Adik perempuanku menangis saat membaca salah satu bab novel di tangannya. Itu novel yang ku beli minggu lalu. Sebenarnya aku tidak begitu tertarik dengan cerita di dalamnya. Hanya karena booming dan katanya diangkat dari kisah nyata, aku tidak peduli. Tugasku hanya membaca dan mengomentari isi novel untuk ku tulis review di blogku.
"Udah, ah. Siniin novelnya. Ga usah nangis segala."
Segera ku rampas novel itu. Adikku berseru. "Ihh! Mas Angga jahat! Emang mas gak nangis pas bacanya?!"
"Gak. Cengeng amat."
Benar. Aku seorang pemuda berusia 21 tahun yang bekerja di salah satu kantor berita. Biasanya aku meliput tentang entertain. Dan karena Layangan Putus ini booming, aku harus ikut meriset.
"Dah ah, sana belajar. Biar pinter, biar engga ketipu sama cowok macem Aris ini."
Aku langsung meninggalkan adikku yang merengek soal novel yang ku bawa. Bodo amat, lah. Berisik juga kalau denger dia nangis.
Sampainya di kamar, aku melempar novel itu ke kasur. Begitu juga diriku yang menyusul. Aku buka novel tersebut dan mulai membacanya. Apalagi bagian ketika Kinan bertengkar dengan Aris. Aku tertawa tipis membacanya dan kembali melanjutkan. Hingga rasa kantuk tiba-tiba menyerang dan melelapkan kesadaranku.
.....
Aku ga tahu udah berapa lama aku tidur, tapi rasanya pagi ini badanku pegal. Kayak ada rasa sedih di dada juga. Aku ga ngerti, sih. Tapi kayak aneh aja, gitu. Mungkin kebawa baca novel semalam kali, ya?
Ku buka mataku yang sejak tadi enggan membuka diri, menatap langit kamar krem. Ah, udah siang ternyata. Untung ga ada kelas hari ini. Jadi bisa lebih santai, hehe. Tumben juga adikku ga dateng gedor pintu. Biasanya udah kayak gorilla.
Membalik badan ke samping, aku kembali menarik selimut. Selimut yang tebal dan wangi. Hahh, aku kembali memejamkan mata untuk hanyut ke dalam mimpi lagi.
Mmmm..
Tapi, tapi kok? Rasanya.. agak aneh ya.. kayaknya selimut kamarku ga setebel ini. Dan, langit kamarku bukan krem, deh.
Aku langsung bangun dan melihat sekitarku yang sangat amat asing. Furnitur yang mewah, yang tidak pernah aku miliki tiba-tiba di sekitarku. Tertata rapi dan tampak elegan. Tapi yang paling aneh. ini tuh bukan kamarku, lho! Loh- heh.. AKU DI MANA?!
ANJRIT.
Bergegas aku beranjak dari kasur dan lari ke jendela. Lalu aku pergi ke kamar mandi dalam. Dan ketika di dalam aku bisa melihat diriku di depan cermin. Tampak jelas raut yang pernah aku lihat di pantulan sana. Dengan perut yang menonjol.
Salah satu aktris yang pernah aku lihat.. mmm.. web series yang booming banget. Coba aku ingat dulu. Nan.. Nan? OH! KINAN LAYANGAN PUTUS.
LAH ANJIR. AKU JADI CEWE?! YANG BENER AJA?! 😭
Tapi ga bohong! Badanku jadi cewek! Pantulan itu adalah aku! Aku.. aku jadi Kinan! Dan.. artinya? Artinya aku masuk ke novel gitu?!
AAAAH- OKE. TENANG! KALEM! SLOOOW. HUh- oke, kalem.. jadi.. bentar-bentar. Aku sekarang jadi Kinan, trus nanti bakal ada Aris dan Lydia?! Dan sekarang tugasku itu jadi Kinan? Hell, no. Kenapa jadi Kinan, sih?
Aku melihat cermin. Dress warna dusty pink melekat di tubuhku. Aku kembali ingetin alur cerita di dalam novel dan web series. Kayaknya ini bagian Kinan tahu soal semua, deh. Ah, bener.
Kayaknya aku harus ke ruangan sana, deh. Kayaknya Aris lagi ga di rumah. Saatnya aku keliling rumah!! Mohon maap, ya, Kinan asli. Aku cuma ngikutin peran. Tapi aku jamin Aris bakal dapet hal yang lebih pantes diterima ketimbang berantem pas sama kamu 🙏
Melangkahkan diri ke ruang di mana nantinya Aris akan datang. Aku sudah siap di depan jendela. Dan benar saja. Tak lama Aris datang.
Aku menatapnya, diam. "Hei.. hei, sayang," panggil Aris padaku.
JYJYK. AKU INI COWOK.
Aris mendekatiku, mencoba memegang tanganku. "How are you?"
Tapi aku menolaknya. Bukan perkara untuk menjadi Kinan yang asli, TAPI AKU EMANG JIJIK. KENAPA JADI CEWEK GITU LOH.
"Kenapa Cappadocia?"
"What?"
"Aku tanya. Kenapa Cappadocia?"
Rasanya pengen mukul wajah Aris yang sok ga tahu yang aku bilang. UDAHLAH BILANG AJA NAPA WOI. KESEL BAT AKUTU.
Aris terus memberikan penjelasan—atau tepatnya kebohongan yang lebih banyak lagi. Aku langsung melempar kertas berisi daftar penumpang pesawat. Lalu meraih kertas berisi daftar transfer rekening Aris ke Lydia.
"Lydia Danira selingkuhan yang kamu bawa ke Cappadocia, kan?!" suaraku meninggi, membuat Aris yang di depanku bingung.
Segera aku tarik kerah turtleneck yang ia pakai, menatapnya tajam. "It's not my dream, tapi emang brengsek lo yaa giniin Kinan yang lagi hamil, hah?!"
Sebuah tonjokan melayang di pipi Aris. Aku-aku berhasil meninjunya.
Dan bersamaan dengan terpentalnya Aris, cahaya terang muncul dari tubuhnya. Astaga- apa Aris meninggoy?!
"MMAAAASSS! BANGUN!!!"
Teriakan itu mengagetkanku. Aku terbelak, lalu menoleh ke arah adikku yang bersiap menerjang. Segera aku bangun, dan pusing langsung menghajar kepalaku yang baru saja sadar.
Lah.. aku balik ke kamar? Di mana Aris?
Aku memegang perut dan dadaku. Tidak ada gundukan daging?! Aku balik jadi diriku?
"Mas Angga ga jelas banget tidurnya sambil manggil Kinan. Kinan, Kinan. Makanya tuh kualat ngeremehin Kinan nangis gegara Aris. Noh, dicariin mama suruh anter ke pasar!"
Adikku menggerutu. Ia mengambil novel Layangan Putus yang ada di bawah tangan kananku dan langsung pergi keluar.
....?
Jadi, itu tadi cuma mimpi? Tapi, kok.. kayak nyata ya?
Belum sempat aku memproses lagi, adikku masuk dan melempar novel ke arahku.
"Mas! Kok alurnya beda?! Kok Kinan bringas banget mukulin Aris?! Mana cetakan aslinya?!"
"LAH! Mana aku tahu! Orang itu yang aku baca tadi malem, kok!" belaku langsung mengambil buku itu dan membuka beberapa halaman.
"Ga jelas si mas! Sini! Pasti mas sembunyiin biar aku ga baca, kan?" Adikku mulai menggeledah meja kerjaku. Sementara aku membaca bagian di mana Kinan dan Aris beradu mulut.
Benar. Ceritanya berubah. Berubah sama seperti yang aku lakukan kepada Aris sebelumnya. Kelanjutan ceritanya Kinan meninggalkan Aris yang babak belur dan ending..?
Lah.. kok jadi gini, sih?
"Dik, kayaknya ini gegara aku masuk novel, deh. Makanya berubah gini."
Terdengar konyol, dan memang konyol. Adikku menoleh dan mengernyitkan dahi. "Kebanyakan halu, lu. Butuh cuti apa gimana, mas?"
Aku bergeming dan hanya menatap novel di tanganku.
Ga jelas banget.
= ENDING =