Nguung... Ciit. Bunyi motor yang di gas sekencangnya dan derit ban motor beradu dengan jalanan aspal. Diikuti oleh teriakan uforia dari para penonton yang memberikan dukungan kepada sang juara.
Devan Wright duduk di motornya tak berkedip menatap ke lawannya. Motor baru yang dikalahkan oleh nya beberapa menit lalu.
Menunggu setoran hasil kesepakatan taruhan bersama mereka. Sedangkan lawannya hanya duduk di bangku motornya tak bergerak. Namun tangannya merogoh kantong dibelakangnya. Orang itu melempar amplop coklat ketanah dan memacu motornya pergi meninggalkan tempat itu.
"Anxxx tu anak mesti dikasi tau ! Kaga ada sopan ya !" Teriak Uno dan Eka langsung aja mengambil amplop itu dan menghitung uang nya.
Sedangkan Devan Wright mengejar motor gede pelaku pelempar amplop itu, meninggalkan mereka.
Pelakunya tidak menyadari jika diikuti oleh Devan Wright. Motor itu memasuki jalanan sepi dan berhenti di makam.
"Gila kenapa tu orang ke makam pagi-pagi buta ? Ini masih jam tiga !" Umpatnya dalam hati, Karena kepo ia masih setia mengikuti.
Orang itu berhenti di sebuah makam. Dan berjongkok di sana. Saat di buka helm itu. Devan Wright terperangah melihat nya. Seorang wanita cantik berjongkok di depan makam.
" Kak maaf. Aku belum bisa mengalahkan nya. Nyaris tadi hanya selisih dua ban, aku sudah menghilangkan tabungan kita. Maaf." Katanya lirih.
Setelah puas mengadu gadis itu berdiri dan meninggalkan tempat itu. Baru beberapa langkah ke motor nya langkah kaki terhenti. Melihat ada motor lain di dekatnya ia parkir.
"Kenapa kau tak bilang saja jika kakak mu sudah meninggal dunia. Kenapa juga kau harus nyamar." Sebuah suara berasal dari belakangnya Nathania.
"Untuk apa ? Toh di matamu hanya otak kosong ! Mana ngerti tentang itu !" Jawabnya dingin dengan ekspresi wajah sinis.
"Aku menerima alasan yang logis !" Jawab Devan tak terima di remeh kan.
"Benarkah ? Bukannya kau hanya menganggap dirimu yang lebih baik dari lainnya ?" Cibir Nathania.
"Aku tak seperti itu !" Sanggah nya.
"Lalu bagaimana dengan menekan dan merendahkan martabat orang lain. Kau pikir kau yang lebih hebat ! Kau pembunuh !" Teriaknya lantang.
"Bukan nyatanya kau tak peduli urusan orang lain. Bagimu keputusan mu yang solid. Dan lainnya tak kau hiraukan !"
"Kau lupa sudah menghajarnya hingga berakhir di IGD ? Dan meninggalkan dia dipinggir jalan dalam sekarat !" Teriaknya lantang.
"Ambil dan bacalah ! Katakan padaku jika kau tak lakukan itu !" Diambilnya buku kecil di tubuhnya, mirip buku harian. Yang dilemparkan ke muka Devan Wright.
Gadis itu langsung melesat naik motor nya dan pergi dari sana.
Devan Wright hanya terdiam terpaku menatap kepergian nya. Lelaki itu mengira jika dia bertarung dengan Nathan Sykes, nyatanya hari ini baru dia tahu lelaki itu sudah meninggal dunia. Dan ia tak tahu alasannya sang adik kembarnya membencinya. Dan di luar ekspektasi ternyata gadis lembut dan cantik itu dapat mengendalikan moge dengan lihainya.
Skill nya hampir menyamai nya hanya selisih beberapa langkah saja. Lelaki itu mengerti Kenapa Nathania membencinya.
Teman-temannya sudah keterlaluan sekali dan ia hanya mengacuhkan semua itu. Dan menyebabkan pemicu perundungan yang berkepanjangan dan berakhir dengan kematiannya.
Devan Wright memegang erat-erat buku harian itu. Benar tuduhan itu ia monster dan penyebab kematian mantan sahabatnya itu, hanya keegoisannya sendiri maka bencana ini terjadi. Nasibnya masih beruntung karena ada pesan di akhir kalimat itu yang tertulis :
APAPUN YANG TERJADI SUDAH TERJADI JANGAN PERNAH KAU TANGISI DAN RELAKAN DENGAN IKHLAS KARENA DENGAN IKHLAS KITA AKAN MENJADI LEBIH BAIK LAGI DARI ORANG YANG SUDAH MENYAKITI HATI KITA.