disana. Namun, musibah ini terjadi. Tapi puji Tuhan, saya masih hidup.", jelas Gary.
Rose hanya menganggukan kepala sembari menyimak dengan serius.
"Kamu sendiri?", balas Gary yang bertanya.
"Aku... kasih tahu gak ya?", Rose tertawa kecil.
Gary hanya bisa melongo dengan ekspresi bodoh yang hanya membuat Rose semakin tertawa terbahak - bahak.
"Sepertinya kamu tidak pernah menonton TV.", ucap Rose setelah ia berhenti tertawa.
"Iya sih... saya bekerja hampir sepanjang hari. Terkadang lembur. Jika ada waktu luang pun, saya manfaatin dengan membaca buku.", terang Gary.
"Tchh... panutan dan teladan.", puji Rose.
"Hehe... hanya mengisi dengan hal positif aja.", Gary tersipu saat melihat Rose tersenyum manis kepadanya.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?", Gary kembali bertanya.
"Aku ya... aku adalah seorang selebriti.", ungkap Rose.
"Yang benar?", mata Gary melebar dan mulutnya terbuka mengganga.
Rose kembali tertawa melihat ekspresi lucu Gary.
"Maaf.. maaf..", Rose menyudahi tertawanya. "Iya.. aku seorang selebriti. Kamu tahu judul film yang belakangan ini lagi viral diperbincangkan? Aku berangkat ke kota itu, untuk mempromosikan film itu.", jelas Rose.
Gary pun mengangguk paham.
"Jadi.. kamu yang menjadi pemeran utamanya?", Gary bertanya.
"Iya.. di film itu yang judulnya 'Love Under Star Song', aku berperan sebagai Catharine. Ia seorang gadis tuli, yang pada suatu malam, ketika ia sedang berjalan keluar mencari angin di sebuah taman. Dibawah langit yang kala itu penuh bintang dan bulan yang bersinar terang, ia melihat ada beberapa orang sedang berkumpul mengelilingi sesuatu. Karena penasaran, ia pun pergi kesana untuk mencari tahu. Di tengah - tengahnya, ada seorang pria tampan yang tengah memainkan biolanya dengan sangat piawai dan menjiwai. Catharine yang tak bisa mendengar, merasa seolah dirinya ikut tertarik dan larut dalam permainan biola pria itu. Ia pun melihat ke arah ekspresi orang - orang yang ikut menyaksikannya dan ekspresi bahagia lah yang terpancar. Sejak itu, setiap malam, ia selalu mampir untuk melihat permainan biola pria tampan itu. Dalam hati terdalamnya, Catharine pun mengungkapkan keinginan nya. Ia ingin bisa mendengar, ia ingin mendengarkan alunan melodi biola yang dimainkan pria itu. Dari sinilah, film itu dimulai bagaimana usaha Catharine untuk memulihkan pendengarannya.", jelas Rose sambil menyeruput tehnya.
"Sebuah cerita yang bagus ya."
"Ya begitulah."
"Bagaimana endingnya?"
"Sebaiknya kamu menontonnya secara langsung. Aku tidak suka membocorkan spoiler, hehe."
Gary pun tersenyum dan menyeruput teh nya sampai habis. Setelah itu, ia pun beranjak berdiri.
"Kamu mau kemana lagi?", tanya Rose.
"Aku ingin berkeliling pulau ini sambil mempelajarinya. Barangkali, aku bisa menemukan bantuan.", ucap Gary.
Rose dengan segera ikut berdiri.
"Aku ingin ikut."
"Kenapa tak beristirahat disini saja?"
"Ya... aku juga ingin berkeliling melihat pulau ini. Aku kan juga bosan sendirian kalau disini. Siapa tahu ada yang bisa ku bantu juga."
"Baiklah kalau begitu... ayo pergi.", Gary tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
"Yeeahh...", Rose bersorak dan menyambut uluran tangan Gary.
Mereka pun segera keluar dari pesawat itu dan mulai mengelilingi pulau itu bersama - sama. Sementara mereka berkeliling, Gary pun mengumpulkan beberapa ranting kering.
"Kau mau apakan ranting - ranting itu?", tanya Rose.
"Aku ingin membuat api unggun."
"Eh... kamu bisa?"
"Tentu saja, waktu sekolah dulu, aku ikut eskul pramuka.", terang Gary.
Rose pun menganggukan kepala tanda mengerti. Mereka pun menemukan sebatang pohon kelapa yang terdapat beberapa buah kelapa diatasnya. Gary pun memanjat pohon kelapa itu, Rose memerhatikan dari bawah. Gary memanjat pohon itu dengan sangat cekatan.
"Rose! Menyingkirlah dari sana!", teriak Gary.
Rose pun menyingkir dan Gary pun menjatuhkan 6 buah kelapa ke bawah. Gary pun segera turun ke bawah.
"Rose, kamu bisa membantuku membawakan ranting ini?", tanya Gary.
"Kamu gak lihat kah? Kaki ku masih terluka begini."
Gary hanya mengernyitkan dahinya. Ia pun menenteng buah kelapa itu sendirian sambil merangkul ranting di ketiaknya. Mereka pun kembali ke pesawat.
"Aku akan mencari cara bagaimana supaya aku bisa mendapatkan ikan di laut.", kata Gary kepada Rose setelah menaruh ranting dan buah kelapa.
"Apa disini tidak ada pancingan?", tanya Rose.
"Sepertinya tidak ada.", Gary terlihat berpikir sejenak.
"Terus bagaimana caramu memancing nantinya?", tanya Rose.
"Nah.. itu dia. Masalahnya aku tidak menemukan benang."
"Benang?", Rose mulai berpikir mencoba mengingat sesuatu.
Tak berapa lama kemudian, Rose sepertinya mengingat sesuatu.
"Tas asisten ku dimana ya? Sepertinya kita bisa menemukan benang disana."
"Kamu yakin?"
"Iya.. soalnya dia selalu membawa perlengkapan yang sangat lengkap yang menunjang pekerjaan ku. Jika kita bisa menemukannya, itu mungkin akan sangat berguna untukmu.", jawab Rose dengan yakin.
"Baiklah, kalau begitu mari kita mencarinya!"
"Kamu mengajakku?"
"Eh.. iya?"
"Tidak apa - apa. Yuk, cari!", ajak Rose sembari tersenyum.
Mereka berdua pun mencari tas itu. Setelah beberapa lama menggeledah seisi pesawat itu. Akhirnya, ditemukan lah tas asisten itu yang berukuran sedang dengan warna biru gelap. Rose pun mengeluarkan isi tas asisten itu satu per satu dan akhirnya ia pun menemukan sebuah gulungan kecil benang jahit.
"Ini tak bisa digunakan, cepat putusnya.", ucap Gary menjelaskan.
"Jadi? Harus gimana dong?", ekspresi Rose pun berubah manyun.
"Ya... harus cari cara lain."
Gary pun kembali berpikir. Rose hanya duduk termanyun.
"Gini aja deh, aku mancing dengan kayu yang ku kikis jadi tajam seperti tombak. Itu cara yang tradisional banget."
"Terserah kamu deh."
Gary hanya mengangkat bahunya dan memilih untuk tidak berkomentar.
"Semoga ada perkakas yang bisa ku pakai disini.", ucap Gary sembari bergerak kembali mencarinya.
Hari sudah menjelang sore, Gary sudah menemukan perkakas yang ia butuhkan dan ia pun mulai bekerja. Ia pun berhasil membuatnya, sebuah tombak kayu. Ia menemukan sebilah kayu yang menurutnya cukup baik. Ia pun menemukan perkakas yang ia butuhkan, sebuah batu yang menurutnya cukup tajam untuk mengikis kayu. Setelah tombak kayu itu jadi, ia pun mulai berlari menuju laut. Setelah 2 jam lamanya, ia bergelut dengan cara tradisionalnya. Gary hanya mendapatkan 3 ekor ikan berukuran sedang.
"Masih lebih baik 3 ekor ketimbang tidak ada sama sekali.", Gary menyemangati dirinya sendiri.
Ia pun mulai sibuk mempersiapkan batang - batang kayu yang dikumpulkannya saat berkelana di hutan sendirian dan membuatnya menjadi sebuah tumpukan. Ia pun menemukan 2 buah batu seukuran kepalan tangannya. Dia menggesekan kedua batu itu secara terus - menerus. Setelah terus mencoba tanpa putus asa, ia pun berhasil membuat api, yang kemudian mulai membakar tumpukan kayu itu. Ia pun mulai membakar ikan yang ditangkapnya.
"Rose... Rose..", panggil Gary.
Ternyata Rose tertidur dan ia pun segera merenggangkan badannya.
"Iya.. iya.. ada apa sih?", Rose yang masih dalam keadaan setengah sadar berjalan terseok - seok menuju tempat Gary.
"Ayo sini... makan malam.", Gary tersenyum sambil menyodorkan ikan bakar yang ditaruh diatas daun yang lebar.
"Ini ada saos juga kalau mau.", Gary menyodorkan beberapa botol saus.
Rose pun tersenyum dan mulai menyicipi ikan bakarnya.
"Hmm... enak!", seru Rose girang.
"Tambahin lagi tuh sausnya.", ucap Gary.
Mereka pun menikmati ikan bakar mereka sambil melihat ke arah matahari yang akan segera terbenam. Setelah selesai makan, mereka berdua pun duduk bersantai sambil memandangi api unggun.
"Rose"
"Iya?"
"Aku akan mencari cara agar kita bisa pulang.", kata Gary secara tiba - tiba.
Rose memandangi Gary dalam diam.
"Aku akan mencari cara... supaya kita bisa pulang dan bertemu kembali dengan keluarga. Rose.. tentunya ingin pulang kan?", Gary menatap ke arah Rose.
Rose terdiam sesaat, ia memalingkan pandangannya lalu kembali menatap Gary.
"Iya.. aku ingin."
"Aku juga yakin tim SAR pasti masih mencari kita. Aku harus mencari cara, supaya keberadaan kita bisa ditemukan.", Gary menatap ke arah api unggun.
"Gary...", panggil Rose.
"Iya?"
"Jika kita kembali nanti, apakah kita... masih bisa bertemu lagi seperti ini?", tanya Rose.
Gary terdiam sesaat sambil melihat Rose.
"Tentu saja, kita pasti akan bertemu lagi.", balas Gary tersenyum sambil mengacungkan jempol.
"Janji?"
"Iya, janji."
Rose pun tersenyum, begitu juga Gary. Mereka berdua menatap ke arah api unggun, sembari memasukkan ranting - ranting kecil.
"Makasih... Gary!", ucap Rose tiba - tiba.
"Eh? untuk apa?", Gary kebingungan.
"Terima kasih untuk segala usahamu.... Aku benar - benar bahagia."
"Memangnya kamu gak pernah bahagia?"
"Itu rumit... semenjak kecil, aku selalu kesepian ditinggal sibuk oleh kedua orang tua ku."
Gary menyimak cerita Rose dengan penuh perhatian.
"Kedua orang tua ku selalu pergi keluar negeri untuk mengurus bisnis mereka. Aku di asuh oleh Bibi Martha, pelayan keluargaku. Hingga aku beranjak remaja, hanya Bibi Martha yang selalu berada di dekat ku. Orang tua ku sesekali pulang, melihatku sebentar saja, habis tuh mereka kembali sibuk dengan percakapan telepon mereka dan bisnis mereka. Aku....", Rose pun terdiam.
Gary hanya diam tak berkomentar. Rose pun menarik nafas perlahan.
"Aku suatu hari beruntung. Karena aku ikut berpartisipasi dalam ajang pentas drama, seorang produser tertarik dan ia pun merekrutku untuk bermain film yang disutradarainya. Dari situ, karirku sebagai artis perlahan menanjak. Sejak itu seluruh hidupku hanya difokuskan pada karirku, aku sangat jarang menikmati momen - momen seperti ini. Aku pun tidak tahu, apakah harus menyebut peristiwa ini sebagai musibah atau berkah?"
Gary masih terdiam dan sesekali ia menarik nafas pelan.
"Ini adalah momen yang bagiku istimewa. Karena untuk pertama kalinya, aku bisa terbebas dari belenggu rutinitas kehidupan dan bebas menjadi diri sendiri. Sebagai seorang yang terkenal di masyarakat, aku harus selalu menjaga nama dan citra dengan baik. Aku harus selalu menjaga reputasiku. Jujur, itu melelahkan!"
Gary menghela nafas dan kemudian berkata, " Sudah malam, ayo kita beristirahat!"
Rose pun mengiyakan dan mereka pun beristirahat di pesawat. Rose beristirahat di bangku VIP penumpang dan Gary beristirahat di kursi pilot.
Keesokan paginya, hari ke 2. Gary sudah bangun terlebih dahulu dan menyiapkan sarapan. Hari ini, ia berhasil menangkap 5 ekor ikan. Rose pun juga sudah bangun. Mereka berdua menikmati sarapan mereka, ikan bakar.
"Aku sangat suka teh melati ini, benar - benar menenangkan pikiran.", Gary membuka pembicaraan sambil menyeruput teh nya.
Cuaca hari ini sangat cerah. Sinar mentari bersinar dengan indahnya di langit yang biru.
"Apa yang sudah kamu lakukan?", tanya Rose.
"Pagi ini, aku menangkap ikan. Aku juga tadi mengutak - atik radio, berharap mendapatkan sinyal atau gelombang radio tim SAR, namun nihil. Aku juga menuliskan huruf S. O. S besar - besar, berharap ada pesawat yang melintas melihatnya. Aku juga membakar beberapa dedaunan, ranting, dan sebagainya, untuk memberikan tanda keberadaan kita.", jelas Gary.
"Kamu sangat berusaha sekali!", puji Rose kagum.
"Terima kasih.. aku melakukannya untuk kita berdua.", ucap Gary.
Rose pun tersipu terutama setelah mendengar kata 'Kita berdua'.
"Ayolah... tim SAR! Temukan kami disini!!", teriak Gary dengan lantang.
Rose pun tertawa melihat tingkah Gary. Gary pun duduk kembali.
"Rose.. kita sudah melewati 1 hari dengan baik. Tetapi, tak menampik, pada hari berikutnya kita akan mulai mengalami krisis. Pasokan makanan mungkin masih ada. Air? Juga masih ada. Yang jadi masalah utamanya, bagaimana kalau kita sakit? Obat - obatan disini tak memadai. Aku hanya khawatir bila itu terjadi.", Gary menunjukkan ekspresi cemas nya.
"Tenang.. Gary! Itu tidak akan terjadi kok!", Rose berusaha menenangkan.
"Semoga ya..", Gary tersenyum sambil menyeruput teh nya.
Malam itu kembali mereka lewati dengan damai.
Hari ke - 3, Gary sudah berkutat dengan radio alat komunikasi pilot. Ia terus memutar, berusaha menemukan sinyal atau frekuensi radio namun belum mendapatkan hasil.
"Sial!!", Gary merasa kesal. Ia pun meninggalkan ruang pilot itu.
Ia kembali mengulang aktivitas sebelumnya. Menulis huruf S. O. S besar - besar, membakar beberapa dedaunan, ranting dan bahan - bahan yang mudah terbakar. Rose mengamati Gary dalam kejauhan. Ia merasa heran, kenapa Gary terlihat begitu frustasi.
Hari ke - 4, Rose ketika akan menuju tempat Gary menyiapkan sarapan. Ia terkejut, mendapati Gary terbujur pingsan.
"GARYYY!!!", Rose segera berlari ke arah Gary.
"Sadarlah, Gary!! Kumohon!!", Rose terus berusaha membangunkan Gary. Wajah Gary terlihat pucat. Sekujur badannya pun panas.
Rose pun mulai menangis tersedu - sedu. Seketika, ingatannya kembali ke masa lalu. Kala dimana ia sedang sakit demam. Ia berusaha mengingat apa yang dilakukan Bibi Martha saat itu. Rose membuka matanya, dengan segera mencari baju yang dulu sempat dirobek oleh Gary. Ia mendapati baju itu, kemudian dirobeknya sekuat tenaga. Ia segera menuju laut, membasahi kain itu dengan air laut dan memerasnya. Kemudian, ia mengompreskannya ke dahi Gary.
Ia pun berlari ke dalam pesawat dan segera mencari ke seluruh isi pesawat. Laci - laci, tas penumpang dan sebagainya. Ia pun menemukan obat penurun panas. Dengan segera, ia mengambil gelas dan meraih termos yang masih berisi setengah air panas. Ia pun segera berlari menghadap Gary.
"Gary, minum obatnya. Buka mulutmu, kumohon!", Rose dengan segera membuka obat dan memasukkannya ke dalam mulut Gary. Ia berusaha mengangkat Gary agar dalam posisi duduk. Rose dengan sekuat tenaga meniup air panas dalam gelas agar tidak terlalu panas. Ia pun perlahan - lahan menyodorkan air itu untuk diminum Gary namun tidak berhasil. Rose pun berpikir keras. Tiba - tiba saja, ia teringat sesuatu. Tanpa pikir panjang, ia segera meminum air itu dan menyalurkannya ke mulut Gary. Gary pun tertidur di pangkuan Rose. Sepanjang hari, dengan cekatan Rose terus mengganti kompresannya secara berkala.
Hari ke - 5. Gary pun terbangun. Kondisi badannya juga sudah pulih. Namun, ia terkejut mendapati Rose tertidur disampingnya. Tak hanya itu, tangannya digenggam oleh Rose. Rose pun menyelimutinya agar Gary tidak kedinginan.
"Rose sudah berjuang keras!", ucap Gary dalam hati.
Beberapa jam kemudian, Rose pun terbangun. Ia terkejut, melihat Gary tak ada disampingnya. Ia bergegas bangun dan segera mencarinya.
"Gary... Gary!!! Kamu dimana?", teriak Rose histeris.
"Kenapa teriak - teriak begitu?"
Sebuah suara menghampiri telinga Rose dari belakang. Ia segera menghadap belakang. Gary tersenyum kepadanya sambil menyodorkan ikan bakar. Air mata Rose pun mengucur membasahi pipinya. Ia segera berlari dan memeluk Gary dengan erat. Ia menagis sejadi - jadinya.
"Huaaahhh..... Huaaahhhh... hiks... hiks..."
"Sudah... sudah...", Gary mengusap lembut kepala Rose. "Aku baik - baik saja!"
Rose masih memeluknya dengan erat.
"Kamu sudah berjanji akan bertemu denganku lagi!! Jangan seenaknya bikin aku panik dong! Hiks... Hiks.."
"Maaf... maaf... hehe.."
"Ketawa lagi!!"
Gary hanya mengelus kepalanya.
"Oh iya."
"Kenapa?", Rose melepaskan pelukannya.
"Aku bawa kabar baik. Aku sudah berhasil menghubungi tim SAR! Mereka akan menuju tempat keberadaan kita dengan melacak melalui frekuensi radio pesawat ini. Tapi, aku juga akan membantu mereka menemukan tempat ini. Aku sudah memberitahu mereka tentang caraku.", terang Gary.
"Bagaimana caranya?"
"Ini sebuah pertaruhan tapi harus dicoba. Aku akan membakar hutan ini dan menyebabkan kebakaran besar. Dengan begitu, aku bisa menangkap perhatian mereka!"
Rose pun terkejut mendengar penuturan Gary.
"Kita harus mencobanya! Sesuai janjiku, aku akan membuat kita berdua pulang dengan selamat!", ucap Gary penuh semangat.
"Gary..."
"Iya?"
"Terima kasih.."
"Aku yang harus berterima kasih karena kamu sudah menolongku dan merawatku. Aku benar - benar... bahagia sekali!", ucap Gary dengan senyum bahagia di wajahnya.
Rose tersenyum.
"Rose.."
"Iya?"
"Aku... suka padamu."
Kata - kata itu seketika membuat hati Rose berguncang hebat. Rose tak bisa berkata apa - apa. Saat ini, semua perasaannya bercampur aduk menjadi satu.
"Maukah kau... berkencan denganku setelah kita pulang nanti?", tanya Gary kembali.
Tanpa jeda apapun lagi, Rose segera menganggukan kepala.
"Aku akan menunggumu!"
Gary pun tersenyum kegirangan dan dengan segera melaksanakan aksinya. Gary mengecek korek apinya yang hanya tersisa 3 batang.
"Semoga berhasil!", ia berdoa dalam hati.
Gary segera mengumpulkan daun kering dan menyebarkannya di hutan. Ia mulai menyalakan korek api pertama dan belum berapa lama menyala api itu padam. Gary menarik nafas dalam, ia pun mencoba yang kedua. Namun hasilnya sama. Ia pun frustasi dan berharap pada koreknya yang terakhir. Sebelum ia menyalakannya, Rose berlari ke arahnya.
"Gary... ada yang aneh di sayap pesawat!"
"Apa itu?"
"Aku tidak tahu itu. Ia menetes keluar dari sayap pesawat se tetes - tetes dan baunya menyengat banget!"
Gary pun berpikir sejenak dan tiba - tiba ia tersadarkan sesuatu.
"Itu dia, aku butuh itu!!", teriak Gary tiba - tiba.
"Memang itu apaan?", tanya Rose penasaran.
"Avtur... itu avtur. Minyak bahan bakar khusus pesawat. Aku harus menampungnya!"
Gary segera berlari menuju pesawat dan ia teringat pernah melihat sebuah teko di ruang penyajian. Ia segera mengambil teko itu dan beberapa perkakas. Ia berlari menuju sayap pesawat dan menemukan tetesan avtur itu. Ia meletakkan teko dibawah tetesan itu dan mengambil batu yang menjadi perkakasnya, menghantam sekuat tenaga ke titik tetesan itu. Ia terus menghantamnya, hingga titik tetesan itu pun menjadi deras dan teko itu dengan segera penuh dengan avtur. Ia membawa teko itu menuju hutan dan mulai menyiramnya ke daun - daun kering, pohon - pohon, rumput - rumput dan sebagainya. Ia pun meraih koreknya dan menyalakannya lalu melemparkannya ke daun - daun yang sudah dibasahi avtur dan seketika langsung api membesar dan mulai membakar sekitarnya. Hutan itu pun dalam sekejap menjadi lautan api dan tak berapa lama Tim SAR pun menemukan pulau tempat mereka berada.
***********
"Kamu sudah siap?", tanya Gary yang melihat Rose baru saja memasuki mobilnya.
"Sudah dong! Kita mau kemana?, tanya Rose dengan gaun merah gemerlapnya.
"Kita akan dinner di restoran bintang lima sambil menikmati music club. Kau mau?", tanya Gary dengan setelan jas hitam.
"Tentu saja.. apa nama restonya?"
"Capadocia Palace", ucap Gary langsung menginjak pedal gas.
Mobil hitam itu pun meluncur dan terbenam dalam jalanan pusat kota dengan lampu - lampu yang menghiasi sepanjang jalannya.
*The End*