"Ugh!" Leguhku.
Mataku pelan-pelan mengerjap karena terkena silaunya matahari pagi. Disaat aku sudah membuka mata aku melihat sekelilingku.
Tunggu! Kenapa kamarku berubah menjadi mewah? Bahkan dilengkapi barang-barang yang berkilauan. Dimana ini? Batinku bertanya-tanya.
Tak lama setelah aku membuka mata datang seorang wanita. "Nona! Akhirnya nona sadar juga!" Teriak wanita itu.
Aku pun masih terpaku dengan pikiranku saat ini. Tunggu? Nona? Siapa yang dipanggil nona? Batinku bertanya lagi.
Daripada penasaran, aku pun memberanikan diri untuk bertanya. "Emm… anu kamu siapa dan dimana aku saat ini?"
Wanita itu terkejut. "Apakah nona tidak ingat saya? Ini saya pelayan anda Lilly dan sekarang nona sedang berada di rumah nona sendiri" ucapnya.
"Tunggu sebentar nona, saya akan memanggil orang tua nona" lanjutnya lagi, lalu pergi secepat kilat bahkan mengalahkan kecepatan emak-emak yang sedang mengantri jatah minyak goreng yang harganya melambung saat ini.
Tak lama kemudian datang sepasang pasutri yang bisa dibilang umurnya sudah tua. "Aisha! My lovely! Thank God, akhirnya kau bangun juga. Ibu sangat mencemaskan mu" ucap wanita paruh baya itu seraya memelukku.
Chottomatte, Aisha? Ibu? Ada apa ini sebenarnya! Pekik ku.
Aku pun mengurai pelukannya. "Maaf nyonya anda ini siapa? Mengapa memanggil saya Aisha?" Tanya ku.
Kedua pasutri itu saling pandang, lalu menatapku dengan tatapan sedih. "Kau tidak ingat nak? Aku ayahmu Duke Andrew de Arno. Sedangkan dia adalah ibumu Martha de Arno" ucap laki-laki paruh baya itu memperkenalkan dirinya beserta istrinya.
"Dan ya kau adalah putri kami, Aisha de Arno. Mungkin kau tidak ingat akibat kau terbentur meja kemarin malam" lanjutnya lagi.
Tep!
Wait? Aisha de Arno? Aku ingat sekarang, aku ingat! Semalam sebelum tidur aku sedang membaca novel bertema kerajaan dan ada karakter yang bernama Aisha yang merupakan putri Duke de Arno. Jadi saat ini aku masuk ke dalam novel dan menjadi Aisha.
"Nak saat ini mungkin kau masih lelah, jadi tidurlah" ucap ibuku.
"Ah… tidak, aku tidak lelah" jawabku cepat.
"Kalau begitu baiklah, bersiaplah kami akan menunggumu di meja makan" ucap ibuku lagi. Lalu ayah dan ibu pun keluar dari kamarku.
Lilly pun membantuku bersiap, mulai dari mandi sampai meriasku. Bahkan ia memakaikan ku perhiasan yang sangat banyak ditubuhku. Saking banyaknya jika aku masih di dunia asliku mungkin aku akan kena jambret. Ah ngomong-ngomong soal tubuhku di dunia asliku bagaimana ya, bagaimana keadaan Sarah yang hidupnya sebatang kara berbanding terbalik dengan ku saat ini.
Setelah selesai bersiap, aku pun turun tangga dengan langkah gontai menuju meja makan.
"Nak lagi empat hari akan ada pesta debut, jadi aku sudah memesankan mu gaun, jadi pergilah nanti untuk mencobanya" ucap ibuku.
"Baik ibu" jawabku dengan senyum.
*
Aku pun turun dari kereta kuda. Saat ini Aku beserta Lilly sudah sampai di toko baju langganan keluarga Duke. Aku pun mencoba gaun itu sebelum kupakai di pesta. Gaun biru muda yang berat sesuai dengan warna bola mataku. Aku pun tampak berfikir bagaimana bisa ada orang yang memakai baju yang sangat berat ini.
Setelah selesai mencoba baju, Lilly mengajakku menuju toko perhiasan. Sesampainya di sana sudah terpampang jelas perhiasan yang berkilauan, sangat menyilaukan mata. Jiwa gila belanja ku pun bangkit. Aku pun memilih banyak perhiasan yang desain dan ukuranya berbeda-beda.
Sesaat setelah selesai berbelanja perhiasan aku pun menyesal, menghabiskan banyak uang membeli banyak perhiasan, walaupun Lilly mengatakan keluarga Duke tidak akan bangkrut jika aku berbelanja banyak.
Sesudah itu, aku menuju toko sepatu. Sama seperti di toko perhiasan, jiwa gila belanja ku pun bangkit tanpa bisa di rem. Aku pun membeli banyak sepatu yang mungkin tidak akan habis aku pakai. Lilly dan pak kusir pun terlihat kewalahan membawa barang belanjaan ku.
Hari sudah siang, Aku menyuruh Lilly untuk membeli beberapa jajanan yang ada di sepanjang jalan. Lalu Aku pun duduk di sebuah kursi di taman, sembari membawa roti isi yang kubeli tadi. Menyandarkan bahu sembari meregangkan otot-otot ku yang seharian ini pergi dari satu toko ke toko lainnya.
Aku pun melihat burung merpati mendekat, mungkin karena aku memegang roti di tangan ku. Aku pun membagi roti itu lalu kuberikan kepada burung merpati.
"Hei kau ini membuatku terganggu saja!" Ketus seseorang dibalik pohon.
"Siapa anda?" Tanyaku mencari asal suara.
Aku pun mendekat. Seketika aku terpana, bagaimana tidak seseorang dibalik pohon itu adalah seorang pria tampan yang sedang membaca buku.
"Hello lady, are you okay?" Tanyanya sambil menjentikkan jarinya.
"Oh maafkan aku sudah membuat gaduh" ucapku meminta maaf.
"Setelah membuat gaduh kau meminta maaf? Dasar!" Ucapnya ketus.
Emosiku pun tersulut. "Hei, siapa anda seenaknya berkata seperti itu! Ini adalah taman yang terbuka untuk umum, bukan milikmu tuan! Semua orang memiliki hak untuk datang kemari!" Ujarku.
"Kau, apa hakmu mengatakan itu padaku hah?!!" Tanyanya dengan nada tinggi.
Tak tinggal diam aku pun menjawabnya. "Tuan didunia ini semua orang memiliki hak yang sama. Hak saya adalah dapat menyampaikan pendapat saya. Anda juga memiliki hak dalam menyampaikan pendapat anda. Tapi, bisakah dengan cara yang sopan, anda berkata seperti itu seakan taman ini adalah milik leluhurmu!"
Melihat keributan Lilly pun datang lalu membawaku pulang. "Sudah nona, jangan hiraukan lagi" ucap Lilly menenangkanku yang saat ini sudah naik di kereta kuda.
*
Setelah insiden di taman itu, disinilah aku menatap cermin yang ada di kamarku, memandangi diriku sendiri. Hari ini adalah pesta debut yang akan dilaksanakan oleh pihak kerajaan. Lilly seperti biasa membantuku saat berdandan dan memakaikan perhiasan.
Aku pun pamit kepada ayah dan ibu, lalu naik ke kereta kuda. 30 menit kemudian, aku pun sampai di depan istana, lalu berjalan menuju aula tempat pesta diadakan.
Disana aku bertemu dengan beberapa putri bangsawan diantaranya lady Baron Izelle Scalvet dan lady Viscout Mimir de Souza. Kami pun berbincang-bincang dengan santai bahkan sesekali bergosip mengenai pria tampan yang ada di kerajaan.
"Hey Aisha bukankah pria itu tampan?" Tanya Mimir sambil menunjuk seorang pria.
"Oh bukankah itu putra Count Neil?" Tanya Izelle.
"Tapi bukankah pangeran mahkota yang paling tampan di kerajaan?" Tanya Mimir lagi.
"Bagaimana denganmu Aish?" Tanya Izelle.
Aku pun tersenyum, menyimak obrolan mereka.
Tak lama pesta pun dimulai. Raja dan Ratu pun memberi sambutan. Lalu dari arah belakang Raja dan Ratu datang seorang yang aku kenal lalu memberi sambutan.
"Terima kasih sudah datang pada pesta malam ini, aku Putra Mahkota Leonhart Bellacian menyatakan pesta ini dimulai" ujarnya.
Aku pun kelimpungan. Si*l! Bisa-bisanya orang yang kusinggung adalah putra mahkota. Batinku kesal.
Acara pertama yaitu dansa, bisa kulihat pangeran mahkota mendekat ke arahku. "Lady bisakah kita berdansa?" Tanyanya. Aku pun tak bisa menolak.
Iringan musik mengiringi langkah kami. "Kau tau kau orang pertama yang berani mengkritik ku" bisiknya. "Dan itu yang membuatku menyukaimu" lanjutnya lagi.
"Lady apakah kau menyukaiku?" Tanyanya. Tanpa dirasa aku pun mengangguk.
Dia pun tersenyum. Iringan musik pun berhenti. Lalu ia pun berlutut di hadapanku, itu membuat atensi orang-orang tertuju pada kami. "Lady Aisha de Arno maukah kau menikah denganku Leonhart Bellacian?" Tanyanya.
Bisakah aku mengatakan bahwa aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya?
Aku pun menarik nafas. "Ya aku bersedia" jawabku. Leonhart terlihat tersenyum mendengar jawabanku.
"Aku umumkan mulai saat ini Lady Aisha de Arno akan menjadi calon istriku, calon permaisuri masa depan kalian" ucap Leonhart.
END
Sekian ya, Terimakasih yang udah baca.
Ini hanya cerita yang ditulis oleh orang gabut. 🗿🤪
Mungkin dalam penulisan ada kekurangan, karena pada dasarnya tidak ada manusia yang sempurna.🙂🙂
Jangan luka like komennya kakak-kakak semua😘😘😘