Ikbal adalah seorang wartawan pada salah satu stasiun televisi. Sebagai wartawan baru, ia sering dipindah tugaskan oleh pimpinannya. Kali ini dia ditugaskan untuk mencari berita di daerah Jawa tengah.
Hari masih pagi. Dia berniat untuk jalan-jalan disekitar pantai. Tidak lupa kamera selalu ia kalungkan di lehernya. Terlihat aktifitas para nelayan yg pulang membawa ikan hasil tangkapannya. Iapun mengabadikan moment tersebut.
Hari sudah siang. Ikbal bermaksud mencari tempat lain untuk dijadikan bahan berita. Namun tiba-tiba banjir rob datang. Dia mengamankan kendaraannya terlebih dahulu kemudian melakukan beberapa wawancara dan membuat beritanya. Setelah dirasa cukup kemudian dia mengirimkan berita dalam bentuk vidio tersebut untuk diedit dan kemudian ditayangkan.
Ikbal membantu mengevakuasi para warga sampai sore, kemudian berniat kembali ketempat tinggalnya. Namun karena banjir tak kunjung surut dan kendaraannya tidak bisa menyala, akhirnya dia memutuskan untuk ketempat pengungsian. "Mas.. kendaraanya mati ya..?" Sapa seorang wanita kepada ikbal. "Ya mbak.." jawab Ikbal "Mas bukan orang asli sini..? Daripada mas capek nuntun kendaraanya bagaimana kalau mas tinggal disini saja." tawar wanita itu. "Saya memang pendatang mbak.. kebetulan saya wartawan yg ditugaskan didaerah sini."
"Oo begitu.. ya sudah mas motornya diparkir disini saja. Kita kelantai atas.."
"Makasih mbak".
Malam telah tiba. Hujan mengucur begitu derasnya. Listrik yg dipadamkan membuat rumah itu gelap gulita. Hanya ada sinar lilin yg menerangi mereka. Dor.. terdengar suara petir yg menyambar membuat wanita itu menjerit.. angin yg bertiup sangat kencang memadamkan lilin yg menjadi penerang satu-satunya. "mbak.. mbak tidak apa-apa?" Tanya Ikbal.. "Saya takut mas.. semenjak suami saya meninggal karena disambar petir. Saya jadi trauma" jawab wanita itu dg menahan tangisnya. Baru saja Ikbal menghidupkan senter dari HPnya namun tiba-tiba dor.. suara petir yg jauh lebih keras menyambar dan membuat HP Ikbal mati seketika. "Sial.. kenapa aku bisa terjebak disuasana kyk gini sih" umpat Ikbal dalam hati. Suara petir yg terus menggelegar membuat wanita itu menangis. Ikbal mencoba memeluknya untuk menenangkan. "Tenang mbak.. ada saya disini.. saya akan menjaga mbak"
"Bisakah mas menemani saya tidur.. saya takut tidur dalam gelap sendirian mas.." pinta wanita itu yg diiyakan oleh ikbal. Merekapun tidur dg berpelukan. Namun entah apa yg terjadi, ditengah malam wanita itu mengigau dan mengeratkan pelukannya. Karena terbawa suasana Ikbal justru tergoda dan memanfaatkan wanita itu. Entah sadar atau tidak mereka telah melakukan hal yg tak seharusnya dilakukan. Mereka berdua terbuai nikmat sesaat dalam gelapnya malam.
Pagi telah tiba. Ikbal teringat jadwal rapat redaksinya. Diapun bergegas bangun dan segera membersihkan diri tanpa membangunkan wanita tersebut. Dg tergesa-gesa dia turun kelantai 1 untuk melihat keadaan banjir. Dan ternyata air sudah surut. Tanpa berpamitan atau ucapan terima kasih dia meninggalkan wanita itu begitu saja.