Pada candi Muaro Jambi, tepatnya Di candi Kedaton, pada teras naik, ada prasasti berbahasa Jawa. Di candi ini, para pemimpin berkunjung. Ada yang untuk ritual, pada tempat lain ada yang di pakai untuk pendidikan. Candi nya terdiri dari candi Induk, candi perwara, serta Gapura masuk ke lokasi halaman candi. Dilindungi dengan parit yang cukup lebar. Candi ini menghadap utara.
Sepasang makara pada sisi tangga naik di bagian bawah belalai, di temukan dua baris bahasa Jawa dan aksara Jawa kuno. Pamursitiro Empu Kusumo, tempat mengheningkan cipta Empu Kusumo.
Makara satunya di timur, tulisan itu di belakang belalai. Bentuk langgam kwadrat. Yang berkembang di Kediri abad-11. Ciri hurufnya beda dengan pahatan. Pada aksara kwadrat ini menonjol. Yang masih dipakai pada jaman Majapahit. Seperti yang terdapat di Candi sukuh.
Kalau menilik huruf itu, sering di pakai pada era kerajaan Kediri. Jadi ada kemungkinan wilayah kekuasaan Jawa pada waktu itu menjangkau daerah Jambi juga.
Tapi jika melihat wilayah kekuasaan Panjalu yang waktu itu sebagian besar menjangkau bagian timur Indonesia, menurut buku Cu-Fan-Chi oleh Cou-Ju-Kua, serta buku Ling-wai-tai-ta, maka kemungkinan ini sedikit tipis. Karena ada kerajaan besar lain yang menguasainya yaitu San-fo-chi. Dan yang kemungkinan kekuasaannya justru sampai ke daerah tersebut terjadi di era Singosari atau Majapahit. Singasari di era ekspedisi Pamalayu. Dan Majapahit pada masa Hayam Wuruk dengan Patih Gajah Mada yang mampu menaklukkan tiga raja di Sumatera.
Maka, bisa jadi pembangunan bangunan itu, terjadi pada saat kerajaan Majapahit menguasai daerah tersebut. Jadi Empu Kusumo tersebut merupakan orang Jawa yang menguasai daerah tersebut. Mengingat demikian penting arti Candi Kedaton buat orang-orang Melayu pada masanya.
Empu tersebut sebuah gelar yang sudah ada sejak kerajaan Mataram dan saat itu bukan berarti pembuat senjata, layaknya pada masa sekarang, namun bisa jadi berarti para bangsawan dan ahli membuat bangunan. Contoh pu Lurawa, ahli membuat candi Sewu, Pu Sindok, raja di Medang.
Dalam sejarah Majapahit hanya Kusuma Wardani yang memakai kata Kusuma. Itu jauh setelah masa Kadiri. Juga merupakan nama seorang wanita. Walau empu juga bisa dipakai buat nama wanita. Seperti Pu Kbi, Permaisuri Sindok. Andai mengacu pada nama tersebut, mungkinkah dia merupakan penguasa daerah Sumatera, khususnya di tepian sungai Batanghari, sebelum memegang jabatan maharaja di Majapahit? Mengingat kekuasaan mereka juga sampai di daerah tersebut setelah mengalahkan tiga kerajaan besar di Sumatera.
Meskipun begitu, tidak yakin bahwa keseluruhan bangunan candi itu adalah buatan Empu Kusumo pada era setelah Kadiri. Bisa jadi kebanyakan merupakan buatan penduduk lokal yang dengan kemajuan teknologinya sudah mampu membuat bangunan indah dan megah di jamannya. Mengingat kerajaan Mo-lo-yeu yang di duga ada di Jambi sudah ada pada abad 7. Bahkan, seperti Sukmono, menduga kalau pusat kerajaan Sriwijaya dahulu ada di Jambi ini. Apalagi ada catatan bahwa Mo-lo-yeu menjadi Shih-li-fo-shih. Yang bisa jadi berarti bahwa kerajaan Melayu adalah pendahuluan dari kerajaan Sriwijaya. Karena banyak yang menduga bahwa nama Sriwijaya merupakan nama seseorang. Yang di maksud, tentu saja Dapunta Hyang Sri Jayanaga. Dapunta Hyang merupakan nama jabatan. Dan andai saja nama yang hanya tertulis di prasasti Kota Kapur itu merupakan kependekan dari Sri Wijaya Nagara, maka nama itu merupakan nama abiseka dari seorang tokoh yang bergelar Dapunta Hyang.
Bisa jadi juga pembangunan itu pada era Adityawarman yang pernah ke Jawa. Dimana dia mempunyai bawahan atau bahkan keluarga yang tinggal di candi itu. Mengingat agama yang di anut juga sama.
Dengan demikian bisa jadi bahwa Pu Kusumo adalah penguasa daerah tersebut yang menguasai tulisan era Kadiri serta membangun tempat peribadatan di antara bangunan-bangunan megah lainnya yang sudah ada pada waktu itu, dalam jumlah yang besar juga.
Referensi:
1. https.//youtu.be/BeE8a1WFG96k; Misteri J ke Candi Kedaton / Muaro Jambi; Guru Kito; 2022
2. Buku Sejarah Indonesia