“Harusnya kamu sadar! Dia siapa, dan kamu siapa!”
Ya, memang seharusnya aku sadar diri. Mencintai sosok pria seperti Gardan, memang bukan hal yang patut diapresiasikan. Aku dan dia? Ah, bahkan mungkin kami layaknya langit dan bumi. Yang tak akan pernah bisa bersatu.
Semua ini salahku, tidak seharusnya menaruh hati pada pria kebanggaan seluruh siswi. Namun, aku juga tidak bisa memilih. Bukankah cinta datang dengan sendirinya? Dan aku tidak bisa memilih akan berlabuh pada siapa.
“Iya, aku tahu, Nes,” jawabku lesu.
Kami berdua—aku dan Nessa duduk di kursi taman sekolah. Sejak tadi kami mengobrol banyak hal—dari yang penting sampai tidak. Nessa, gadis cantik yang juga mempunyai banyak fens, menceritakan hari-harinya selama libur yang selalu didatangi banyak cowok. Hingga akhirnya aku berani bercerita tentang perasaanku ini. Sebenarnya aku tidak ingin siapa pun tahu, tetapi memendamnya sendiri juga sangat menyesakkan.
Nessa adalah orang baik, dia mau berteman denganku tanpa memandang materi atau pun fisik. Bersyukur aku bisa mendapatkan beasiswa dan bertemu dengannya. Meski Nessa selalu mendapat ejekan karena berteman denganku, tetapi gadis itu tak pernah memedulikannya.
“Maaf, Kay. Aku ngomong begitu bukan karena apa. Hanya saja, aku tidak ingin kamu berurusan dengan pengagum setia Gardan.” Lagi-lagi aku hanya mengangguk.
Memang tak ada yang salah dengan ucapan Nessa. Semua orang tahu, bahwa cintaku ini salah alamat.
“Makasih, ya, sudah mau menjadi temanku,” lirihku. Tetap berusaha tersenyum.
“Iya, sama-sama. Entah sudah berapa kali kamu terus mengucap terima kasih. Ingat, Kay, aku tidak pernah memandang kamu rendah. Pertemanan ini terjalin, karena aku dan kamu memang sudah ditakdirkan bersama,” ucapnya.
Dengan berani aku memeluknya, Nessa juga membalas pelukanku. Aku sangat ingin menangis di pelukan Nessa, tetapi harus kutahan karena tak ingin menjadi pusat perhatian.
“Yuk, masuk ke kelas. Bel udah bunyi,” ajak Nessa, aku segera mengangguk patuh.
Kami berjalan beriringan, sesekali menebar senyum satu sama lain. Tidak peduli dengan tatapan-tatapan merendahkan dari sekitar, anggap saja dunia milik kami berdua.
**
Jam mata pelajaran biologi memang tak pernah bisa membuatku fokus, meski sudah berusaha untuk mengerti apa yang guru di depan jelaskan. Aku tetap bingung, dan malah sibuk dengan pulpen dan kertas di meja.
Jika sudah begini, apa lagi yang akan aku lakukan kecuali mencoret-coret kertas. Bait-bait puisi tertulis di sana, menghilangkan pendengaran tentang pelajaran. Aku sibuk dengan duniaku sendiri.
Tanpa aku sadar, jemariku menuliskan kata, yang aku sendiri malu untuk mengakuinya. Bagaimana bisa aku menulis ini? Pasti akan menjadi bahan pembicaraan bila semua orang tahu. Tanpa menunggu lama-lama, aku segera meremas kertas itu, berniat untuk membuangnya. Namun, gerakanku kalah cepat dengan Renata. Gadis yang terkenal suka membully itu sudah mengambil kertas ditanganku dengan paksa.
“Waw! Kayaknya bakalan seru, nih,” ucapnya dengan sinis. Renata tersenyum remeh, lalu dia tertawa bersama temannya saat menunjukkan kertas milikku.
“Renata, kumohon kembalikan,” pintaku dengan memelas.
“Apa? Kembalikan? Mimpi! Dasar gadis cupu dan miskin yang tak tahu diri!”
Kepalaku tertunduk, jemariku saling meremas dengan rasa takut yang begitu menggebu. Renata, dia melemparkan remasan kertas tadi ke arah meja guru. Dan dapat kupastikan, bahwa aktivitas itu menjadi pusat perhatian.
“I love you, Gardan?” Tubuhku semakin menegang dikala mendengar suara Buk Amarta.
“Milik siapa ini?” tanya Buk Amarta. Sontak aku mengangkat kepala, menatap dengan sendu.
“Kayla, Buk! Tadi dia yang melemparkan ke depan. Dih, dasar cewek gatelan!” kata Renata.
“Jadi ini kerjaan kamu, Kay?”
Mulutku keluh, tak mampu untuk mengeluarkan suara. Air mata ini rasanya sudah ingin menetes, bersamaan dengan ketakutan yang semakin menjadi.
“Astaga! Bisa-bisanya kamu menulis ini,” tandas Buk Amarta.
“Huuuu!” Seisi kelas menatapku dengan merendahkan. Lagi-lagi aku hanya bisa menunduk, dengan bulir bening yang sudah mendobrak keras sudut mataku.
Meski Buk Amarta tidak marah, tetap saja aku malu. Apalagi tadi kulihat Gardan menatap ke arahku. Namun, pria itu tetap terlihat tidak peduli.
Cibiran-cibiran dari teman sekelas masih terdengar, meski samar-samar. Aku berusaha menulikan pendengaran dan fokus ke depan, berharap bel pulang segera berbunyi. Agar aku bisa segera pergi dari tempat ini.
Doaku terkabul, bel pulang berbunyi. Semua orang yang ada di dalam kelas, sibuk menyimpan peralatan tulis mereka. Lalu pergi satu persatu. Kini hanya tinggal aku, Nessa, dan Gardan saja. Rasanya aku sangat gugup, karena ada Gardan di sini. Langkahku melambat saat Gardan juga melambatkan langkahnya di depan, tiba-tiba pria itu membalikkan badan.
Senyum manis itu mengembang. Gardan menatapku dengan senyuman, yang aku tak tahu apa maksud pria ini. Tiba-tiba saja dia berubah. Aku berusaha untuk pergi, menyusul Nessa yang sudah lebih dulu keluar dari kelas dan mungkin saja sudah berjalan jauh.
“Makasih,” ucap Gardan tanpa melunturkan senyum manisnya.
Aku yang semakin tidak mengerti dengan semua ini, hanya memandang dengan dahi berkerut.
“Untuk apa?” Dengan berani aku bertanya.
Bukannya menjawab, Gardan malah mencondongkan tubuhnya, hingga jarak antara wajahku dan wajahnya sangat dekat. Aku bisa melihat dengan jelas wajah tampan itu, tanpa cela apa pun. Namun, aku langsung tersadar dan hendak menjauhkan diri. Sayangnya, tanganku lebih dulu ditahan oleh Gardan.
Dia semakin mendekatkan wajahnya, menatapku dengan lama. Remasan dari tangannya mampu menghentikan detak jantungku untuk beberapa detik.
“I love you too, Kayla Amirla.”