“Ada banyak cara Tuhan menghadirkan cinta, mungkin engkau adalah salah satunya." – Fathin Sidqia Lubis
***
"Ini udah malam. Aku antar."
"Nggak usah."
"Aku antar!"
"Udah kubilang jangan lagi menghawatirkanku!"
"Aku rasa, aku nggak perlu izin untuk tetap menghawatirkanmu."
"Ryo ..." Protesku terhenti ketika Ryo menarik tanganku memasuki mobilnya. Kali ini aku menurut, tak layak rasanya jika harus menarik perhatian security kantor dengan perdebatan konyol seperti tadi.
Hening. Sepanjang perjalanan Ryo tak bicara, begitu pula aku. Aku benar-benar tak berniat untuk memulai karena aku tahu akan seperti apa akhirnya.
"Dalam kisah cinta segitiga, selalu orang baik sepertiku yang akhirnya kalah, kan, Anaya?" Ryo akhirnya bersuara dan aku sempat terhenyak, namun akhirnya kuulas senyum tipis menanggapi penuturannya.
"Kalau udah tahu akan berakhir seperti apa, kenapa tetap nggak berhenti?" Aku mendengkus. Membuang pandang ke luar jendela mobil.
"Bukannya ini menarik? Kelak, kamu bisa menceritakan pada anak-anakmu kalau ada seorang pria tampan yang memutuskan untuk memulai cinta sepihak dengamu." Ryo tertawa hambar dan hatiku mencelos.
***
Ryo sudah mengantarku pulang sejak tadi, tapi aku belum juga bisa terlelap meski tubuhku terasa remuk seharian mengahadap komputer. Dia masih belum pulang, padahal aku sudah pulang selarut ini. Ya, dia.
Aku menggeser tubuhku menuruni ranjang dan berjalan menuju pintu depan dengan tulang tak karuan. Mencoba mengintip lewat jendela, berharap ia muncul di sela pekatnya malam. Aku menghela napas berat. Ini bukan kali pertama, tapi sakitnya masih tetap sama.
Menunggu dan menunggu tanpa setitik kabar apa pun darinya setiap malam. Ini menyesakkan. Aku lelah; dalam artian sebenarnya dan kiasan, jadi ku putuskan untuk mengabaikan fakta jika ia belum pulang dan kembali memasuki kamar. Mencoba berbaring, berharap rasa kantuk mampu menguasiku agar segera tidur, namun gagal.
Rasa lelah itu justru menghujam berkali-kali lipat lagi. Aku kembali bangun dan beranjak meninggalkan ranjang yang masih terasa empuk dipemakaiannya yang hampir setahun. Jam yang bertengger kokoh di dinding sudah menunjukan pukul 2 malam dan Ardian─suamiku, belum juga pulang.
Aku tercekat, hampir menangis. Aku muak dengan diriku sendiri. Berada dalam situasi seperti ini berulang-ulang benar-benar membuatku sesak. Situasi dimana aku membiarkan diriku sendiri menjadi sama sekali tak berharga. Terabaikan. Tersia-siakan.
Deru mobil terdengar samar. Aku menegakkan tubuh dari dudukku di sofa biru safir menunggu Ardian masuk. Dia pulang dengan langkah gontai seperti biasa. Kemeja hitam yang ia kenakan tampak lusuh dengan rambut acak-acakan. Hidupnya terlihat berantakan, padahal ada seorang istri yang rela mengurangi jatah tidurnya setiap malam.
Dia menoleh dan pandangan kami terpaku sesaat, sebelum akhirnya dia menatap lagi lurus ke depan dan melanjutkan langkah menuju kamar kami.
"Sudah makan?" Selalu begini, selalu aku yang memulai pembicaraan. Tidak ada jawaban berarti. Dia hanya bergumam dan kembali melanjutkan langkah.
***
Sarapan dalam hening, bekerja sejak pagi hingga sore, itulah aktivitas yang kujalani setiap hari. Hal itu berulang terus seperti jarum jam yang berputar ke angka itu-itu saja.
Hari ini berbeda karena ada seorang gadis cantik yang menemuiku di kantor siang ini─di waktu makan siang. Dia cantik, tapi di mataku tidak lebih baik dari iblis. Dia duduk dengan gaya sok anggun, sembari menatap sinis ke arah ku. Lucu sekali. Siapa yang menggangu jam makan siang siapa?
"Sudah hampir setahun kamu bertahan." Dia memulai. Senyum munafik masih terpatri sedari tadi. Aku bergeming, menunggu basa basinya usai.
"Sekarang sudah saatnya, aku mengambilnya kembali," ia melanjutkan omong kosongnya. Kali ini aku yang menyeringai. Menarik sebelah sudut bibir dengan angkuh.
"Kamu kira dia apa?"
"Kekasihku," jawabnya pongah dan aku mati kutu.
***
"Wanita brengsek itu menemuimu?" Ryo setengah berteriak, setelah sebelumnya berhasil menyeretku ke koridor sepi.
"Ucapanmu kasar sekali." Aku mendecak malas.
"Kata apa lagi yang pantas ditujukan pada wanita yang menjalin hubungan dengan suami orang?" Ryo masih tampak berapi-api.
Aku mendengkus. "Terus kamu apa? Bukannya kamu bilang, menyukaiku? Aku wanita bersuami."
Ryo nyengir. Dasar bocah. "Anaya."
Aku mengangkat sebelah alis mendengar nada serius Ryo ketika menyebut namaku.
"Menyerahlah. Sudah saatnya kamu menyerah," lanjutnya dengan tatapan dalam yang menghujam langsung iris mataku.
Aku tergelak hambar mendengarnya. Tahu akan berakhir seperti apa, aku bergegas melangkah meninggalkannya.
"Perjodohan konyol itu, sudah saatnya dihentikan!" Ryo berteriak frustasi, membuat langkahku kembali terhenti, lalu memutar tubuh dengan kasar. Menatapnya tajam. "Apa aku salah?" Ryo menantang. Aku tahu dia tidak butuh jawaban atas pertanyaannya.
"Kamu kira aku nggak tau, semalam kamu menangis. Bahkan seisi kantor pun tahu itu!" Napasnya memburu, namun tatapannya terlihat sedih. "Lihat matamu! Lihat wajahmu! Kamu seperti mayat hidup sekarang." Tatapannya meredup. Aku benci tatapan itu.
"Ini bukan lagi perjodohan," aku membalas tertahan, "Perjodohan konyol yang tadi kamu ucapkan, telah berubah menjadi pernikahan."
"Pernikahan?" Ryo mendecih. "Aku berani bertaruh, si Ardian bahkan nggak pernah menyentuhmu," lanjutnya tajam. Aku terhenyak. Ryo sudah melewati batas.
"Kau melewati batas," desisku. Air mataku menetes begitu saja meski aku tak ingin. Ryo mendekat. Sedetik kemudian, aku mendapati tubuhku berada dalam dekapannya.
"Anaya, orang tua kalian pasti mengerti. Itu bukan pernikahan. Kamu nggak bahagia. Nggak sama sekali." Aku membeku. Ryo melonggarkan dekapannya demi melihat reaksiku. "Kalau begini, aku mungkin aja merebutmu."
Ku lihat tatapan itu meneduh. Telapak tangannya terasa hangat menangkup di kedua pipiku. "Aku nggak akan membiarkan si brengsek Ardian menyia-nyiakanmu terus. Kamu terlalu berharga untuk itu."
Kulihat dia menarik napas beratnya dan kembali berujar, "Aku nggak tahan kalau terus melihatmu terluka, Anaya."
***
Sepulang kerja, aku memutuskan untuk menghirup udara segar demi menetralisir kekalutanku. Pantai dikala malam selalu menjadi tempat terbaik membuang gundah. Angin dingin yang langsung menerpa wajah dan kulit lenganku yang tidak berbungkus kain menjadi hal terbaik lainnya. Sensasi pasir yang menggeliat dibawah kaki menjadi poin istimewa. Tidak bisakah hidup begini saja?
Kilas balik wajah si wanita iblis ketika mengatakan "Kekasihku" berputar terus seperti kaset kusut. Bayangan Ryo lengkap dengan tatapan dan ucapannya juga tidak mau kalah. Dari kejauhan, aku tahu Ryo sedang mengawasi. Biarlah.
***
Aku melangkahkan kaki di atas rerumputan hijau di perkarangan rumah─rumahku dan Ardian, setelah sebelumnya Ryo mengantarku pulang, lagi. Tiba-tiba, ada perasaan ragu yang menyergap. Ada perasaan yang membuatku tak ingin melangkah lebih jauh.
Aku memandang lekat pintu cokelat gelap yang kini tertutup rapat. Pintu yang akan mengantarkan ku pada kesuraman.
"Nggak masuk?" Aku terperanjat, lalu segera memutar tubuh dan menghadap arah suara─Ardian.
Bergeming.
"Masuklah, angin malam nggak pernah bagus." Dia berjalan melewatiku. Aku sempat mencium aroma sampo yang menguar di rambut hitamnya. Sepertinya dia sudah pulang sejak tadi, lalu aku ikut masuk mengekor pergerakannya.
"Makan, setelah itu tidurlah." Aku terkesiap mendapati beberapa makanan yang tersaji di atas meja makan. Ia segera beranjak menuju kamar.
"Hampir setahun." Entah dorongan dari mana yang jelas itu adalah ucapanku. Ardian menoleh. "Wanita brengsek itu …. " Susah payah aku melanjutkan ucapan, "Kamu nggak sabar ingin bersatu dengannya, kan?"
Sepertinya virus kasar Ryo menyebar padaku. Ardian mendelik tajam. "Jangan memanggilnya seperti itu."
"Lalu apa? Wanita murahan?" Aku mulai gila sepertinya.
"Anaya!" Ardian berteriak tak tahan.
"Benar, namaku Anaya! Ini kali pertama kamu menyebutnya kan?" Aku tertawa hambar. "Haruskah kita merayakannya?" Ah, sial. Apa stok air mataku terlalu banyak, hingga meluber terus? Aku menangis lagi.
Ardian tak membalas, Ia masih menatap lekat padaku. Ada amarah yang tersirat dimatanya. "Kamu wanita baik-baik. Ucapan seperti itu nggak pantas kamu ucapkan," nada suaranya melemah dengan tatapan yang sama lemahnya.
Aku mendengkus keras. "Haruskah aku menjadi wanita murahan dulu supaya bisa kamu akui?"
Ardian bergerak mendekat dan aku terkesiap. "Kamu istriku. Kamu nggak perlu melakukan apa pun untuk mendapatkanku."
Dia mengucapkan kalimat itu penuh penekanan. Membuat bulu kudukku meremang. Dia Ardian, kan?
"Tunggu aku sebentar lagi, Anaya." Ini kali kedua dia menyebut namaku. "Aku sudah mengakhirinya dan memutuskan untuk memulai denganmu. Walau nggak tahu sejauh apa, yang jelas ...." Berhenti sejenak, "Aku sudah mulai mencintaimu, Anaya." Dan ini kali ketiga.
Tidak! Itu tidak lagi penting sekarang. Yang harus kamu tahu sekarang adalah ... Ardian, suamiku, dia memelukku. Aku tercekat. Aku membatu. Andai tak kudengar suara degup jantung yang memompa kian tak karuan, mungkin aku pikir aku adalah manekin dadakan.
"Jadi, ku mohon, tunggu aku," dia kembali bersuara membuat aliran darahku berkumpul di wajah. Tak cukup disitu, dia menelusupkan wajahnya di leherku. Mendekapku kian erat, seolah menemukan hal yang sudah lama dicarinya.
Aku memang tidak akan bisa lepas darinya. Mana bisa, jika ternyata aku lebih dulu mencintainya jauh sebelum aku menyetujui perjodohan itu. Aku memejamkan mataku sejenak. Menghirup napas dalam demi menyisakan ruang lebih lebar di dada.
“Maaf Ardian, tapi … aku nggak bisa lagi.”