Saat itu hari libur, aku duduk di kursi taman belakang yang sepi, sembari membaca novel ku yang baru ku beli minggu lalu. Ah! Rasanya sangat seru, saat aku tau sebentar lagi ceritanya akan tamat dan aku akan membeli novel baru.
Angin berhembus semilir membuat mata ku mengantuk, pandangan ku semakin buram, toh kalau aku ketiduran di sini nanti bang Alan akan mengangkat ku, jadi tidak perlu takut.
Mataku semakin sayu, kini tubuh ku bersandar pada kursi dan aku terlelap.
Waktu terus berjalan dan tau-tau saat bangun aku malah ada di mansion besar yang entah milik siapa. 'Mansion nya bagus juga'batin ku kagum. Mansion besar itu hampir seluas lapangan sepak bola, dan banyak perabotan yang indah.
"Lain! Aduh, anak yang menyusahkan, Lain! " satu suara mengagetkan ku.
"Lain? Lain apa" Gumam ku bingung.
"Aduh, Lain kamu di sini toh, dari tadi di cariin.... " seorang wanita paruh baya yang ada di depanku terus mengomel, sementara aku bingung, dia bicara padaku?
"Bi! Lain sudah ketemu? " satu suara dari belakang wanita tadi membuat ku semakin bingung, What? Lain sudah ketemu, apanya yang ketemu?
"Iya, Rain, ini Lain dari tadi berdiri di sini" bibi yang mengomeliku tadi bernama Ina, sementara gadis yang baru datang itu bernama Rain.
"Lain, Lain, kau menyusahkan, kenapa pula aku harus punya kembaran sepertimu" Rain juga ikut mengomel, apa sih yang terjadi? Kenapa pula gadis satu ini mengomel.
Itulah yang menjadi isi pikiranku selama 1 harian penuh, dan keesokan harinya setelah mengingat-ingat aku baru sadar.
Aku, nama asli ku adalah Alana, dan aku?
"Waaaaa,Bunda,aku masuk ke novel kesukaan ku sendiri, aaaaa"
Tapi di sini orang mengenal ku dengan Lain, nama macam apa itu, tapi setelah mengingat alur novelnya aku akhirnya sadar juga kenapa namanya Lain
Namanya Charlotte Lain Miguel dan saudari kembarnya Charlitta Rain Miguel.
Umur mereka 17 tahun, dan kehidupan mereka bagai kutub utara dan selatan. Sangat berbeda jauh, jika Rain cantik, pintar, dan populer. Maka Lain kebalikannya.
Ia di kucilkan sejak kecil, karena tanda lahir yang ada di kepalanya. "Huh? Jelek katanya? Aku lihat-lihat malah wajah ini lebih baik dari wajah Rain setelah mendung itu" gumam ku di depan cermin.
"Oh, iya di novel kan alurnya nanti si Lain, bakalan..... bakalan apa ya? Waaaa, kenapa aku harus tidur sebelum membaca ceritanya secara utuh" kembali aku merengek, hilang sudah semangat ku.
"Tapi... aku baru di bagian chapter ke-35 bab 3 kalau tidak salah, setelah Ayah Lain memarahinya, karena terbukti menyabotase obat ibunya"
Aku pasti akan memasukkan mu ke penjara Rain, jika aku bisa melewati semua hal buruk, dan mengambil hal baik, maka jalur novel ini akan berubah, untungnya aku membaca dengan baik setiap plot yang ada, hahaha, aku mana mau jadi babunya si Rain"ujar ku membanggakan diri.
"Oh ya kalau tidak salah Lain dan Rain punya abang, namanya Charlos Alingga Miguel, kemana orang satu itu kalau seingatku, ia membantu Lain bukan? " kembali aku berfikir, alurnya mulai berantakan.
"Setelah ini kronologi nya adalah Lain yang di permalukan, karena mengikuti gaya make up Rain, Lain, apasih yang kurang dari wajahmu ini" kembali aku mengeluh. "Baiklah! Ayo, aku akan melakukan yang terbaik, aku juga ingat di mana bukti besar satu itu di simpan" seringai ku.
Biasanya Lain akan naik bis ke sekolah, dan Rain di antar supir pribadi. Kali ini aku menerima tawaran Bang Alingga, yang sedari dulu, ingin mengantar Lain kesekolah, karena Rain tidak mengijinkan Lain, pergi bersamanya dengan supir pribadi. Aku mengecek kembali bawaan ku, dan ya sekali lagi bercermin, dan kagum akan wajah Lain yang cantik.
Inilah yang membuat wajah ku berseri-seri sepanjang hari, saat aku sampai ke sekolah semua orang memuji wajahku, lebih tepatnya wajah Lain.
Dan yang menjadi target ku selanjutnya adalah....bukti tetap kalau sebenarnya yang menyabotase obat ibunya Lain adalah Rain, yang bahkan menjadi dalang sakitnya ibu mereka. "Aku ingat, saat itu Rain memang menghapus rekaman rumah sakit, tapi dia tidak tau kalau semua rekaman itu sudah di copy ganda, dan di arsipkan, sebenarnya dia pintar apa bagaimana sih" kini aku tengah dalam perjalanan menuju rumah sakit, dan menggambil bukti rekaman itu.
"Juga rekaman koridor, apartemen nya Bibi Rut, rekaman itukan punya daftar sampah, tapi baguslah itu lebih baik" aku bersandar pada kursi taksi yang aku tumpangi sembari memperhatikan jalanan yang ramai. Setelah aku mengambil semua bukti penting itu aku segera kembali ke rumah, ini berbeda sekali dengan yang di novel, jika di novel Lain lah yang terancam penjara, dan Rain yang memutar balikkan fakta dengan pernyataan palsu bahwa Lain lah yang mencoba menghapus rekaman, keuntungan dari memiliki wajah kembar dengan Lain.
Setelah aku sampai rumah, aku sudah menebak apa yang terjadi, pertengkaran besar, yang di mulai oleh dalang dari semua ini.
"Ayah tau, bahkan setelah terbukti menyabotase obat ibu, dia masih saja mencoba menghindar dengan menghapus rekaman" Rain menunjuk ku yang bahkan baru sampai.
"Wah.. Wah.. Wah kau yakin Rain, memangnya bukti sekuat apa yang kau punya? " aku berujar dengan wajah sok polos yang membuat Rain menggeram kesal.
"Jika aku bilang kau yang menyabotase obat ibu bagaimana? " aku berujar di dekat telinga Rain dan meletakan dagu ku di bahunya.
"Tidak mungkin, kau juga punya bukti apa? " Rain menghindar dariku, sejauh mungkin ia berdiri dari ku.
"Apa kita punya alat yang bisa memutar rekaman ini? " aku meneliti sekitar, mungkin laptop Bang Lingga ada di sekitar sini.
"Membuang waktu ku" aku segera mengambil laptop Rain yang ada di atas meja dan memutar rekaman itu.
PLAKKK!!, Ayah menampar pipi Rain kuat, dengan geram ia memarahi Rain yang sudah diam tak punya pembelaan.
"Apa yang membuat mu begini? Apa yang kurang dalam semua hal yang ku berikan pada kalian? " Ayah berseru kesal, baru kali ini ia menggunakan nada tingginya, karena dalam novel Ayah mereka adalah orang yang tenang.
Bang Lingga juga hanya bisa menggeleng pelan, tau kalau yang Rain terima adalah hal yang tepat. "Semuanya juga salah kalian! Kalian pilih kasih, kalian selalu sibuk, kalian selalu menuntut kami" Rain berseru kesal, dengan air mata yang menetes ia masih sanggup membela dirinya sendiri, tidak! Membela apa yang menurutnya benar.
"Semuanya di mulai sejak kami masih kecil... " Rain berujar pelan, sepertinya ini adalah bagian akhir cerita yang belum sempat ku baca, mungkin kah aku akan kembali.
"Saat itu umur kami masih 3 tahun, saat aku melihat semua orang lebih menyukai Lain, semua orang memujinya, dan meninggalkan aku sendirian, seperti Lain adalah berlian sementara aku hanyalah debu yang menganggangu, semuanya terasa asing, terasa gelap, dan tidak adil, aku merasakan nya sejak kecil, jadi tidak bisa kah kali ini saat kami dewasa, Lain lah yang merasakannya"Rain terisak dan dengan kasar menolak Ayah yang ingin memeluknya.
" kenapa dunia itu aneh, mereka hanya mengucapkan keadilan tanpa melakukannya "Rain kembali berujar.
" karena begitulah dunia, bahkan di dunia novel dan fantasi saja, keadilan adalah hal yang mustahil"Saat itu bukan aku yang berbicara tapi sosok berbeda yang mulai mengambil alih tubuhku, apa itu Lain?
Aku merasakan kalau aku kembali pada tubuh asliku tapi masih di dalam cerita novel, hanya saja aku tak terlihat.
"Jika hero, selalu jadi yang terbaik, bukankah itu tidak adil bagi villain" Lain mulai mengelus kepala Rain lembut.
"Ayah akan memaafkan mu jika Lain memaafkan diri mu" ayah mereka berujar pelan
"M-maaf kan Rain, a-apa Lain memaafkan ku? " Rain bergumam pelan.
"Tentu" itu adalah akhir yang bahagia saat aku melihat keseluruh keluarga itu berpelukan dengan bahagia.
"Terima kasih Alana! Kau membantu ku" Lain berseru padaku saat aku sendiri baru menyadari tubuhku perlahan menghilang tersapu angin, saat nya pulang.
"ALANA!! BANGUN YA AMPUN" suara tegas itu berseru padaku yang masih mengantuk.
"Kalau tidur di dalam dong, capek tau ngangkat kamu mulu" orang itu kembali menggerutu, bisa kutebak itu Bang Alan,hahhh ceramah panjang akan tiba.
See You 😊