Tidak seperti kebanyakan gadis remaja seusiaku yang menyukai boygroup atau girlgroup dari Negeri Ginseng, aku malah menyukai film animasi yang berasal dari negara dengan berbagai teknologi canggih, Jepang. Itu semua dimulai sejak aku menduduki kelas 7 di sekolah menengah pertama. Sangat sulit mencari teman saat itu, bagiku, karena semua orang tampaknya begitu mudah membuat pertemanan. Suatu hari aku hanya bersantai dengan malas di depan televisi yang menampilkan acara berita membosankan. Aku pun mengganti saluran televisi hingga menemukan anime. Akhirnya aku memutuskan untuk menontonnya, mengikuti alurnya tanpa sadar setiap hari di jam yang sama.
Dan ... boom! Aku jadi suka menonton anime. Ya, memang tidak semua genre aku tonton, hanya yang bergenre aksi atau terkadang school life. Aku lebih suka menonton sesuatu yang dapat meningkatkan hormon dopamine dalam tubuh, sesuatu yang bisa meningkatkan adrenalinku. Beriringan dengan tahun yang terus berganti pun aku jadi tidak bisa sering menghabiskan waktu untuk menonton, banyak kegiatan sekolah yang menyita waktu, seperti ekskul Klub Bahasa Inggris yang aku ikuti untuk persiapan lomba debat atau Klub Literasi yang aku ikuti atas saran wali kelas. Itu semua melelahkan, membuat aku kehilangan kesempatan untuk menonton.
Sekarang adalah tahun keduaku di sekolah menengah atas, bulan depan aku akan mencapai usia enam belas. Masih awal tahun ajaran sebenarnya, tetapi sudah banyak kegiatan yang menunggu diriku. Awal tahun depan, terhitung tiga bulan lagi, dikabarkan akan diadakan olimpiade bahasa Jerman yang sudah dinantikan oleh guruku. Entah untung atau bukan, aku sudah dilirik dan diberi wanti-wanti untuk menjadi salah satu pesertanya. Bertambah satu beban pikiran lagi.
Namun, hari ini aku tidak ingin memikirkan apa pun. Aku hanya ingin melakukan acara temu-kangen dengan list anime yang telah menumpuk di laptop. Pilihanku jatuh pada anime yang merupakan spin-off dari sebuah anime lainnya dengan tokoh utama adalah seorang laki-laki dengan makhluk berekor sembilan di dalam tubuhnya. Terkadang saat terlalu asik menonton anime, aku membayangkan bagaimana jika masuk ke dunia yang ada di anime itu. Yaah, kehidupan di dunia ini seringnya sangat melelahkan bagiku.
Tidak tahu tepatnya sudah sampai episode berapa aku menonton, aku jatuh terlelap begitu si tokoh utama berambut kuning mendapatkan misi ke luar desa mereka.
***
Haduh.. rasanya punggungku sakit sekali, dan kenapa pula terasa begitu panas sekarang? Padahal tadi aku sudah menyalakan air conditioner saat menonton.
Eh?!
Di mana aku sekarang?!
Alam terbuka dengan langit birunya yang cerah, lalu pepohonan di sekelilingku yang sangat aku yakini secara tidak langsung menyatakan kalau sekarang 'aku' berada di tengah hutan. Ya, ... aku! Bagaimana bisa aku berada di hutan?! Apa-apaan pula yukata merah yang membalut tubuhku ini? Aku sangat ingat tadi hanya memakai kaus oversize agar nyaman selama menonton.
Tida, tidak. Dibandingkan dengan hal-hal itu, mengapa tanganku kecil begini? Bukan hanya tangan, tubuhku mengecil seperti saat berusia enam tahun. Astagaa, apa lagi ini?!
"Hei, cari anak itu sampai ketemu! Dia tidak akan kabur terlalu jauh, cepat berpencar!"
Nah, sekarang bertambah buruk karena aku memiliki firasat buruk setelah mendengar seruan itu. Setelahnya aku mendengar banyak langkah kaki, dari berbagai arah, termasuk ... dari atas?
Hal tidak masuk akal apa itu?
"Kau memang tidak akan bisa lari jauh dengan kaki mungilmu, Nona Kecil."
Aku mendongak untuk melihat ke sumber suara, seorang pria berjanggut tipis berdiri di dahan besar pohon yang aku sandari. Detik berikutnya pria itu melompat turun di depanku, hanya berjarak beberapa langkah dariku.
"Sekarang ikuti Paman dengan tenang, jangan menjadi anak nakal."
Otakku memberi tahu bahwa pria itu adalah orang yang jahat, aku tidak boleh menurut padanya. Jadi, aku memutuskan untuk berlari ke arah sebaliknya, melarikan diri dari pria itu.
Suara langkah kaki yang berat itu terdengar berada tepat di belakangku. Benar saja, begitu menoleh aku mendapati tubuh besar pria itu tepat berada di belakangku dan menyeringai. Aish, jangan mengejar terlalu cepat, aku kesulitan dalam balutan yukata ini!
Entah kebetulan atau memang suatu kemujuran, langkah pria itu melambat sehingga jarak antara kami tercipta semakin jauh. Aku mendengarnya yang mengumpat mengenai 'kemampuan sial*n', tetapi karena tidak mengerti aku terus berlari tidak tentu arah.
"Aduh!"
Ya, itu sampai aku menabrak seseorang hingga aku berakhir di atas tubuhnya. Aku menyingkir dari atasnya secepat yang aku bisa, terlalu takut jika yang aku tabrak adalah teman dari pria tadi. Tubuhku refleks mundur dengan cepat, menghindari orang itu. Namun, begitu memusatkan pandangan dengan jelas, aku mendapati seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun bersurai kuning.
E-eh?!
"... Boruto?"
"Kau tahu namaku, adik kecil?"
Seketika aku menutup mulut dengan kedua tangan mungilku. Aku tidak sadar mengatakannya secara langsung, tidak dalam pikiranku.
"Sudah kubilang, kau tidak akan bisa lari jauh dariku."
Waktu yang tidak tepat. Pria itu sudah berhasil kembali menemukanku. Mengapa aku dikejar seperti ini?! Aku kesal. Banyak hal tidak masuk akal yang memusingkan kepalaku.
"Apakah orang itu berniat jahat padamu?" Wajah Boruto tiba-tiba menyeruak ke dalam pandanganku, dia bertanya dengan wajah yang serius. Sontak aku mengangguk dengan cepat untuk menjawabnya. Dia seketika berdiri dan mengambil posisi di depanku.
"Tidak baik mengganggu anak kecil, Paman."
"Aku tidak memiliki urusan denganmu, serahkan saja anak itu jika tidak ingin terluka!"
"Sayangnya dia tidak tidak ingin ikut denganmu."
"Sudahlah, aku malas berbicara. Biar aku ambil dengan tanganku sendiri."
Setelahnya terjadi pertarungan antara pria itu dan Boruto. Bunyi benturan kunai lalu pukulan yang beradu terdengar di telingaku. Gerakan mereka begitu cepat sehingga aku tidak bisa mengikutinya. Hingga pria itu meletakkan kedua tangannya di atas tanah dan menggunakan jutsu untuk mendorong mundur Boruto dengan dinding-dinding tanah yang terbentuk. Itu membuat Boruto cukup terdesak, aku melihatnya yang mengalami kesulitan.
Jika seperti ini, bocah kuning itu tidak memiliki kesempatan untuk menang. Aish, menyebalkan! Aku tidak ingin tertangkap. Jika di film-film fantasi, aku harap dinding-dinding tanah itu berbalik mengurung pria itu.
"Aaakkh!"
Te—terjadi! Dinding-dinding tanah itu mengurung si pria hingga hanya menyisakan kepalanya saja. Dia tampak berusaha melepaskan diri, tetapi itu tidak berhasil entah mengapa. Padahal itu jutsunya sendiri.
"Apa yang kau pikirkan, anak sialan! Lepaskan aku!" Pria itu berseru sembari menatap ke arahku. Aku sama sekali tidak mengerti dengan kalimatnya, kepalaku yang terasa semakin pusing pun menghambat aku untuk mencerna kalimat itu.
"Sebaiknya kita segera pergi dari sini sebelum orang itu berhasil melepaskan diri." Boruto menggendong diriku di punggungnya. Kemudian dia mulai berlari untuk menjauhi tempat itu.
"Aku akan membawamu ke tempat yang aman. Sekarang kau tidak perlu takut." Itu adalah kalimat terakhir yang aku dengar sebelum kehilangan kesadaran.