Sepuluh tahun berpacaran berusaha setia. Namun akhirnya ketika dia berhasil menyelesaikan pendidikan, Dan mendapat posisi yang lebih tinggi dalam pekerjaan. Aku duduk di meja ini memandangnya tersenyum menyambut tamu.
Temanku mengelus punggungku, menyuruhku bersabar. Aku bangun dan melangkahkan kaki berdiri menaiki panggung bersalaman dengan sang pengantin. Ayah dan Ibunya sebenarnya keberatan dengan sikap anaknya. Tapi apa mau dikata anaknya sudah menentukan pilihan.
Ayahnya memeluku dan berbisik ditelingaku. "Bapak minta maaf tidak bisa memenuhi janji. Bapak harap nak Deni tidak marah dengan Bapak. Bapak yakin Tuhan punya jalan sendiri untukmu nak"
"Terimakasih Pak" Aku hanya bisa menghela napas.
Sedangkan Dela bahakan tidak perduli dengan perasaanku. Aku berusaha memantapkan hati menerima kenyataan.
Dua bulan kemudian apa yang kukerjakan selama ini akhirnya membuahkan hasil. Program yang aku buat dilirik oleh salah satu perusahan di Amerika. Aku segera resign dari kantorku saat ini sekaligus kantor tempat Dela bekerja.
Dela bisa masuk ke perusahaan saat ini karena Supervisor di devisinya adalah temanku. Namun setelah dia bekerja beberapa bulan justru tertarik dengan salah satu manager dan akhirnya meninggalkanku. Hingga semua orang di kantor menertawakanku dan menjulukiku penjaga jodoh orang.
Lima tahun kemudian Aku tidak sengaja bertemu dengan Dela yang sedang mengendong membawa anaknya. Dia tertegun melihatku penampilanku saat ini sangat berbeda dari yang dulu.
"Deni?" Dela
"Emm... Maaf siapa ya?" Aku mencoba mengingat
"Saya Dela Mas" Dela
"Oo.. saya ingat, gimana kabar bapak sama ibu Del?" Aku bertanya soal ibu dan ayahnya
"Ayah Baik, Ibu yang kurang sehat" Dela
"Lohh.. Ibu sakit apa?" aku penasaran
"Beberapa bulan lalu kena stroke. Jadi sekarang masih susah jalan" Dela menjelaskan.
"Nanti kapan-kapan aku kerumah jenguk Ibu. Sudah lama aku gak ketemu" aku benar-benar kangen dengan kebaikan Ayah dan Ibu Dela.
"kami sekarang sudah gak tinggal di rumah lama" Dela
"Loh.., sekarang tinggal dimana?" aku semakin penasaran selama lima tahun apa saja yang sudah terjadi.
"Sekarang kami tinggal di Kampung Biru" Dela
"Nanti aku minta alamat lengkapnya ya"
"Mas kesini sendiri?" Dela
"Ia, ini ada janji sama Ferdi mau ketemuan. Sudah lama aku gak ketemu dia. Pas dia nikah juga aku gak bisa datang. Makanya aku ngajak dia kesini sama keluarganya sekalian mau lihat istri sama anaknya"
"Ohh..., yasudah aku pulang dulu mas" Dela
"Loh.. kamu cuma sama anakmu. Bapaknya mana?"
"Kami sudah pisah dua tahun lalu" Dela
"Yang sabar ya. Semoga dapat jodoh yang lebih baik" Aku hanya bisa mendoakan. Namun ada raut wajah bersalah dan menyesal tampak di wajah Dela.
Tidak lama setelah Dela pergi Ferdi datang bersama anak dan istrinya. Aku bercanda beberapa saat dengan mereka sekaligus memberikan beberapa hadiah untuk anak mereka.
Minggu Aku ke alamat yang diberikan Dela. Aku menemui orang tua Dela dan saling bertukar cerita.
"Pak terimakasih, akhirnya setelah lama gak ketemu akhirnya bisa terobati juga kangenku.Oh ia, Saya kemari sekalian mau memberi undangan. Minggu depan saya mau menikah" Kataku
"Ohh ya.., Bapak senang sekali akhirnya kamu bisa ketemu jodoh yang sesuai. Dapat orang mana nak?" Ayah Dela
"Dia juga tinggal di kota ini, kami ketemu waktu masih di Amerika. Saya saat itu kerja, dia kuliah disana juga. Sekarang kebetulan dia kerja di kota ini juga" Aku menjelaskan.
"Selamat ya nak Deni, semoga langgeng sampai kakek nenek" Ayah Dela mendoakan.
"Saya pulang dulu Pak, Semoga Ibu cepat sembuh" Aku juga mendoakan.
Alasan aku tidak membenci ayah dan ibu Dela karena saat aku masih pacaran dulu mereka selalu menganggap aku seperti anak mereka sendiri. Bahkan saat Dela mutusin aku mereka sangat kecewa dan marah dengan Dela. Mereka bahkan mensupport aku dan mendoakan mendapat jodoh yang lebih baik dari anak mereka.
Acara pernikahanku berlangsung lancar, dari istriku baru aku ketahui ternyata istriku adalah GM di perusahaan Dela bekerja saat ini.
Suami Dela ditangkap polisi karena kasus pelecehan seksual terhadap bawahannya. Dela bercerai karena Suaminya banyak utang dan terjerat dengan banyak wanita. Dan suami Dela dulunya adalah pacar istriku. Saat istriku kuliah di Amerika pacarnya berselingkuh dan mereka putus. Hingga akhirnya kami dipertemukan di bawah langit dan nasib serupa.
Hampir setiap kali pulang kerja kami bertemu di hate bus yang sama. Dari awalnya kami jauh tak saling menyapa, hingga hujan membuat kami saling berbicara. Dan saat salju turun kami akhirnya menikmati kopi yang sama, di meja yang sama dan tersenyum bersama.
Kini aku tahu tidak ada yang namanya 'Jaga Jodoh Orang' yang ada mungkin dia pergi karena tuhan punya rencana yang lebih baik untuk kita. Hanya saja kita yang tak pernah mau mengerti dan selalu menyalahkan takdir.