Bagian 1
AKU DAN SEKOLAHKU (awal kisah)
Awalnya aku tidak menyadari bahwa aku itu indigo sungguh walaupun rata-rata mereka menyadari bahwa mereka indigo dari kecil tapi tidak bagiku.
Namaku Fitri, aku mulai mengalami hal-hal aneh setelah ke dua orang tuaku meninggal, ibuku meninggal saat aku kelas 5 SD dan akan naik ke kelas 6 SD, sedangkan Ayahku meninggal saat aku akan lulus SMP.
awalnya tidak ada yang aneh hingga suatu pengalaman yang tidak. akan pernah aku lupakan
karena itu adalah pengalaman awal aku bisa melihat mereka.
Aku masih ingat betapa horornya sekolahku, SMA tempatku bersekolah itu dikenal sebagai tempat teraktif dunia tak kasat mata, bangunan yang sudah berdiri dari tahun 1960-an ini, awalnya adalah hutan karet yang luas pada zaman penjajahan Belanda, tempat para Pribumi yang memberontak mengakhiri satu persatu nyawa para tentara Belanda tersebut dan menguburnya menjadi satu di lubang yang sama.
Kalian taukan setiap tahun diadakan persami (perkemahan sabtu minggu) yang selalu mengharuskan murid ajaran baru untuk menginap semalam di sekolah, mengadakan permainan dan bernyanyi bersama didepan api unggun.
Tentu saja tidak lepas dari satu kebiasaan yakni bercerita didepan api unggun hingga giliran salah seorang bercerita.
"Apa kalian tau sejarah sekolah kita?"
seorang kakak kelas mulai berbicara sedangkan kami semua diam mendengarkan
"Kalian tau kelas ujung yang sudah lama tidak dipakai, dekat ruang UKS sebelum kalian ke toilet, di sana pernah ada kejadian dulu 5 tahun yang lalu disitu ada salah seorang murid perempuan Teman-teman nya mengira dia sedang tertidur karena jam pelajaran ke dua kosong jadi temannya membiarkan dia tidur sampai jam istirahat lalu setelah bel masuk berbunyi teman sebangku dia heran karena dia tidak bangun bangun lalu mulai membangunkan dia ternyata dia sudah meninggal, dan mulai dari situ setiap sore atau malam hari selalu ada yang lihat arwahnya di bangku tempat dia duduk sampai akhirnya kelas itu diputuskan untuk tidak dipakai karena banyak siswa-siswi yang kerasukan "
"Mita... aku kebelet anterin yuk"
aku yang duduk di samping temanku mita, membuka suara mita adalah teman sebangku dan sekelas ku, yang ku kenal pada masa orientasi siswa baru,
mita hanya menggeleng pelan dan memutuskan untuk meminta izin kepada para senior lalu mengantarkan aku ke kamar kecil.
Gelap hawa dingin karena tiba-tiba lampu yang menerangi arah kamar kecil menjadi redup, aku mulai merasakan bulu kuduk ku berdiri dan tiba-tiba air keran yang mengalir mati sendiri.
oke paling airnya habis jadi tidak keluar
aku mulai keluar setelah selesai dan mencuci tangan, aku melihat mita diam dan resah lalu ku lihat sepertinya dia berkeringat dingin dia.
Dia langsung menarik tanganku untuk berjalan cepat belum sempat aku bertanya tiba-tiba pintu ruangan kelas kosong terbuka secara keras
aku kaget dan refleks melihat ke dalam ruangan mita masih memegang tanganku dan kami sama sama menoleh diam tepaku menatap sosok perempuan mengenakan seragam putih Abu-Abu lusuh rambutnya panjang dia diam menunduk duduk di bangku ke dua dari barisan ke tiga sebelah kiri
Aku dan Mita saling pandang jantung kami berdetak cepat diam terpaku yang dikatakan para senior benar aku cepat-cepat sadar dan berlari memegang tangan mita untuk kembali ke ruangan, tatapan heran teman-teman yang ada diruangan tempat kami menginap hanya aku abaikan sambil mengambil nafas yang terengah-engah, GILA DEMI APA.... satu kata APES
Apa kalian kira cuma sampai disitu.... maaf tidak kawan malam masih panjang aku masih belum bisa tidur karena kejadian tadi sayup sayup aku dengar tawa anak kecil di keheningan ruangan tempat kami tidur, aku hanya bisa memaksakan mata untuk tertidur berharap tidur
"Bangun... hey jangan pura-pura tidur dasar INLANDER "
disambut tawa cekikikan beberapa anak anak aku yakin terdiri dari anak kecil laki-laki dan perempuan suara itu aku tau itu suara anak laki-laki sekitar umur 6 tahun.
"kalau kamu tidak mau bermain dengan kami, saya akan menggangu kamu terus! "
Mau tidak mau aku bangun membuka mata bisa dibayangkan disitu anak empat orang anak kecil
anak laki-laki berusia 6 tahun dan anak laki-laki kembar berusia sekitar 5 tahun dan satu orang anak perempuan berusia 7 tahun dengan wajah berlumuran darah mengenakan baju ala anak anak Belanda sedangkan wajah anak perempuan itu matanya seperti di congkel dan hendak keluar dan sikembar leher mereka terbuka seperti akan copot mereka tertawa riang dan mengelilingi tempat aku tidur.
Aku hanya diam menangis menahan ketakutan sungguh ini pertama kalinya aku melihat mereka nyata tertawa riang apa yang harus aku lakukan aku hanya berharap pagi untuk segera datang.