Bukanlah mudah bagi Hifza menerima kenyataan dan bertemu banyak orang setelah kejadian malam itu, Hifza memutuskan untuk meliburkan diri sejenak dan selalu meminta info ataupun catatan dari Alvaro.
TOK!TOK!TOK!
“Siapa?”tanya Hifza yang berada di belakang pintu yang tertutup.
“Ini aku Alvaro”
“Ada apa Val?”
“Hifza aku ingin berbicara dengan mu”
“Aku....”ucapku ragu, jujur aku masih takut untuk bertemu orang lain.
“Ayolah... ”
“Bisakah kita berbicara di luar saja?”
“Ada apa dengan mu Za, ku harap tidak terjadi hal buruk padamu”batin Alvaro sebelum berkata Ya.
Mereka pun kini berada disebuah taman, dimana keduanya masih sama diam.
“Kamu baik baik saja kan Za?”tanya Alvaro, akupun hanya menggangguk lemah
“No, kamu gak baik-baik aja. Kamu bisa cerita padaku Za”ucap Alvaro sembari menggenggam tanganku...
Aku merasa bergetar, kemudian menarik tanganku dari genggaman nya...
“Aku tidak apa-apa Val, tidak perlu khawatir” ucapku dengan senyum terpaksa.
“Apa kamu yakin?”tanyanya sembari memegang tanganku kembali, akupun langsung saja menariknya dan mengangguk dengan cepat.
“Semakin begini aku semakin yakin kamu sedang dilanda masalah Za, aku akan menunggu kamu siap bercerita”batin Alvaro
“Dan aku berharap semoga itu bukan masalah besar, saat ini tugasku hanyalah membuatmu bahagia dan siap berbagi masalah yang kamu hadapi” batin Alvaro selanjutnya.
Alvaro mengajakku berjalan jalan ke berbagai tempat, sejenak akupun lupa akan kesedihan ku dan merasa mulai siap menghadapi dunia...
Besoknya, akupun kembali ke rutinitas kuliahku...
“Hifza”panggil Daren menghentikan langkahku dan Alvaro, yang akan pergi ke kantin.
“Ayo ikut aku”ucapnya sembari menarik tanganku.
“Ada apa Daren”tanya Alvaro dengan tatapan tak senang.
“Aku harus berbicara dengan Hifza”balas Daren dengan tatapan tak senang nya juga...
Sedangkan aku yang kembali merasa gemetar karena pegangan tangan Daren, dengan cepat melepaskannya... membuat mereka berdua menatap ku dengan tatapan yang berbeda.
“Hifza...”lirih Daren.
“Alvaro, kamu pergilah lebih dulu... Aku akan berbicara dengan Daren lebih dulu”
“Tapi...”ucap Alvaro ragu untuk meninggalkan ku
“Aku akan menjaganya...”sanggah Daren
“Baiklah, jangan lupakan setelah ini kita masih ada 1 kelas lagi”ucap Alvaro kemudian pergi menuju kantin.
“Ikuti aku... ” ucap Daren, anehnya Daren tidak mencoba untuk menarik tanganku seakan dia mengerti apa yang aku rasakan.
Daren pun membawa ku ke sebuah taman yang sepi tidak begitu jauh dari kampus...
“Kamu ingin membicarakan apa Daren?”
“Hifza...”Daren mengambil nafas panjang kemudian menghembuskan nya, kemudian berkata...
“Tentang kejadian malam itu... ”
“Malam itu?a-apa Daren mengetahui tentang kejadian itu”batin Hifza hendak menangis
“Maafkan aku, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu malam itu dan aku bersalah karena tidak bisa mengendalikan diriku...”
Deg! Nafasku tercekat aku menatap Daren dengan tangis yang mulai membasahi pipiku...
“Maafkan aku Hifza, maafkan aku...”
“A-aku!” Aku benar benar tidak tahu harus apa, dilain sisi aku tahu Daren tidak bersalah karena aku ingat malam itu aku mabuk dan kehilangan kesadaran ku
Yang terlintas dipikiran ku hanyalah lari dari Daren dan dunia hanya itu, naman langkahku ku tertahan oleh pelukan Daren
“Aku akan bersamamu, percaya padaku! aku akan menjagamu, aku akan bertanggung jawab atas segalanya Hifza please jangan mencoba untuk pergi dariku”
“Aku membencimu Daren, paling benci kamu!” ucapku berusaha memberontak dari pelukan nya namun tidak mampu
“Aku tahu aku salah karena tidak menunggumu bangun dan kita bisa berbicara, aku bersalah karena membuat mu menunggu dan merasa gelisah sendirian... aku mohon maafkan aku, beri aku kesempatan”ucapnya terdengar sangat tulus dan sendu
“Beri aku waktu Daren, aku masih tidak bisa mencerna semuanya... ku mohon beri aku waktu untuk berpikir Daren”ucapku lemah di dalam pelukan nya
END.
( Cerpen Bersambung dari Day8 - Day14)