Terdampar di pulau terpencil
Aku duduk. Menunggu dengan gelisah. Jantungku berdebar kencang. Dan itu sangat mengganggu sekali.
Lima menit lagi pesawat yang aku tumpangi lepas landas. Tapi anehnya, perasaanku mendadak tidak enak. Ini tidak seperti biasanya.
Well. Untuk sekarang ini aku ingin menghilang dari bumi. Dan tidak pernah ingin kembali lagi.
Menghilang dari kesakitan yang membuatku tidak berdaya. Jika saja Tuhan mengambil kehidupanku sekarang juga, aku rela. Dan lebih baik memang seperti itu.
Dari pada harus melihat perselingkuhan orang yang benar-benar berarti dalam hidupku.
Demi Tuhan!
Aku membencinya.
Aku bersumpah tidak ingin bertemu dengannya. Apalagi harus melihat wajah memuakkan itu.
Aku begitu idiot. Percaya pada wanita seperti dia. Dan kenapa penyesalan itu selalu datang di dalam waktu yang tidak tepat?
Disaat rasa sayang itu telah menyelubung memenuhi rongga dada.
Menyesal karena tidak percaya pada sahabatku. Malah percaya dengan mulut manis Diana.
Well. Namanya Diana Putri. Dia wanita iblis yang berkedok.
Ah ..., tapi sudahlah. Aku sudah tidak ingin memikirkannya lagi. Akan ku buang semua memory tentangnya di lautan lepas nanti.
Aku melihat arloji yang melingkari pergelangan tangan kiri. Pukul 18.10 pesawat ini sudah berada di atas ketinggian 35.000 kaki di atas laut.
Udara sangat dingin. Aku merapatkan jaket yang sebelumnya sudah melekat di tubuh.
Tujuanku adalah Bali. Sengaja pergi ke sana untuk menghilangkan semua rasa sakit ini.
"Tenanglah, Ram. Dunia ini luas. Wanita juga bukan hanya si Diana aja kan?!"
Itu adalah kalimat yang belakang ini sering aku dengar keluar dari mulut karibku. Arya.
Memang benar. Tapi mau bagaimana lagi, jika hati sudah menetapkan satu nama, rasanya sulit untuk menghapus jejaknya.
Ngomong-ngomong, tidak ada yang istimewa dariku. Aku hanya seorang pelayan di salah satu cafe di Jakarta. Kehidupanku juga biasa saja. Mungkin itu alasannya Diana melakukan pengkhianatan.
Selain seorang pelayan cafe, statusku masih mahasiswa Universitas Indonesia semester akhir. Jurusanku musik. Jangan tanya alasanku mengapa mengambil jurusan itu. Tentu saja karena aku menyukainya.
Terlepas dari ingatanku pada Diana. Lalu, kuambil buku kecil dari saku jaket. Dibuka olehku buku kecil itu sebelum tinta hitam menggores di atasnya.
Aku terhanyut oleh kata-kata puitis yang ku tulis sendiri. Lantas, kedua sudut bibirku tertarik untuk senyum. Membayangkan jika kata-kata puitis itu dibentuk menjadi satu melodi yang indah.
Terlepas dari khayalanku, getaran-getaran kecil di kursiku membuatku kaget. Disusul oleh suara pramugari yang menginformasikan untuk para penumpang tetap tenang.
Alih-alih yang aku rasakan getaran itu semakin kencang. Tubuhku hampir terombang-ambing. Sampai pula saling bertubrukan dengan penumpang yang duduk di sampingku.
Sampai kemudian lampu pesawat padam. Lampu darurat auto menyala. Bukan hanya aku saja yang panik. Suara jeritan di dalam pesawat pun menjadi musik yang mengerikan.
Aku terus merapalkan do'a di saat rasanya tubuhku seperti jungkir balik. Kepalaku terbentur pada benda-benda di sekitar.
Saat itu, aku sudah tidak mengharapkan kehidupan. Mungkin ketika aku tadi menginginkan tidak ingin ada di bumi, sekarang Tuhan malah mengabulkannya.
Kepasrahan saja yang harus aku tanamkan dalam sanubari. Lalu kupejamkan mata. Dan saat itu kesadaranku mulai hilang.
Aku mungkin akan mati.
Itu yang ada di dalam pikiranku saat ini.
**
Aku berusaha membuka kelopak mata meski itu rasanya berat sekali. Kepalaku sakit. Dingin menyelimuti tubuhku yang remuk.
Aku memaksakan diri, berusaha agar kelopak mataku terbuka. Lantas, kubangkitkan tubuh yang tergeletak di atas pasir.
Berusaha kuambil kesadaran. Lantas aku duduk sambil menekuk kedua kaki. Juga kedua tangan yang memijat pelipis. Sedangkan mataku kembali terpejam. Mengingat lagi kejadian beberapa waktu lalu.
Sial.
Kecelakaan itu yang membawaku sekarang terdampar di ...
"Astaga," gumamku hampir tidak bersuara. Saking kagetnya. Seketika itu pula kelopak mataku terbuka lebar.
Pandanganku mengedar dengan posisi yang masih duduk. Tidak ada apa-apa di sini, selain hanya lautan luas yang kulihat sejauh mata memandang. Juga langit yang sedikit warna oranye keemasan.
Aku menatap arlojiku. Pukul lima lebih sepuluh. Dan mungkin ini sudah pagi. Jadi semalaman aku tidak sadarkan diri.
"Oh shit!" Aku mengumpat kasar sambil melemparkan pasir yang sebelumnya sudah kugenggam.
Jika seperti ini, apa yang harus aku lakukan?
Aku mencoba berdiri meski sulit. Mengedarkan pandangan sambil berjalan. Itu pun tertatih. Karena tungkai satu kakiku sakit. Demi mencari seseorang yang bisa membantuku keluar dari pulau yang aku sendiri tidak tahu pulau apa ini.
"Woooyyyyy ... apa ada orang?" Aku berteriak dengan kedua tangan berada di sisi mulut. Berharap ada yang menjawab.
Bodoh memang. Mana ada orang di pulau kecil seperti ini. Aku berteriak sekali lagi. Tapi malah tenggorokanku yang sakit.
"Ukhuk ukhuk ..."
Sial.
Langit sudah mulai terang. Kicauan burung menjadi satu-satunya suara yang kudengar. Aku sudah lelah dengan berjalan yang seperti tidak berujung.
Aku duduk kembali di atas pasir sambil membuka jaket yang sudah tak berbentuk. Kotor dan bau.
Kuhembuskan nafas kasar. Membanting jaket ke pasir kemudian mengunci kedua kaki yang menekuk dengan kedua tangan.
Well. Aku baru ingat jika ada ponsel yang ku simpan di saku jaket yang sudah kubanting tadi. Semoga masih bisa berfungsi dan menyelamatkan dari tempat yang indah ini.
Segera ku ambil lagi jaket itu. Merogoh setiap saku dan kutemukan benda canggih yang malah mati.
Mencoba menyalakan ponsel itu. Menepuk-nepuknya pula. Tapi tetap saja tidak menyala.
Oh double sial.
Lantas, bagaimana caranya aku keluar dari sini?
Sambil terus memikirkan cara, aku menyipitkan mata. Keningku sampai mengerut karena melihat sesuatu di sisi pantai yang bergerak karena ombak menghampiri sesuatu yang kulihat itu.
Karena penasaran, dengan berjalan pelan aku menghampiri. Saat sampai, aku kaget bukan main.
Ternyata itu manusia. Yang aku duga itu adalah seorang perempuan. Karena rambutnya panjang.
Ya aku hanya menduga saja. Sebab tubuhnya tengkurap.
Lalu, aku berjongkok untuk kemudian membalikan tubuhnya.
Rambutnya yang menghalangi wajah itu aku singkirkan dengan lembut.
Dahiku mengerut lagi. Setelah melihat wajahnya, sepertinya aku mengenal dia.
Tapi siapa?
Wanita itu pingsan. "Hey bangun!" Aku menepuk-nepuk pipinya pelan. Tapi tak kunjung wanita itu membuka mata.
Setelah beberapa kali dan beberapa cara untuk membangunkannya, wanita itu tak kunjung juga membuka kelopak mata.
Dengan ragu dan perasaan was-was, aku memberanikan diri menekan dadanya.
Demi apa. Ini bukan seperti drama yang sering ditonton oleh Arya. Ini adalah satu momen yang membuat perasaanku campur aduk.
Well. Ini bukan saatnya untuk berfikiran kotor atau semacamnya. Aku harus menolongnya. Ini keadaan darurat.
Tanpa pikir panjang lagi, aku merendahkan wajah. Dengan tangan gemetar, kucapit hidung lalu kubuka mulut wanita itu sedikit.
Demi apa pun itu. Tolong! Aku memberikan nafas buatan pada wanita yang tidak kukenal.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
"Ukhuk ... ukhuk ... ukhuk." Dia terbatuk sambil mengeluarkan air dari mulut serta hidung. Kepala wanita itu menjauh dari pasir untuk kemudian duduk.
Barulah saat itu aku bernafas lega. Sambil melempar tubuhku ke belakang dengan kedua tangan menopang di atas pasir samping tubuh.
Dadaku naik turun seiring nafas yang keluar dari mulut. Sampai pula aku mendongakkan wajah menatap langit yang sudah sepenuhnya terang. Cerah. Indah.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanyaku disela nafas yang masih berantakan.
"Lo siapa?" Dia bertanya setelah mengangkat kepala. Menatap ke arahku dengan alis yang menukik. Dahinya ikut mengerut. Nampaknya dia kebingungan. Sama sepertiku.
"Aku...."
"Lo mau macem-macem ya sama gue?"
Belum juga aku menjawab untuk memberinya penjelasan. Tubuhku sudah didorong hingga jatuh terduduk oleh kedua tangan wanita itu.
Dia mengedarkan pandangan ke segala arah. "Dimana gue?" Lalu tubuhnya bangkit sambil memegang kepalanya.
Aku menduga, bahwa dia juga korban kecelakaan pesawat yang sama denganku.
"Apa kamu korban kecelakaan pesawat yang semalam?" Tanyaku hati-hati. Takut salah juga kan.
Barulah atensinya kembali padaku.
"Lo juga korban?"
Aku menganggukkan kepala. "Hem."
"Oh shit. Sekarang kita ada dimana?"
"Aku juga tidak tahu. Tapi sepertinya ini pulau kecil. Tadi aku mencari-cari, sepertinya tidak ada yang menduduki pulau ini," jelasku secara pelan.
"Oh Tuhan." Dia nampak menyugar rambut panjangnya. "Terus gimana cara kita keluar dari sini?" Lalu bertanya padaku dengan wajah ketakutan. Hampir saja menangis.
"Ponselmu ada, kan?" Aku bertanya. Berharap wanita yang tidak kuketahui namanya itu menjawab ya.
Aku melihat dia yang merogoh celana jeans panjang yang basah dan kotor. Banyak pasir yang menempel di jeans wanita itu. Setelahnya, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku. Dan itu ponsel.
Aku memerhatikan dia yang menekan tombol. Sepertinya berusaha menghidupkan benda canggihnya.
"Hp gue mati. Gak bisa nyala," keluhnya menatapku putus asa.
Kedua bahuku merosot. Dengan perasaan campur aduk aku menyugar rambutku yang lepek dan lengket.
Bagaimana jika sudah seperti ini? Apa aku akan terdampar selamanya di pulau yang tidak aku ketahui ini selamanya?
Bersama seorang wanita?
Aku menoleh padanya yang sedang berusaha mencoba menghidupkan ponsel. Sial. Dia cantik.
"Oh ... Ya Tuhan. Gue gak mau ada di sini." Dia merutuk sambil menepuk-nepuk ponsel.
Dan aku hanya diam saja memerhatikan.
Toh, buat apa lagi. Semuanya terasa sia-sia. Aku duduk sambil kepalaku terus berputar memikirkan cara demi bisa keluar.
Aku duduk kemudian di atas pasir sambil memandang lautan lepas yang ternyata indah di hadapanku ini. Angin kencang menerbangkan rambutku yang lepek. Suara ombak dan burung saling berlomba seakan ingin menunjukan siapa yang lebih merdu.
Sampai fokusku memandang ombak teralihkan karena mendengar suara Isak tangis.
Aku menoleh padanya yang masih berdiri di dekatku. Kepalaku sedikit mendongak. Kemudian decakan malas keluar begitu saja dari bibirku.
"Kita tidak akan mati hanya terdampar di sini? Udah deh jangan cengeng!" Sungguh. Aku bukannya menenangkan. Malah bersikap kurang ajar sebagai seorang pria.
"Gue gak cengeng, ya. Dan gue nangis juga bukan karena gue takut mati." Dia berteriak ke arahku. "Justru yang gue takutin karena gue cuma berdua doang sama Lo."
"Loh, emangnya aku hantu?"
"Lebih dari hantu malah."
Aku mengerutkan kening dengan jawabannya.
Udahlah terserah.
Lalu kami saling acuh. Aku dengan pikiranku. Dan dia ...
Eumh... Entahlah, aku tidak ingin tahu.
Sampai terlintas di benakku sesuatu. Lantas aku bangkit, berjalan ke arah jaket yang aku buang untuk kemudian mengambil outfit itu kembali.
Aku mencari-cari batang pohon atau apalah yang bisa aku gunakan untuk jadi tiang.
Dan ada. Lalu aku mengambil batang pohon kecil tapi panjang. Aku mulai mengikatkan lengan jaketku ke ujung batang pohon itu. Aku ingin membuat tanda. Berharap ada tim SAR yang melihatnya.
Aku yakin, pihak penerbangan pasti sudah menghubungi tim sar untuk mencari korban.
"Lo mau ngapain?" Dia bertanya.
Heuh. Aku pikir setelah tadi mengataiku hantu dia tidak akan bicara. Ternyata berani juga wanita itu.
"Mau buat tanda bahwa ada orang di pulau ini."
"Lo pikir siapa yang mau lewat?" Dia malah tertawa.
Aku tidak peduli.
"Hey, dari pada kamu ngetawain, mending bantuin!"
"Emangnya gue pembantu Lo? Heuh?"
Dasar sombong. Aku bergumam dalam hati. Dan selesai pula aku mengikat lengan jaketku. Kemudian, aku membawa batang pohon yang sudah menjadi tanda itu ke sisi pantai. Menancapkannya.
"Heh ..."
"Gue punya nama, ya. Panggil gue Sinta. Jangan hah heh hah heh!"
Aku tertawa. Akhirnya selesai juga menancapkan bendera buatanku itu.
"Nggak. Nama kamu lucu," ucapku sambil berjalan ke arahnya. Lalu mengulurkan tangan. "Aku Rama."
Dia tertawa.
Hah, apa ada yang lucu, ya?
Namun tak urung untuk menerima jabat tanganku.
"Rama, Sinta," ucapnya lagi setelah puas tertawa. "Lucu, ya. Udah lah kita tinggal main wayang aja!"
Oya. Aku baru sadar jika nama kami seperti cerita wayang. Pantas saja dia tertawa seperti itu.
Setelahnya kami duduk di atas pasir saling berdampingan. Mata kami sama-sama menatap luasnya lautan.
"Aku seperti pernah melihatmu. Kalau gak salah, mahasiswi Universitas Indonesia bukan sih?" Awalnya hanya menebak saja. Tapi sepertinya iya.
"Kau Lo tahu?" Dia menoleh padaku.
"Di kampus, siapa sih yang gak kenal kamu?!"
"Iya dong. Secara gue kan selebnya kampus." Dia tertawa lagi. Seperti yang aku pikirkan, jika Sinta memang semudah itu untuk akrab.
"Aku gak nyangka kamu orangnya asik," jujurku tiba-tiba.
"Emang Lo pikir gue kek gimana orangnya?" Nampak tangan Sinta membenarkan rambutnya yang tertiup angin. "Lo pasti mikir kalau gue sombong. Mentang-mentang gue populer di kampus. Iya kan?"
Aku hanya tersenyum. Tidak tahu juga harus menjawab apa. Takut salah masalahnya.
"Gue gak sesombong itu kali. Aslinya gue baik kok." Sinta tertawa lagi.
Tidak disangka kami mengobrol terlalu banyak. Sampai melupakan bahwa sebenarnya kami sedang terdampar. Melupakan lapar dan semacamnya.
Sampai kemudian aku mendengar suara di udara. Aku mendongak begitu juga dengan Sinta.
"Helikopter," ujar Sinta berdiri. Wajahnya memancarkan aura bahagia. Aku suka senyumnya.
Lalu kami melambaikan tangan. Berharap helikopter itu melihat bahwa ada kami di sini.