Kania namanya, gadis yang bertubuh subur itu sedari tadi sibuk di dapur, membuat sarapan untuk neneknya yang sudah berusia 70 tahun. Di umurnya yang sudah menginjak kepala tiga, ia masih betah sendiri, sementara teman-temannya sudah banyak yang berkeluarga.
Kania selalu mengutamakan neneknya, ia ada dan bisa tumbuh sebesar ini berkat jasa neneknya. Pekerjaan Kania hanyalah seorang buruh pabrik biasa. Semenjak lelaki yang ia sukai mengkhianati cintanya, ia menutup rapat-rapat hatinya dari yang namanya cinta. Kania sadar diri, dengan tubuh yang subur dan wajah pas-pasan merupakan suatu keajaiban bila ada laki-laki yang akan mencintainya dengan tulus.
Hari ini jadwal kerjanya adalah shift dua, masuk jam 3.00 siang dan pulang jam 11.00 malam. Berjalan kaki dibawah gelapnya malam Kania mendengar sebuah suara dari balik-balik semak-semak di pinggir jalan yang ia lalui. Suara tangisan bayi yang terdengar lemah.
Jangan ditanya, seketika tubuh Kania merinding, tapi keinginan tahunya lebih besar dari rasa takutnya. Dengan mengandalkan cahaya layar hpnya, ia mendekati sumber suara itu. Benar saja seorang bayi tergeletak diselimuti dengan kain seadanya dan terbungkus didalam kantong plastik ukuran besar.
Kania melihat ke kiri dan ke kanan takut ada yang melihat tingkahnya itu, bagaimanapun juga bisa runyam jadinya bila ketahuan dan dilaporkan kepada pihak yang berwajib. Secara perlahan ia mengangkat bayi itu dan membuang plastik digantikan dengan baju jaket yang ia pakai. Dipeluknya erat seakan ia membagikan kehangatan tubuhnya dengan sang bayi.
Kania pergi menuju ke supermarket 24 jam, di sana ia membelikan susu formula khusus untuk bayi yang baru lahir berserta botol susu, minyak telon dan juga bedak bayi. Lalu dengan sedikit tersengal-sengal ia berjalan pulang.
Sesampainya di rumah ia memasak air panas untuk air mandi sang bayi, tak lupa juga membuatkannya susu. Dibukanya jaket dan kain selimut yang membungkus bayi tersebut. Di lapnya tubuh sang bayi dengan air hangat, setelah itu di bungkus dan diselimutinya dengan kain sarung. Lalu secara perlahan ia memberikan susu yang sudah ia buat tadi.
Tubuh mungil yang semula mulai dingin tadi dengan kekuasaan Allah secara perlahan mulai menghangat, Kania menangis. Tangis bahagia, tangan mungil itu mulai bergerak, tapi begitu matanya membuka alangkah terkejutnya ia, bayi itu buta, retinanya berwarna putih. Sambil memeluk bayi itu Kania kembali menangis dan mengutuk orang yang sudah membuang bayi ini.
Dimana hati nurani mereka, berani berbuat tapi tidak mau bertanggung jawab. Tidak ada satupun manusia di muka bumi ini yang ingin dilahirkan dengan kondisi yang tidak sempurna.
Mendengar tangisan Kania, neneknya Kania terbangun, melihat seorang bayi didalam pelukan Kania, dengan wajah terkejut ia menanyakan bayi siapakah itu. Kania lalu menceritakan semuanya. Tangan tuanya itu lalu mengelus pipi sang bayi sambil berkata," selamat datang di keluarga ini ya Cucu baruku", nenek pun tersenyum.
Keesokan harinya, Kania membawa sang bayi ke puskemas, sebelumnya ia melaporkan penemuan sang bayi kepada Ketua RT setempat, setelah diselidiki, pihak berwajib tidak dapat menemukan siapa orang tua bayi itu. Kania lalu meminta izin untuk merawatnya, baik pihak berwajib dan Ketua RT akhirnya mengizinkannya.
Bayi perempuan itu di beri nama Arma yang artinya kuat. Semenjak saat itu Kania dan neneknya merawat Arma dengan penuh kasih sayang, tidak ada seorangpun yang boleh menghina dan menindas Arma, Kania tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Kania semakin giat bekerja, saat dia bekerja Arma ditinggal bersama nenek Kania. Nenek Kania walaupun usianya sudah 70 tahun tetapi mata dan pendengarannya masihlah bagus. Semangat hidupnya luar biasa. Arma sungguh beruntung bertemu dengan Kania dan Neneknya.
TAMAT