[Terdampar di Pulau Terpencil Bersama Selebriti Cantik Setelah Kecelakaan Pesawat]
Joshua POV
"Mayday ... mayday ..."
Pesawat yang kutumpangi berguncang hebat. Pesawat lalu terjun bebas. Aku hanya ingat sesaat setelah pesawat mendarat, aku pingsan.
Ukh ... Kepalaku sakit sekali. Aku melihat sekitarku. Tubuh-tubuh tak bernyawa tergeletak di mana-mana. Apakah ada yang selamat selain aku?
Aku mencoba berdiri. Mencari orang yang masih hidup. Ada! Aku melihat pergerakan. Aku segera menuju ke orang itu.
Bukankah itu artis yang lagi naik daun? Yang follower di instagramnya 50 juta lebih.
"Kau tak pa pa?"
"Apa maksudmu aku nggak pa pa? Aku jelas-jelas kesakitan di sini!" ketus wanita itu.
Siapa namanya, ya? Aku lupa.
Aku membantu wanita itu untuk berdiri. Kondisinya juga tidak lebih baik dariku.
Perutku terasa lapar. Aku mencoba menuju ke bagian dapur pesawat. Melihat apakah ada sisa makanan di sana.
Untunglah ada beberapa camilan. Aku bisa mengisi perutku. Aku membawa beberapa bungkus untuk wanita itu.
Setelahnya aku mencari kayu bakar. Semua mayat harus segera dibakar. Jika tidak mereka akan berbau busuk dan jadi sumber penyakit.
Wanita itu hanya diam melihatku. Tak pernah membantuku.
Hei! Tak akan ada yang bisa melayanimu di sini.
"Bantu aku!" Aku tak bisa melakukannya sendirian.
"Aku takut kukuku patah." Wanita itu memperlihatkan kuku cantiknya yang penuh hiasan.
"Itu sudah tidak penting lagi. Kita harus segera mengkremasi semua mayat. Mereka akan segera membusuk. Kau mau mencium baunya?"
Wanita itu akhirnya mau bergerak.
Malam hampir tiba. Aku menemukan gua untuk kami tidur. Aku membawa beberapa selimut.
"Aku mau mandi. Aku kotor sekali."
"Jangan kau pakai air laut. Air bersih harus kita hemat untuk kita minum."
"Jadi, aku harus bagaimana?"
"Besok kita cari sama-sama."
Keesokkan harinya aku mencari air bersih. Untunglah kami menemukan sungai. Aku membasuh wajahku. Segarnya.
Begitulah kehidupan kami berdua. Sepertinya para penyelamat belum menemukan kami. Atau mungkin kami sudah dianggap meninggal oleh mereka.
"ULAR!" teriak wanita itu.
Aku segera berlari menuju ke tempatnya. Aku menusukkan tombak yang baru saja ku buat. Kena! Makan siang hari ini datang sendiri.
Aku membakar ular itu. Wanita itu merasa jijik. Tapi perut yang kosong harus diisi. Ia pun mau makan.
"Lumayan," gumam wanita itu.
Aku mengumpulkan daun-daun lebar untuk menjadi atap. Aku ingin membuat rumah sederhana dekat pantai. Siapa tahu ada yang melihat dan menolong kami.
Sore hari akhirnya rumah sederhana buatanku jadi. Malam ini kami tidur di dekat pantai.
Not Bad. Bisa melihat bintang di langit malam ini.
Aku melihat wanita itu. "Siapa namamu?"
"Kau sungguh-sungguh tak tahu namaku? Aku itu terkenal, lho."
"Kalau aku tahu, buat apa aku bertanya."
"Aku Hana. Kamu?"
"Joshua."
Begitulah kami menghabiskan hari bersama. Witing tresno jalaran soko kulino. Tumbuh rasa saat sering melihatnya. Aku mulai menyukainya. Aku juga bisa melihat ia juga menyukaiku.
Jadi, seperti inilah rasanya jatuh cinta. Dunia serasa milik berdua. Tapi kami saat ini pulau ini memang milik kami berdua.