Di tepi dermaga, seorang wanita berdiri sendirian tanpa mempedulikan terpaan angin kencang dan ombak yang menghantam bibir dermaga yang membuat air membasahi pakaian yang dia kenakan. Badai akan datang, begitulah kabar cuaca yang tersiar di televisi. Tatapan wanita itu kosong, entah apa yang ada di dalam pikirannya sampai seperti itu.
"Shara!" Teriakan itu membuatnya menoleh. Seorang pria yang sangat dikenalinya tampak berjalan mendekat, mengikis jarak di antara mereka.
"Jangan melangkah lebih jauh!" Begitu hanya tersisa 2 meter, wanita itu berteriak memperingatkan. Dia tidak ingin berada di dekat pria itu, tidak lagi.
"Kita bisa bicarakan ini baik-baik, Shara. Sebentar lagi badai akan tiba, lebih baik kita segera pergi dari sini," ujar pria itu dalam upayanya untuk membujuk.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Ray. Aku sudah paham, ... tidak ada kesempatan untukku, bahkan setelah aku memberikan apa pun untukmu. Membiarkan kamu menjadi yang pertama untukku, bahkan melakukan apa pun yang kamu mau padaku." Dia menangis, kembali menitikkan air mata untuk kesekian kalinya hari ini. "Apa pun yang sudah aku lakukan tidak akan bisa membuatku berada di posisi yang sama dengan wanita itu. Setelah dia memutuskan hubungan denganmu pun kamu masih berusaha kembali padanya. Di sini, aku yang terlalu bodoh hingga memaksakan segalanya padamu."
"Bukan begitu, Shara. Kamu adalah sahabatku, perasaan sayangku tidak bisa lebih. Hatiku sudah dimiliki oleh Chayra." Dia melangkah dengan perlahan tanpa disadari oleh wanita bernama Syara itu, mendekatinya untuk mencegah apa pun yang bisa terjadi di kemudian. "Aku minta maaf untuk segala yang sudah kulakukan padamu. Aku sungguh meminta maaf, walaupun aku tahu itu tidak bisa mengembalikan apa pun."
"Tidak perlu. Ini memang adalah salahku, aku yang terlalu bodoh untuk mencintai pria brengs*k sepertimu. Aku paling benci kamu, Ray!" teriaknya di sela tangis yang sudah tidak dapat dia tahan lagi. Syara melangkah mundur, semakin dekat dengan bibir dermaga. "Namun, tidak akan lagi sekarang. Aku akan mengakhiri kebodohan ini .... Selamat tinggal, Ray."
Pada detik berikutnya, Syara melompat ke dalam lautan yang dihiasi ombak yang ganas itu. Terjadi begitu cepat hingga Ray tidak sempat melakukan apa pun selain menatap tempat terakhir wanita itu dalam keadaan syok.
—
"Keputusan tanpa pertimbangan memang seringnya mengarahkan pada penyesalan."—nowhere🌱