Ini adalah kisah aneh tapi nyata tentang kehidupan gue di muka bumi ini. Kisah ini berawal saat gue masih duduk di kelas 6 SD. Nama gue Dani, biasa teman-teman gue manggil gue Dani, Dani, Dani atau bisa juga Dani (wah, sama aja ya ternyata, haha).
Setiap orang pasti tidak suka dengan yang namanya dibully. Menurut gue bully itu adalah sebuah tindakan dimana seseorang berada pada tahap ia seperti dikucilkan, diejek-ejek (bukan direject-reject yah nanti dikira Jenita Janet), dan seseorang tersebut merasakan ketidak nyamanan dan merasa terganggu atas perlakuan atau tindakan yang diberikan oleh seseorang kepadanya. Jadi, kesimpulannya bully itu gak enak, gak nyenengin dan menyebalkan menurut gue. Gue maraaaaaah.. Waaaaaaa.
Gue pernah dibully waktu gue masih duduk di kelas 6 SD oleh teman sekelas gue, bukan Cuma satu, dua, ataupun tiga bahkan empat dan lima, tapi satu kelas, kebayang gak begitu malang nasib anak laki-laki setampan diriku, gue ditindas oleh mereka hampir setiap hari, 3 kali sehari kaya minum obat. Soal yang minum obat tadi gue bercanda, hehe.
Gue dibully oleh teman-teman sekelas gue di sekolah berawal dari permasalahan hobi yang terjadi perbedaan antara kami, perbedaan hobi maksudnya. Teman gue Hendra hobinya memancing ikan, Alfi hobinya memancing, Ifan hobinya juga memancing, Ahmad, Wati, Samson, Upin ipin, Naruto, satu kelas hobinya memancing ikan, kecuali satu, yaitu gue. Kayanya semua murid di sekolah gue semuanya adalah pemancing, heran gue. Jujur gue gak suka dan gak hobi mancing ikan, gue sukanya makan ikan hasil mancing, hehe jadi laper rasanya.
Tapi sungguh lucu, hanya karena gak suka dan gak hobi mancing gue harus menelan pil pahit ini, gue harus dibully oleh mereka. Tapi yang gue heran, harusnya kalau ngebully orang itu yang kerenan dikit lah, misalnya:
Dibully karena gue anak orang miskin.
Dibully karena gue suka sama kakak kelas yang kebetulan gebetan preman sekolah.
Dibully karena gue pakai lipstik ibu guru, uupss soal ini jangan coba-coba, bahaya!
Nah, karena perbedaan hobi inilah yang membuat gue jadi kena bully syndrom, yaitu sebuah penyakit untuk orang-orang yang kena tindas oleh orang lain. Penyakit ini yang membuat gue pusing dan merasa dikucilkan saat itu. Sorry kita gak lagi di rumah sakit, kenapa harus bicara masalah penyakit.
Kembali ke permasalahan awal, teman-teman gue membully gue karena mereka anggap gue gak sejalur dengan mereka, setiap hari gue diejek-ejek oleh mereka misalnya kaya gini:
“Ciye.. Gak bisa mancing.”
“Gak bisa mancing gak usah gabung.”
“Idih gak bisa mancing.”
“Ciye yang belum bayar utang dikantin.” Sorry, masalah utang nanti gue urus.
Ya seperti itulah mereka mengejek-ejek gue setiap harinya. Setiap gue ikut gabung dengan mereka, pasti ujung-ujungnya gue kena bully. Kalau berbicara masalah mancing-memancing selalu jadi senjata mematikan yang gue terima karena itu merupakan bahan ejek-ejekan mereka ke gue, gue heran memang apa salah gue hanya karena gak bisa mancing gue harus dibully kaya gini, kenapa Tuhan, kenapaaaaa..!!!
Sebenarnya gue bisa kalau Cuma sekedar mancing ikan, cuman karena gue gak hobi saja begitu.
Gue gak bisa melawan saat itu, bukan karena gak berani, tapi karena gue belum punya banyak nyali dan juga karena jumlah mereka yang lebih banyak dibandingkan gue yang hanya sendiri (bilang aja Dani, lo gak berani).
Gue hanya bisa diam saat itu, sambil mengeluarkan ekspresi wajah manyun, wajah pucat, mata merah, hidung mimisan, rambut menghitam (udah dari lahir kali ya), tapi gue gak nangis, cuman bola mata gue saja yang sedikit berkaca-kaca.
Lama-kelamaan gue gak tahan, pikir gue. Gue harus punya cara gimana agar semua ini berakhir, atau paling tidak gue bisa menghindar dari aksi bulling ini. Akhirnya, gue menemukan beberapa cara yang sekaligus menjadi tips untuk dapat menghindar dari aksi bulling.
Ini tips dan cara gue mengatasi aksi bulling (dari 10 orang, 8 orang terbukti setelah menggunakan tips gue ini gak berhasil malah mereka semakin dibully, 2 orang lagi berhasil, tapi harus dilarikan ke UGD, paraaah)
Tips pertama adalah Diam. Dengan diam sendiri tanpa ada kata-kata yang keluar dari mulut, (yaiyalah dari mulut masa dari hidung), lo bakal terhindar dari aksi bully, karena orang yang membully lo gak bisa ngajak lo ngobrol karena percuma, mereka merasa diacuhkan atau juga mereka merasa kasihan karena mereka pikir lo bisu. Cara ini akan lebih bekerja apabila dilengkapi oleh perlengkapan pemabantu seperti: lakban, isolasi, lem tikus, racun tikus, baygon, obat nyamuk. Gue gak tanggung jawab kalo lo nekat pakai perlengkapan-perlengkapan itu. Hehe.
Tips kedua adalah lo berpura-pura lupa ingatan atau anemia. Upss, maksudnya amesia. Dengan cara ini lo bisa terhindar dari aksi bully, lo cukup berpura-pura amesia misalnya gini: Saat lo lagi dibully, tiba-tiba lo amesia “AKU SIAPA?, KALIAN SIAPA?, KENAPA AKU DISINI?, AKU DIMANA? DENGAN SIAPA? SEDANG BERBUAT APA” Kaya lirik lagu ya, haha.
Cara ini akan bisa lebih kelihatan real saat lo benturin kepala lo ke batu, semakin banyak kepala lo kebentur semakin bagus, gak percaya, coba aja! Lo akan berhasil, berhasil amesia maksudnya atau paling tidak kepala lo bocor. Peace.
Tips ketiga untuk mengatasi aksi buling adalah dengan pindah sekolah atau pindah tempat untuk mencari lingkungan baru. Lebih ampuh lagi kalau lo pindah ke planet lain, ke mars misalnya, hehe.
Tips keempat, adalah lo pura-pura kesurupan saat lo mau dibully. Cara ini akan membuat mereka yang membully lo ketakutan dan berhenti membully lo. Untuk lebih mantapnya lagi, kamu bisa menggunakan bantuan dukun untuk tips yang satu ini. Eits… jangan lupa juga bawa kemenyan yah!
Tips berikutnya adalah tips yang paling ampuh, yaitu dengan cara operasi plastik agar wajah kamu gak dikenali lagi oleh para pembully. Cara ini pasti akan berhasil, asalkan hasil dari operasinya bikin wajah lo lebih ganteng atau cantik jangan malah bikin semakin hancur, dan operasi plastiknya jangan pakai plastik bekas, ingat itu!.
Selamat mencoba.
Sudah terbukti, semua tips dan cara tersebut terbukti kegagalannya, gue justru masih tetap kena bully di sekolah gue sampai akhirnya gue berdo’a kepada Tuhan.
“Ya Tuhan, kasihani hambamu ini, tolong hentikan semua penderitanku ini, semoga Engkau beri kesadaran kepada teman-teman hamba, aamiin”. Tiba-tiba banyak jama’ah di belakang gue, mereka kira gue lagi ceramah agama.
Kemudian sepertinya do’a gue diijabah oleh Tuhan, teror bully masalah mancing-memancing ikan itu mulai berkurang, hidup gue sedikit demi sedikit perlahan mulai merasakan ketenangan, dan gue semakin merasa tenang rasanya karena tidak lama lagi gue bakal UN dan setelah itu gue lulus dan gak satu sekolah lagi dengan mereka si pembully.
Dan akhirnya UN pun telah tiba, sebagaimana seharusya, gue belajar dengan keras agar dapat lulus dengan memperoleh nilai yang bagus dan dapat melanjutkan sekolah gue ke SMP yang gue inginkan.
Hasil kerja kelas gue pun berbuah manis, akhirnya gue lulus dan gue bisa melanjutkan sekolah gue lagi.
Hidup gue sudah mulai terasa tenang, selain lulus UN gue juga sudah lepas dari aksi bully teman-teman sekelas gue.
Dengan penuh semangat yang berkibar-kibar gue pun mendaftar sekolah ke salah satu SMP di kota gue di Banjarmasin. Disana gue bertemu banyak orang dari sekolah manapun, mulai dari cewek-cewek cantik, cowok-cowok cantik, ganteng maksud gue yang juga ikut daftar sekolah sama halnya dengan gue. Tapi gue melihat beberapa wajah yang sudah familiar di mata gue, gue berpikir sambil mengingat-ingat siapa ya mereka? Tiba-tiba mereka menghampiri gue, dan berkata: “Hay anak yang gak bisa mancing ikan”. OMG, ternyata mereka teman sekelas gue waktu SD yang selama ini suka membully gue saat masih di SD. Oh no, mereka lagi, mungkin ini kah yang namanya jodoh, ah ngaco. Gue harus ketemu bahkan satu sekolah dengan mereka lagi dan lagi. Entah aksi apa lagi yang mereka berikan kepada gue. Nasib ya nasib.
Mungkin cerita ini harus gue kasih judul “Bully Conjuring”, “Valak Bully”, “Bully love story”, “Bully Civil War”, “Memancing Ikan” atau “Dibully” atau digabungkan dua-duanya” “Memancing Ikan dan Dibully 2”. Ngaco semua.
STOP BULLY, BULLY IS CRIME, BULLY Membunuhmu (Kaya peringatan rok*k), daripada lo membully seseorang mending lo melakukan hal-hal yang postif yang bermanfaat buat lo atau orang lain, atau bisa juga lo jalan-jalan liburan ke Bully biar Happy, eh itu Bali sorry bukan Bully.