[Cowokku Rupanya Orang Terkaya di Kota Ini]
Eh? Bukannya itu Terius?
Hana kaget sedang melihat pacarnya di TV. Terius sedang diwawancarai karena ia menjadi orang terkaya di kota tempat tinggal mereka.
Orang kaya? Bukan! Tapi paling kaya! Pasti bukan Terius. Mungkin wajahnya aja yang mirip. Selama ini kami selalu naik angkot kalau ngedate karena katanya ia nggak punya motor.
Makan juga sering aku yang bayarin. Aku kasihan pakai uangnya karena katanya ia belum dapat pekerjaan.
Kok aku mau sama dia? Karena tampangnya! Dipandang dari sisi manapun, wajahnya terpahat sempurna. Sekaligus mau memperbaiki keturunan.
Nggak pa pa aku yang kerja cari duit. Nanti Terius yang jaga rumah dan anak-anak. Begitu pikirku.
Tapi semakin aku lihat, orang yang di TV itu memang Terius. Daripada penasaran aku telepon dia.
Orang yang mirip Terius itu mengangkat ponselnya. "Hana, aku lagi diwawancarai. Nanti kita ngobrol lagi." Hana mendengar suara yang sama di ponselnya.
Eh? Yang di TV itu beneran Terius.
Terius berkunjung ke rumah Hana. Ia membawa mobil Lamborghini.
"Aku butuh penjelasan. Kenapa kau membohongiku. Sudah setahun lho hubungan kita itu."
"Maafkan aku. Bukannya aku mau bohong tapi aku harus bohong."
"Maksudmu?"
"Aku tak mau dicintai karena hartaku. Aku ingin dicintai karena aku sebagai pribadi. Aku yang tak punya apa-apa, kau masih menerimaku."
"Ceritakan mana yang bohong dan mana yang benar tentang kamu." Hana minta penjelasan.
"Semuanya hampir benar kecuali soal uang aja. Aku memang nggak punya motor. Aku cuma punya mobil. Aku terkadang nganggur kalau nggak dapat proyek. Tapi kau tetap mau jadi pacar aku, kan? Tidak. Sekarang aku mau melamarmu."
Terius membuka kotak berisi cincin berlian. "Jadilah istriku."