Jam menunjukan Pukul 17.00 wib , walaupun lampu redup tapi aku masih bisa melihat sosok Kakek yang duduk di kursi goyang sambil memandangi lemari tua kesayangannya.
Itulah kegiatan yang selalu kakek lakukan semasa hidupnya hingga kakek meninggal.
Aku masih ingat bagaimana kakek yang selalu memandangi lemari tua itu penuh rasa sedih, rindu bahkan marah.
"Ayo makan Ayi" kata ibu sambil menepuk pundakku
" Bu... Ayi penasaran kok lemari tua itu selalu disitu kan bahaya bu sudah usang tua terus banyak yang rapuh? risih sih sebenernya kenapa gak dibakar saja bu? " kataku sambil duduk di sebelah ibuku untuk memulai makan bersama.
"hust ....jangan sembarangan, nak! jaga apapun perkataan yang kamu katakan sudah makan lalu istirahat ibu , ibu mau menunggu ayahmu pulang ".
Setelah selesai makan Ayi masuk ke kamar dan mengerjakan tugas kuliahnya,
BRAKKKK
Jendela kamar Ayi terbuka lebar, angin berhembus kencang, Ayi mulai merasakan bulu kuduk nya merinding, dia mulai merasakan adanya perbedaan suasana sehingga membuatnya takut
Tok Tok Tok
pintu kamar Ayi diketuk dengan keras pertanda yang mengetuk pintu tidak sabar menunggu pintu untuk dibukakan.
Ayi membuka pintu dan dia terkejut melihat ibunya berdiri dengan tatapan marah , Tiba-tiba dia mencekik Ayi dan membuatnya sulit untuk bernafas
Ayi berusaha untuk memberontak sampai akhirnya dia terlepas dari cekikan ibunya
"Bu .. ibu kenapa istighfar bu "
Ayi hanya mendengar ibunya mengeluarkan suara geraman aneh karena takut Ayi berusaha menghindari ibunya berlari menuruni tangga dan bersembunyi
"KELUAR BUKA PINTUNYA KAMU SEMBARANGAN BILANG MAU BAKAR RUMAH SAYA DASAR KAMU TIDAK TAU SOPAN SANTUN BICARA SEMBARANGAN"
Ayi diam astaga apa ini kejadian apa ini, Ayi naik ke tempat tidur yang ada dikamar tamu, hubungi ayah yah Ayi harus menghubungi ayahnya, handphone ah Ayi lupa handphone nya tertinggal di kamarnya keluar tidak mungkin ibunya masih di luar menggedor pintu dengan kencang, bukan itu bukan ibunya Ayi yakin itu bisa saja makhluk halus yang menyerupai ibunya.
Ayi hanya bisa bersembunyi menutupi diri dengan selimbut berharap ayahnya segera datang atau setidaknya ibunya sadar, Ayi tak menyangka hanya karena perkataannya tadi penunggu lemari tua itu marah, Astaga kalau tahu seperti ini Ayi tidak harus bilang kata kasar seperti itu, apa boleh buat toh sudah terucap bagaimanapun menyesal belakangan kalau awal pendaftaran..
Ayi merasakan badannya menjadi berat tidak bisa bergerak dan tiba tiba selimbut yang menutupi wajahnya perlahan-lahan turun dan Ayi kaget tidak bisa berkedip sosok hitam ada di atas tubuhnya menyeringai dengan mata merah, gigi taringnya terlihat dengan jelas dan tubuhnya ditutupi oleh rambut hitam yang panjang kuku panjangnya ada di sebelah wajah Ayi, Ayi hanya diam melihatnya tanpa berkedip hanya bisa berteriak didalam hati dan berharap adanya bantuan sampai akhirnya semua menjadi gelap dan Ayi pingsan.
"Ayi bangun nak kamu baik baik saja? "
Ayi kaget dia sudah ada dikamarnya dan ada ibu ayahnya serta seorang ustadz
Ibunya menceritakan bahwa Ayi semalam kerasukan dan berguman untuk tidak membakar atau membuang lemari tua yang ada di rumah ini, dan kata pa ustadz bahwa penunggu lemari itu marah karena Ayi berkata untuk membakar lemari itu karena risih.
Ayi syok masa ia dia yang kesurupan, sedangkan semalam justru yang jelas-jelas kesurupan ibunya, dan diapun menceritakan semua kejadian yang dia alami semalam tentunya semuanya kaget karena bagi mereka Ayi yang mengalami kesurupan dan itu jelas.
sedangkan apa yang ada di lemari tua itu selain sosok hitam berbuli tebal masih menjadi misteri, kadang pula jika ada sepupu Ayi yang main ke rumah dia mengatakan bahwa ada perempuan menyerupai kuntilanak yang selalu duduk diatas lemari atau anak kecil berparas belanda yang selalu bermain kejar-kejaran di sekitar lemari itu.
Sampai sekarang pun tidak ada yang berani memindahkan lemari tua itu karena walaupun sudah dipindahkan penghuninya akan terus kembali dan menempati lemari tua tersebut.