Mara mengaduk coklat dalam mangkuk dengan hati gembira. Coklat mint yang pastinya enak. Mara suka memasak, kesukaannya pada makanan manis, membuat Mara belajar per-baking-an.
Ia sedang menghias, mousse cake warna hijau mint itu, sangat cantik. Memasukkannya dalam kotak berwarna mint dengan pita mint, gemas.
Mara menunggu Zaga di parkiran sekolah. Melihat kesayangan datang, Mara mendekat dengan riang.
"Pacar! Happy hari kesayangan" Mara ingin menubruknya tapi dengan cekatan Zaga menghindar. Ia sudah terlatih, beberapa bulan belakangan Mara selalu menubruknya tanpa tahu malu.
Mara menyengir.
Cengiran yang manis, batin Zaga.
Zaga melebarkan matanya menyadari kata hatinya. Ia mengelengkan kepalanya.
Apa-apaan batinnya lagi. Ia meninggalkan Mara.
"Ih pacar kok ditinggal," Mara berjalan cepat lalu menarik lengan Zaga dan mengandengnya. Sampai dikelas Mara.
"Makasih sayang udah dianter" dengan pedenya Mara menghadap pada Zaga yang menatapnya datar. Zaga memang harus melewati kelas Mara, jika ingin ke kelasnya. Ada jalan lain sebenarnya, samping kelas, tapi telah menjadi kubangan penuh kodok.
"Ini mousse cake, dimakan ya, spesial rasa Chocomint kayak di Fairy Mima, setiap kali kamu nyendok, kamu bakal selalu mengingat Manisnya pacar kamu ini, Mara Respatih" Mara menunjuk pipi dengan lesung pipi manis, sambil terkikik melihat wajah sebal Zaga.
Fairy Mima adalah toko kue langganan Zaga. Dan Zaga memang suka rasa Chocomint. Beberapa kali Mara melihat Zaga keluar dari toko kue punya tantenya itu. Tante Mima.
"Udah?" Maya mengangguk cepat lalu menggeleng cepat. Zaga memutar bola matanya. Malas.
Mara berjinjit dan mengecup pipi Zaga. Zaga memang tinggi, Mara hanya sebatas bahu Zaga.
"MARA!" Seru Zaga, dari sudut matanya ia melihat Kania. Kemudian berlalu pergi dari Mara yang senang karena wajah Zaga yang memerah. Ia kira Zaga malu, benar, malu juga marah.
Kania pasti salah paham, batin Zaga.
"JANGAN LUPA DIMAKAN YA PACAR!" Mara melambai sambil berteriak. Ia senang.
"Mara masuk!" Mara berbalik, sudah berdiri Pak Taufik dibelakangnya, guru bahasa indonesianya. Hari ini pelajaran pertamanya bahasa indonesia yang membosankan.
Tak apa sudah dicas sama ayang tadi, full batin Mara.
"Siap Bapak" Mara hormat lalu melenggang dengan ringan.
*****
Mara siap-siap merapikan bukunya padahal baru pertengahan jam ketiganya hari ini.
Teman sebangkunya menatap heran, "mau kemana lo?" Poppi.
"Mau ke tempat Zaga, tadi gue chatan sama Tigor katanya lagi jam kosong mereka. Pasti ayang beb ada diperpus, gue mau nyatronin" Tigor csnya Mara, mata-matanya, apapun kegiatan Zaga, Tigor selalu memberikan info suka rela. Tigor senang bisa dekat dengan primadona sekolahnya.
"Pak, ijin ketoilet" Mara sudah melenggang kearah pintu saat mendapatkan anggukan dari Pak Burhan, guru matematikanya.
Mara melangkah cepat di koridor. Ia harus memutar jika ingin ketempat Zaga karena toilet berada berlawanan arah dengan perpustakaan.
Mara melewati ruang lab, hanya anak sains yang memakainya.
"Enak Zag kamu beli dimana? Hmmm... enak... aku suka choco mint" Mara mengintip. Mendengar Chocomint. Ia melihat Zaga yang membelakanginnya. Kania duduk, Zaga berdiri didepan meja Kania. Mara tak melihat Kania yang tertutup oleh Zaga.
"Suka sih suka, makannya jangan belepotan" Zaga membersihkan sudut bibir Kania. Mara melihat itu. Sakit. Tapi dia tahu, memang Zaga suka dengan Kania.
"Dari Fairy Mami ini, tapi aku belum pernah liat yang varian ini, varian baru ya? tapi rasanya sama dengan yang biasa kamu kasik ke aku, makasih ya"
Mara menunduk. Jadi saat Zaga menenteng paperbag dari Fairy Mima dengan senyuman manis bukan karena ia membayangkan makan Mousse Cakenya tetapi membayangkan reaksi si penerima.
Srrrth...
Mara mengintip. Zaga duduk didepan kania yang menikmati mousse cake buatannya. Miris.
Mara bisa melihat padangan Zaga yang lembut juga penuh sayang itu dari pantulan lemari penyimpanan di belakang Kania. Zaga tersenyum, Senyum, saat Zaga keluar dari Fairy Mima. Senyum yang juga membuat Mara cinta. Senyum yang tak pernah ia berikan pada Mara.
Mara masih terus memandangannya. Merasa dipandang. Mata Zaga menagkap bayangan Mara pada lemari. Mara mencoba tersenyum. Tapi mengapa bibirnya susah sekali ditarik.
Padahal selama ini, jika menyangkut Zaga, sudut bibirnya akan tertarik dengan sendirinya. Perih, sesak, bukan senyuman, hanya lipatan bibir yang Mara gigit. Kecewa.
Mara melihat perubahan wajah Zaga. Terkejut. Mara melihat Kania yang masih menikmati mousse cake buatannya. Seenak itu kah? Atau seenak itu karena dibawa oleh lelaki yang disukainya?
Mara ingat sebelum menembak Zaga ia sudah berjanji pada dirinya, jika Zaga menolaknya maka selesai. Tetapi sampai saat ini Zaga belum mengatakan apapun. Jadi Mara mengira Zaga memberinya kesempatan untuk dekat. Zaga pun tak menyangkal saat banyak orang yang salah paham dengan hubungannya.
"Emm... Zag, benar kamu... pacaran dengan Mara?" Kania memandangnya. Zaga memutuskan pandangannya pada Mara, lalu beralih ke Kania.
Mara ingin melangkah tapi diurungkan. Zaga memandang pada lemari di belakang Kania dan masih bisa melihat ujung rok Mara. Mara masih disitu.
"Nggak" Tolak Zaga, Mara yang mendengarnya mengigit bagian dalam pipinya. Menyesakkan.
"Tapi setiap pagi aku liat kalian berduaan mulu, udaahhh...gak usah disembunyiin... Ayolah ngakuu... ngakuu..."
Goda Kania yang menoel lengan Zaga. Melihat gadis rambut panjang ini menggoda tentang perasaannya membuatnya marah.
Zaga mengeratkan bibirnya, rahangnya mengetat dengan mata yang masih menatap lemari yang memantulkan tempat dimana Mara bersembunyi di balik pintu. Tangannya menyambar tangan Kania yang menoel tangannya
"Aku bilang nggak ya nggak! aku nggak ada hubungan dengan cewek itu, karena cewek itu bukan kamu! Yang aku suka itu kamu!"
Pekik Zaga yang membuat nafasnya tersekat, ia menatap Kania nanar.
"Aku suka kamu, Kania"
Derapan langkah dari luar yang ia pikir milik Mara menyadarkannya, Zaga menengok pada tempat dimana Mara bersembunyi. Melepaskan tangan Kania yang juga terkejut dengan pengakuan Zaga.
Zaga melangkah cepat pada pintu. Rasa tak enak mengelayutinya. Hatinya berdetum dengan kencang. Yang dibenaknya saat ini, ia ingin berlari menyusul Mara ke kelasnya, ingin melihat wajah gadis itu. Entah mengapa ia merasa kwatir.
"Zag tunggu! Bener perasaanmu itu?" Kania mendekat. Menatap wajah kacau Zaga.
"Benar kamu suka aku?" Kania lagi, bertanya. Ingin menyakinkan. Zaga tak menjawabnya. Matanya nampak bingung.
"Entah" jawabnya.
Setelah lama berdiam. Zaga mengusap kasar rambutnya. ia sendiri bingung, rasa lega setelah ia menyatakan perasaannya pada Kania, tapi tak ada debaran menyenangkan dalam dadanya seperti saat, Mara mengakui, bahwa dia milik Mara. "Ini Zaganya aku" ingatan saat di perpus kala itu,
Sedangkan ia juga tak ingin Mara pergi darinya, memikirkan bahwa Mara akan pergi darinya saja membuatnya kalut. seperti saat ini. Kania tersenyum.
"Sana kekelasnya, mukamu kayak orang depresi patah hati" Zaga menatap Kania.
"Maaf" Kania hanya mengangguk.
"Yaudah sana" melihat Zaga yang tak beranjak dari tempatnya.
"Aku nggak yakin dia bakal maafin aku" Zaga tertunduk lesu.
"Tenang pasti dimaafin" Kania menepuk bahu Zaga. memberi Zaga semangat.
"Cake yang kamu makan itu buatan Mara, dia tahunya aku yang suka chocomint" lirih Zaga.
Hening.
"Siaal! Dan kamu kasih ke aku?! Berengs3k?!" Teriak makian dari Kania yang tak tahu lagi, sebodoh apa Zaga ini.
Sesaat Zaga tercenung. Kania memakinya, Gadis yang ia sanjung, kalem, anggun, lembut dan polos itu memakinya. Bahkan Mara yang ia anggap bar-bar tak pernah memakinya.
Dan sejak itu Mara tak lagi mendekatinnya, Ujian Nasional. Membuat mereka tak pernah lagi bertemu. Mereka sibuk menyiapkan diri.
Zaga ingin menemui Mara tapi Mara selalu berhasil menghindari. Dengan banyak cara. Dan teman-teman Mara yang juga mempersulit Zaga.
Berpapasan pun sangat jarang. Hingga Zaga mendengar Mara yang digosipkan dengan adik kelasnya. Anak pindahan, Bastian. Bule gila, Zaga menyebutnya. Selalu menempeli Mara kemanapun.
Zaga patah hati. Nilainya turun saat mengikuti try out, itu membuatnya lebih giat belajar hingga nilai UNnya keluar dan ia menjadi yang teratas lagi, Ia melihat nama Mara ada diurutan ke empat.
Dan yang Zaga dengar, Mara tak jadi melanjutkan ke universitas pilihan mereka. Mara mengambil beasiswa ke luar negeri yang ditolak Zaga karena saat itu ia ingin satu kampus dengan Kania. Namun kini ia menyesal.
Saat prom night Zaga dan Kania berpapasan dengan Mara dan Bastian. Mereka saling diam. Zaga memandang Mara yang sangat cantik itu pun terpaku. Mara memang cantik dengan gaun berwarna hijau pastelnya.
"RA" panggilan teman-teman Mara. Yang ada dibelakang Zaga. Mara melewati Zaga tanpa menoleh.
Ya itu terakhir kalinya Zaga bertemu dengan Mara.
*****
Ada cerpen Zaga dan Mara yang lain tinggal mampir ke akun ini, judulnya "Zaga ayo pacaran?"