Penyesalan memang selalu datang terakhir. Itu yang dirasakan Devano sekarang. Ia menyesal telah bersikap seperti itu kepda orang yang dicintai nya.
—Flashback—
"Kamu ngapain hah?! Ke kota lain gak bilang?! Terus nginep dirumah cowok? Bagus!", ucap Devano.
"Ini juga karena kamu!! Kamu selalu gak ngerti perasaan ku!, kamu selalu egois!", ucap seorang gadis yang menahan tangis.
"Pokok nya aku mau pulang sekarang!! Lepasin!!", ucap si gadis sambil mencoba berjalan ke arah pintu keluar namun pergelangan tangan nya kembali ditahan oleh Devano.
"Kau mau pergi? Tak akan kubiarkan kau pergi, Vania!", ucap Devano kepada Vania, kekasih nya.
"Sekarang kamu tidak boleh kemana mana dulu!", ucap Devano sambil menarik tangan Vania dan membuka salah satu pintu kamar kemudian mengunci Vania disana.
"DEVANOO!! BUKA PINTU NYA!! BUKAA!!", teriak Vania sambil menggedor gedor pintu nya.
Namun, Devano seakan akan tuli dengan teriakan itu. Ia lebih memilih pergi ke kamar nya dan merenung kan apa yang telah ia lakukan. Namun, seberapa banyak ia berfikir, pikiran nya tetap mengatakan bahwa yang ia lakukan benar, terkadang sisi lain dirinya mengatakan bahwa apa yang dilakukan nya itu terlalu berlebihan, namun yang lain nya mengatakan bahwa apa yang dilakukan nya benar.
Disisi lain, Vania yang sudah mulai lelah karena semenjak sampai di Kota D ia belum beristirahat barang semenit pun. Niat nya hanya ingin membuat Devano jera dan merubah sikap posesif nya tapi malah berakhir seperti ini?
Ia hanya pergi mengunjungi kakak sepupu nya di Kota D. Sekaligus untuk menenangkan diri sih. Karena sehari sebelum ia berangkat ke Kota D, kejadian tak menyenangkan terjadi, lagi. Dimana saat itu, sedang diadakan pesta ulang tahun salah satu teman nya, dan kebetulan Vania bertemu dengan senior nya, tentu saja mereka saling menyapa, hanya menyapa, tak lupa Vania mengucap kan selamat karena senior nya itu telah memenangkan Olimpiade Matematika dan sebagai penutup mereka bersalaman. Tapi tak lama kemudian, Devano datang dan nyaris saja menghajar senior itu kalau tidak ditahan oleh Vania. Namun korban nya harus Vania, ia menjadi bahan salah paham oleh Devano. Karena itu, ia memutuskan memberi sedikit pelajaran pada Devano agar ia jera tapi.. ah sudah lah.
Vania sekarang lelah namun, ia melihat ada jendela yang terpasang di kamar ini. Sejenak Vania mempunyai ide untuk kabur. Dan keberuntungan sekali lagi berpihak pada nya, uang dan hp nya masih ia simpan disaku celana nya.
Setelah berpikir semua resiko yang akan ia hadapi ia memutuskan untuk kabur. Meskipun ia harus berhadapan dengan satpam rumah Devano, tapi ia sudah memikirkan cara yang tepat. Bersyukur lah karena Vania memakai baju setelan celana, bukan dress maupun setelan rok jadi ia lebih nyaman bergerak.
Vania mulai keluar melewati jendela itu dan segera memulai aksinya. Ia sembunyi di semak semak dan menggerakan nya agar terdengar oleh satpam. Dan benar saja satpam itu bergegas menuju ketempat nya bersembunyi. Perlahan ia pindah ke semak disebelah nya sampai akhirnya ia dekat dengan pintu pagar nya yang kebetulan sedikit terbuka.
"Enjoy your punishment", ucap Vania kemudian segera berlari secepat mungkin kemana saja, toh sebentar lagi ini pagi.
Pagi ini, Devano sedang membuatkan susu vanilla kesukaan Vania. Ia berencana untuk meminta maaf akan perbuatan nya. Ia juga berencana untuk merubah sikap nya, sepertinya. Suara kicauan burung dan udara pagi yang segar, suasana yang mendukung. Semoga saja Vania mau memaafkan kesalahan nya yang kesekian kali.
Saat Devano membuka pintu kamar itu, alangkah terkejut nya jika Vania tidak ada di kamar itu. Panik mulai menjalar keseluruh tubuhnya. Ia menaruh susu vanilla itu di nakas dan segera pergi keluar.
"Hei kalian?! Dimana Vania?! Gadis yang kemarin kubawa", tanya Devano.
"Maaf tuan, saya tidak melihat seorang gadis keluar rumah ini", ucap si satpam.
"Apa?! Haishhh", ucap Devano yang kemudian segera kembali memasuki rumah nya dan menghubungi seorang informan agar dapat mencari keberadaan Vania.
3 bulan kemudian....
Vania masih saja belum ditemukan, tak ada yang tahu kini sekarang ia dimana, teman, saudara bahkan keluarga nya sendiri tidak tau hal itu. Devano sudah mulai frustasi, tapi ia masih yakin kalau Vania masih bisa ditemukan.
Kini ia benar benar sadar, kalau seandainya ia tak seposesif itu, seandainya ia tak mengekang Vania seperti itu, seaindai nya ia tak menyingkirkan sahabat sahabat dekat Vania, mungkin semua ini tak akan terjadi.
—Flashback off—
Kini ia sedang merenung di sebuah taman yang sepi. Ia masih yakin kalau Vania masih mau menemui nya. Tapi, lama kelamaan rasa yakin itu mulai menghilang.
Lamunan nya tersadar ketika ada seseorang yang menepuk bahunya yang membuat Devano menoleh dan terkejut.
"Va-van-vania?!", ucap Devano terkejut.
Vania hanya tersenyum, senyum yang sulit diartikan. "Enak hukuman nya?", ucap Vania.
"A-aku..."
"Kau mau aku kembali bersama mu?", tanya Vania.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂E N D🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂