𝘼𝙆𝙐 𝙈𝙀𝙉𝘾𝙄𝙉𝙏𝘼𝙄 𝙎𝘼𝙉𝙏𝙍𝙄𝙒𝘼𝙏𝙄 𝙄𝙏𝙐, by KUTUB TIMUR
___o0o___
Siapapun tidak akan mengetahui takdir Allah kecuali dirinya. Dan juga tidak ada yang bisa tau datang nya perasaan kita terhadap orang lain. Begitulah diriku yang mencintai seorang santriwati yang bernama KILLA ALFAUSA ANWAR. Dia adalah wanita yang pemalu, bahkan banyak santriwati yang bilang bahwa Killa (sebutan untuk nya) perempuan yang baik hati, bahkan tidak segan-segan menolong seseorang ketika ia melihat seseorang sedang kesusahan. Itulah yang membuatku jatuh cinta terhadapnya. Ukhti... ZAKI ALFANSYAH AHMADIYAH jatuh cinta kepada mu...
___o0o___
Hari pertama liburan kupikir aku akan mendapatkan waktu untuk healing... Ternyata itu tidak sesuai ekspetasi karena diriku dipanggil oleh nyai untuk menemui nya.
"Assalamu'alaikum Ummi" salam ku ketika melihat beliau sedang menidurkan anaknya.
Gus Alfi dia adalah anak bungsu dari Ummi kulsum dan abah Wahab.
"Waalaikumsalam.. Sini nak! Ummi mau ngomongin sesuatu ke kamu" tutur Ummi Kulsum
Aku pun menuruti perkataan Ummi kulsum. Aku menghampirinya dengan gelisah, karena diriku takut dijadikan menantu olehnya. Siapa yang tidak takut dijodohkan? Kebanyakan orang yang dewasa di ndalem akan dijodohkan, bahkan ada yang dijodohkan dengan kyai. Ya Allah.. Aku selalu takut dengan hal ini.. Bahkan diriku selalu berdoa di setiap sujudku supaya diriku tidak bernasib sama halnya dengan teman-teman ku.
"Iya Ummi ada apa? Kenapa manggil Killa? " aku pun mengeluarkan seluruh pertanyaan yang sedaritadi kupendam saat menginjak rumah Nyai
"Ummi dengar suara kamu saat tilawah bagus banget" puji Ummi
"Gak terlalu bagus sih ummi.. Aku masih gak terlalu bisa nada yang lebih tinggi lagi. Emang kenapa ummi? " Aku pun bertanya-tanya mengapa Ummi menanyai hal ini.
"Gak ada apa-apa.. Ummi sebenarnya ingin kamu mewakilkan santriwati dari pondok pesantren kita untuk mengikuti lomba tilawah di pondok sebelah. Tapi ummi mau tanya dulu ke kamu. Kamu mau tidak jadi perwakilan dari pondok pesantren kita?" ummi pun menjelaskan alasan mengapa beliau memanggilku ke rumahnya
"Hm.. Kasih aku waktu ummi.. 3 hari aja deh" aku mengucapkannya dengan menunjuk angka tiga menggunakan jari tanganku
"Baiklah.. Ummi mau kamu ikut karena keinginan kamu sendiri, bukan karena paksaan ya... " akhir ummi
"Iya ummi.. Killa tinggal meyakinkan diri sendiri dulu.. Apakah Killa bisa mengikuti lomba ini" aku pun menjelaskan alasan ku meminta waktu untuk memikirkan masalah ini
"Assalamu'alaikum!! "
Di sela-sela percakapan ku dengan Ummi tiba-tiba terdengar suara bariton yang mengucapkan salam.
Aku dan ummi pun secara kompak menjawab salam itu.
"Waalaikumsalam.. Zaki gimana dengan urusan lombanya? "
Zaki diutus untuk mengurus masalah perwakilan perlombaan tilawah pondok kami minggu depan.
Zaki adalah anak sulung dari Ummi kulsum dan Abah Wahab. Ia dijuluki sebagai Pangeran pondok karena wajahnya yang tampan itu.
Zaki.. Laki-laki yang selalu ku idamkan untuk menjadi imam ku kelak
"Alhamdulillah lancar ummi.. Tinggal cari perwakilannya aja. Eh!! Ada ukhti Killa" ucapnya ketika sadar akan keberadaan ku
Aku hanya menyungging senyum sambil menurunkan pandangan ku.
Ingat Killa tidak boleh terlalu lama menatap laki-laki yang bukan mahramnya. Zina mata Killa.. Zina mata.. Astaghfirullah
"Nah soal perwakilan santriwati ummi merekomendasikan Killa, tapi ummi kasih waktu untuk Killa meyakinkan dirinya di perlombaan nanti, kalau di santriwan kan sudah. Kamu sendiri toh perwakilan nya dari santriwan" Tutur ummi panjang lebar
"Iya ummi.. Kalau dilihat-lihat banyak yang bilang suara nya ukhti bagus loh" ucapnya memujiku
"Tidak sebagus yang dikira akhi kok" aku membalas perkataan Gus Zaki
Aku dan Gus Zaki dulu adalah sahabat sejak kecil, hanya saja saat itu aku kurang paham soal agama, dan.. Dulu aku adalah wanita yang dikenal sebagai wanita tomboy.
Dan kami bertemu kembali di pondok, sungguh aku benar-benar malu mengingat kenangan dimana aku sering membuat onar.
Tapi.. Di pondok kami tetap bersahabat, tapi kami tetap tau batasan. Dan akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan embel-embel akhi-ukhti
"Tinggal dikembangkan lagi, kalau bisa dilatih terus suaranya. Tapi jangan terlalu berlebihan aja" tutur nya.
"Syukron atas bimbingan akhi" aku mengucapkan terimakasih terhadap Zaki dari bimbingan yg diberikan nya.
"Baiklah Killa kamu kembali lagi ke asrama mu" titah ummi
"Baik ummi" aku pun mengiyakannya karena ini memang sudah menjelang dzuhur
"(𝘠𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩... 𝘚𝘶𝘭𝘪𝘵 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢) " Zaki berbatin
__________
Malam hari aku sibuk untuk mengemas barang-barangku, karena aku akan balikan ke rumah. Aku benar-benar kangen Abi dan Umi dirumah, bahkan aku juga merindukan adik ku yang baru saja lahir.
"Killa kamu balikan besok ya? " tanya Syifa selaku teman sekamar ku
"Iya.. Insya Allah besok pukul 09.00 pagi aku berangkat fa" jawabku
"Yah... Aku lusa baru pulang, bakal kangen kamu ini mah" ucap Syifa dengan cemberut
"Habis bulan Ramadhan kita juga bakal ketemu lagi fa" tutur ku
"Walaupun gitu kan masih lama Killa Alfausa Anwar" ucap Syifa penuh tekanan.
Mungkin ia sedang kesal dengan ku saat ini.
"Yasudah.. Lagipula kita bisa videocall kan.. Jangan lupa dunia semakin canggih fa" aku terkekeh melihat wajah menggemaskan milik teman ku ini
"Yaudah setiap hari kita kita videocall-an ya? "
"Iya-iya" aku pun hanya pasrah saja.
Lagipula Syifa mengatakannya seakan-akan ditinggal oleh kekasih nya saja.
"Yaudah ayo tidur.. Aku udah ngantuk banget.. " aku pun bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu sebelum tidur
Sudah menjadi kebiasaan ku untuk mengambil air wudhu sebelum tidur, lagipula dengan begitu ketika kita tidur tidak akan diganggu setan.
Setelah selesai aku pun membaca doa sesudah mengambil air wudhu, aku pun mulai mengelap wajah ku yang basah akibat mengambil air wudhu. Ketika aku selesai aku dikejutkan dengan Syifa yang tiba-tiba berada didepan ku
"AllahuAkbar!! " kejut ku
Aku pun mengelus dada, aku terkejut seakan jantung ku ingin copot.
"Astaghfirullah Syifa... Kamu ngagetin aja" aku menyentil dahi Syifa.
Bahkan dia hanya bisa menampilkan wajah tanpa dosa nya dengan cengiran yang ia lemparkan terhadap ku.
"Udah ayo tidur.. Besok aku harus bangun pagi"
"Ish.. Kok waktunya cepet sih!!! Kan masih pengen ngabisin waktu bareng kamu" keluh nya
"Oh ya aku dengar kamu dipilih jadi perwakilan kita untuk perlombaan tilawah ya? " tanya nya dengan antusias
Aku hanya mengangguk sambil merapikan tempat untuk tidur.
"Gimana Kil? Mau gak kamu jadi perwakilan pondok kita? " tanya nya kembali
"Aku bakal ke sini lagi untuk membicarakan hal ini setelah 3 hari"
"Lagipula rumah ku tidak jauh dari pesantren kan? "
"Kamu enak Kil.. Rumah mu dekat dengan pondok jadi ketemu terus sama sagan"
"Sagan? " aku bertanya kepadanya
"Iya Santri Ganteng"
"Ada-ada aja kamu fa" aku hanya bisa menggeleng melihat kelakuan teman ku satu ini
"Udah aku tidur duluan" aku pun berbaring mencari tempat yang paling nyaman untuk tertidur.
Dan juga aku tidak lupa untuk membaca doa sebelum tidur dan melakukan sunnah Rasullulah.
__________
Keesokan harinya aku dijemput oleh abi menggunakan sepeda motor. Aku telah berpamitan ke nyai dan kyai, dan tentunya... Aku juga berpamitan dengan Zaki.
Perjalanan ke rumah berjalan lancar dan aku pun sampai rumah dengan selamat.
Aku langsung memeluk umi yang sedang menunggu ku dirumah bersama Gina yang tertidur di gendongan Umi.
"Aduh Gina tambah gendut aja.. Pasti ASI mulu ya mi?
" Kamu benar nak.. Kalau sehari aja gak minum ASI pasti dianya rewel"
"Aduh sayang.. Jangan banyak tingkah ya? Kasihan umi nya. Kan jadi capek yang ngurus kamu"
"Tapi sekarang ada kamu, jadi Umi bisa santai" ucap Umi dengan watados ny
"Iya Umi ku tersayang, Umi bisa tenang walafiat menonton drama mu di televisi. Biar anakmu ini yang menjaga Gina"
"Alhamdulillah... Dapat istirahat juga aku"
"His.. Umi ini sama anak juga" cibir ku
"Ahahhaa.. Biar kamu belajar juga, lagipula kamu sudah mau lulus MA kan? Nanti kalau sudah nikah punya anak.. Jadi enak karena kamu sudah bisa rawat bayi"
"Hiss.. Jangan ngomongin pernikahan dulu.. Aku belum siap ninggalin Umi sama Abi" aku berkata demikian dengan wajah cemberut
"Yaudah kamu taru semua barang-barang mu di kamar. Terus istirahat" tutur Abi
"Iya Abi" aku pun menuruti perkataan Abi.
___o0o___
Sudah tiga hari... Aku pun menepati janji ku untuk menjawab pertanyaan Ummi Kulsum. Aku menyetujui untuk menjadi perwakilan santriwati dari Pondok ku.
Aku dan Zaki akhirnya melaksanakan lomba. Dan kami pulang dengan kemenangan...
Sudah memasuki ujian untuk perpisahan.. Aku terus sibuk belajar supaya aku bisa menjawab pertanyaan soal ujian kelak.
Dan usaha ku terbalas dengan mendapatkan nilai terbaik. Bahkan aku juga mendapatkan penghargaan sebagai santriwati berprestasi di tahun ini.
Aku berpelukan dengan teman-teman ku mengucapkan salam perpisahan. Bahkan tidak banyak juga yang mengucapkan selamat atas penghargaan yang aku Terima.
Sungguh aku benar-benar berat untuk meninggalkan pondok pesantren ku yang memiliki banyak kenangan.
Aku pun memutuskan untuk pulang dan membantu Umi menjaga toko. Umi memiliki toko baju, terkadang aku sering membantu umi untuk membuat baju pesanan.
Dan disaat minggu ku yang cerah ini, aku disuruh bersiap-siap oleh Umi. Entah mungkin karena ada acara dadakan karena outfit Umi terlihat rapi.
Akhirnya aku memutuskan untuk membersihkan diri, dan memilih baju yang sedikit menawan. Aku memakai make up natural saja.
Aku pun keluar kamar dengan dijemput Umi, aku penasaran apakah harus sampai dijemput seperti itu jika ingin ke acara?
Seketika aku mengerti ketika melihat Keluarga yang membawa lamaran untuk ku, aku benar-benar tergelonjak kaget sebab... Yang melamarku adalah Zaki
Aku pun ditanya apakah aku menerima lamaran tersebut. Aku pun menjawab...
"Saya Terima lamaran ini.. Dan juga saya yakin mas Zaki bisa membimbing saya ke depannya" jawaban ku singkat
Semua di sana spontan mengucapkan "Alhamdulillah" dengan jawaban ku.
Dan disana lah aku mengerti takdir Allah benar-benar indah. Bahkan cinta dalam diam yang selama ini aku rasakan ternyata berakhir dengan indah. Dan aku benar-benar terkejut bahwa mas Zaki mencintai jauh sebelum aku mencintainya.
Aku benar-benar bersyukur terhadap rahmat Allah yang begitu mulia ini.. Dan semoga kedepannya aku bisa menjalankan kewajiban ku sebagai istri. Inilah akhir dari kisah ku Mencintai dalam diam. Dan mungkin ini juga akhir dari kisah mas Zaki Aku mencintai santriwati itu. Sungguh akhir yang indah bagiku
TAMAT
MAAF JIKA ADA KESALAHAN SOAL AGAMA🙏🙏 KARENA ILMU AGAMA SAYA MASIH KURANG, JADI MOHON DIKOREKSI JIKA ADA KESALAHAN, DAN KALAU KALIMAT AKHI SAMA UKHTI NYA SALAH TOLONG DI KOMEN