Tak ada orang tua yg akan rela jika anak laki-laki satu-satunya menikah dg wanita malam. Begitu juga dg Saodah. Dia marah besar saat tau jika menantunya itu adalah seorang pelacur. "Jika ibu tahu dari awal kalau Nahla itu perempuan gak bener, ibu gak akan rela kamu menikahinya." Kata Saodah penuh amarah kepada Sholeh ketika pulang dari pengajian. "Ada apa to buk.. pulang pengajian kok langsung marah-marah?" Jawab Sholeh dg santainya. "Kamu fikir ibu gak tau? Nahla itu perempuan gak bener. Dia itu menjual dirinya pada laki-laki hidung belang. Ibu malu jadi bahan olok-olokan semua orang. Kenapa sih kamu harus menikah dg wanita seperti itu? Kamu itu ganteng. Pinter. Faham agama. Bahkan masyarakat sudah menganggapmu kyai muda. Tapi kenapa punya istri wanita malam?" Kata Saodah penuh emosi. "Bu.. Dulu Nahla memang begitu. Tapi lihatlah sekarang. Dia sudah berubah bu.. Auratnya sudah ditutup dan dia juga belajar menjadi manusia yg lebih. Seharusnya ibu menghargai semua usahanya." Jawab Sholeh. "Dia begitu karena kamu punya segala-galanya. Apa kamu bisa menjamin dia gak akan menjual dirinya lagi kalau kalian hidup serba kekurangan?" Tanya Saodah lagi. "Insyaallah gak bu.. aku akan membimbingnya untuk tetap dijalan Allah. Ibu do'akan saja kami bisa menjadi keluarga sakinah mawadah wa rohmah. Sholeh tak akan biarkan orang memandang sebelah mata Nahla. Apalagi sampai berani menindasnya." Jawab Sholeh tegas. Ibunyapun hanya berlalu pergi menuju kamarnya dg perasaan yg masih penuh amarah. Tak jauh dari mereka ada seseorang yg mendengar pertengkaran itu. Dia adalah Nahla. Sumber masalah ini. Ketika menyadari ada Nahla, Sholehpun segera berdiri dan menemui istrinya itu. "Sayang.. Gak usah dengerin omongan ibu ya.. Ibu sedang marah jadi tak bisa mengontrol ucapanya." Kata Sholeh sambil memeluk istrinya yg sedang menangis.
Sejak awal, sebenarnya Sholeh sudah tau kalau Nahla adalah wanita malam. Nahla yg memakai nama samaran Nana saat bekerja itu ia temukan dipinggir jalan dg keadaan yg mengenaskan saat ia pulang memberikan tausiah di kota sebelah. "Assalamualaikum.. Maaf mbak.. Saya lihat keadaan anda sedang tidak baik. Apa ada yg bisa saya bantu?" Kata Sholeh sambil menundukkan pandangannya. Nahla justru semakin menangis, membuat Sholeh semakin bingung. "Mbak.. Maaf.. Saya tidak tau kejadian apa yg telah menimpa anda. Namun jika mbak terus menangis dg keadaan seperti ini. Maka bisa jadi ada bahaya yg jauh lebih besar. Lebih baik mbak ikut saya masuk mobil. Nanti saya antarkan kerumah. Saya bukan orang jahat mbak.. Ini KTP saya silahkan anda bawa. Kalau saya berbuat jahat mbak langsung bisa melaporkan saya ke polisi." Kata Sholeh sambil menyodorkan KTP. Nahla menerimanya dan segera masuk mobil.
Setelah beberapa menit melakukan perjalanan, keadaan Nahla sudah semakin tenang. Sudah tidak terdengar ada suara isakan. "Mbak maaf.. Saya harus mengantar mbaknya kemana ya?" Tanya Sholeh. "Antarkan saja saya kepantai asuhan Kasih Bunda pak. Saya akan menyusul anak saya" jawab Nahla. "Dg keadaan seperti ini?" Tanya Sholeh bingung. Nahla kembali menangis "Saya gak tau harus kemana lagi pak.. Saya ini psk. Anaknya mama Ajeng. Namun saya tidak mau lagi kembali kesana. Tadi ada pelanggan yg menyewa jasa saya. Saya diajak keluar. Setelah laki-laki itu menuntaskan hasratnya, tiba-tiba saja dia berubah menjadi laki-laki kejam. Dia menyiksa saya dg membabi buta. Setelah dia puas menyalurkan amarahnya diapun mengajak saya kembali kerumah mama Ajeng. Namun saya meminta berhenti dijalan. Pak.. Saya sudah lelah dg semua ini. Saya ingin berhenti bekerja. Saya tahu dosa saya sangat besar. Saya lebih baik mati saja." Kata Nahla frustasi. "Zina memang dosa mbak.. Jadi jangan ditambah dg bunuh diri. Allah itu maha pemaaf. Dia akan mengampuni semua dosa umat yg mau bertobat dg tobat yg sebenar-benarnya." Jelas Sholeh yg membuat Nahla semakin menangis. Keadaan hening seketika. "Mbak. Panti asuhan yg mbak maksud lokasinya jauh dari rumah saya. Sekarang sudah larut. Keadaan mbak juga sangat berantakan. Apa gak sebaiknya mbak mengobati luka mbak dan menganti pakaian? Kalau mau, mbak bisa mampir ke rumah saya. Biar ibu saya membantu mengobati luka mbak." Usul Sholeh yg dijawab dg anggukan oleh Nahla sebagai tanda setuju.
Sesampai di rumah Sholeh, Nahla dibantu Saodah mengobati lukanya. Diapun mengganti pakaiannya yg terbuka dg pakaian milik Saodah.
Keesokan harinya Nahla diantarkan oleh Sholeh menuju panti asuhan tempat anaknya dititipkan. Disepanjang jalan Nahla mulai menceritakan siapa dirinya. Dia adalah janda 1 anak yg ditinggal suaminya meninggal karena sebuah pembunuhan. Suaminya dibunuh karena tidak mampu membayar hutang & melawan saat ditagih. Pada saat itu anak perempuannya yg akan dijual bos rentenir sebagai ganti hutangnya. Namun Nahla tidak rela. Sehingga kini dialah yg dijual untuk melunasi hutang almarhum suaminya. Tak terasa mereka sudah sampai di panti asuhan Kasih Bunda. Namun ada berita duka. Anak Nahla meninggal 1minggu yg lalu karena sakit. Nahla tidak bisa dihubungi sehingga baru sekarang dia tau kabar itu.
Nahla akhirnya diajak kembali kerumah Sholeh. Untuk menghindari fitnah bu Saodah memberi saran agar mereka menikah. Akhirnya mereka menikah. Namun akhir-akhir ini bu Saodah menyesali sikapnya itu setelah tau asal usul Nahla. Tapi Sholeh tetap pada pendiriannya. Dia akan tetap membimbing Nahla menjadi wanita solehah. Bahkan dia tidak akan rela jika masih ada orang yg berani menindas istrinya.