Aku mempunyai seorang kakak yang bernama Risa. Waktu aku kecil, kami sering bermain bersama bahkan bertengkar karena memperebutkan mainan. Ibu selalu memarahi kak Risa karena ia jarang mengalah untuk memberikan mainannya kepadaku dan setelah itu kak Risa selalu memarahiku karena menurutnya ibu lebih sayang kepadaku. Ibu dan ayahku pergi untuk selamanya pada saat aku berumur 15 tahun dan kak Risa umur 17 tahun. Mereka mengalami sebuah kecelakaan di jalan tol ketika ingin menjemput kami dirumah nenek. Pada saat itu lah banyak masalah menghampiri kehidupan kami.
Hal itu dimulai ketika kakakku mulai terjebak pergaulan bebas di dalam masa remajanya. Ia sering pulang malam, main bersama banyak laki-laki, minum minuman keras. Aku mulai merasa jengkel terhadap kelakuannya yang semakin membuatku pusing. Hingga suatu saat, aku menjumpai kakakku mengambil uang di dompetku dan dipergunakan untuk main ke diskotik bersama teman-temannya. Padahal uang tersebut adalah uang tabunganku yang sengaja aku kumpulkan untuk biaya sehari-hari tapi ternyata kak Risa memakainya untuk hal yang tidak benar. Aku sangat marah terhadapnya, aku sempat memintanya untuk mati agar tidak menyusahkan hidupku, aku mulai benci dan tidak ingin berbicara kepadanya.
Suatu ketika, aku mengalami pusing yang sangat amat sakit dan tidak dapat aku tahan. Aku mencari gejala-gejala yang ku miliki lewat internet dan aku mendapati kalau gejala yang ku punya menjurus ke kanker. Karena aku penasaran, aku langsung menuju rumah sakit kanker yang ada di daerahku. Aku menjalani test darah dan scan untuk memastikan semuanya. Ternyata benar, aku menghidap penyakit kanker dengan stadium yang cukup parah. Aku kacau, aku tidak bisa berfikir jernih.
Kehidupan dirumah sangat tidak teratur. Kakakku makin berani untuk meminum minuman keras dan merokok di rumah. Ketika aku mengalami mual, ternyata di dalam kamar mandi ada kakakku yang sedang merokok. Aku langsung menggedor-gedor pintu kamar mandi karena aku tidak dapat menahannya lagi. Kakakku kaget dan langsung keluar kamar mandi saat aku memuntahkannya. Dia kebingungan apa yang telah terjadi padaku. Akhirnya, topi yang selama ini aku pakai untuk menutupi kepalaku yang mulai botak karena terapi kanker dibuka olehnya. Dia sangat terkejut dan menangis dengan keras. Dia menyesal atas perbuatannya selama ini yang selalu acuh dan terpengaruh oleh pergaulan.
Pada suatu hari aku keluar rumah dan berniat membeli obat pereda rasa sakit di apotek yang terletak di ujung jalan. Sesampainya di apotek ku lihat cukup banyak orang yang mengantri di apotek itu, akupun memutuskan untuk mengantri sambil menunggu satu per satu setiap orang keluar dari apotek. Seketika aku tidak merasa nyaman beberapa dari mereka melihat ke arahku sambil berbisik satu sama lain. Aku memutuskan untuk tidak menanggapi hal itu. Dan tiba-tiba ada seorang anak kecil yang menarik penutup kepalaku, suasana pun semakin ribut karena mereka melihat kepalaku sudah tidak mempunya sehelai rambut. Aku langsung menahan tangisku, seketika kakaku datang menghampiriku sambil memelukku dan memakaikan penutup kepala. Sekumpulan orang-orang itu ikut terdiam dan tak membuka mulut mereka lagi. Kakaku langsung mengajak aku pulang dan berkata selama masih ada kakak tidak akan ada yang berani menindasmu.
Setelah kejadian itu, Kak Risa merawatku dengan penuh kesabaran. Dia memandikanku persis seperti waktu dulu kami kecil. Ia memberikan aku semangat dan arti kakak yang selama ini aku butuhkan. Sosok seorang kakak yang bisa membimbing aku, mengajari aku banyak hal, melindungi aku dengan sepenuhnya. Aku kaget bukan main ketika melihat ia memotong rambutnya sama seperti ku dan dia bilang kalau dia tidak ingin aku merasakannya sendirian. Aku salah, sempat memintanya untuk pergi dan mati dari hidup ini. Aku merasakan kebahagianku yang lengkap setelah kejadian ini.
6 bulan kemudian berlalu aku sudah merasakan ajal mendekatiku, aku sudah tidak bisa menahan rasa sakit disekujur tubuhku. Aku memanggil kak Risa sambil berbisik pelan kak aku sudah tidak tahan lagi maafkan aku, kakak jaga diri baik-baik yah hiduplah yang baik aku sayang sama kak Risa. Kakaku langsung memelukku sambil menangis hebat, kamu gak bisa bilang begitu kakak sayang kamu jangan tinggalin kakak. Aku begitu bahagia disaat terakhir aku masih bisa melihat dia berubah dan berharap dia akan terus seperti ini walaupun aku sudah tidak ada lagi. Aku pun menghembuskan nafas terakhir sambil memeluk kak Risa. 😭😭
End.
***
Jangan lupa klik tanda ♥️ yah sebagai tanda dukungan dari kalian. Thanks for reading 🤗